book review:resensi:Alam Pikiran Islam Modern di India dan Pakistan

Oleh Huda Nuralawiyah

Judul buku : Alam Pikiran Islam Modern di India dan Pakistan

Penulis : H. A Mukti Ali

Tahun terbit : 1993

Penerbit  : Mizan, Bandung

Jumlah halaman : 278 halaman

Cetakan 1,

Isi Buku : Pembuka Kata

Kata Pengantar

I.        Sayyid Ahmad Khan

II.        Hali

III.        Mohsinul Mulk

IV.        Viqarul Mulk

V.        Syibli

VI.        Sayid Amir Ali

VII.        Abul Kalam Azad

VIII.        Maulana Muhammad Ali

IX.        Iqbal

X.        Muhammad Ali Jinnah

XI.        Liaquat Ali Khan

XII.        Maulana Sayid Abul A’la Maududi

Bibliografi

Pada abad kesembilanbelas, umat Islam India dapat dikatakan masih hidup dengan tradisi kebesaran dan kemegahan masa lalu, tetapi pada abad keduapuluh, sebagian dari rakyat Muslim India telah bangkit dengan bisi yang campur aduk antara  kebesaran masa lalu yang telah hilang dan impian kebesaran yang akan datang.

Bagaimana perkembangan pemikiran itu terjadi? Bagaimana  Islam yang merupakan agama masyarakat India abad pertengahan itu menjadi agama yang dipeluk oleh orang-orang abad kesembilanbelas dan keduapuluh? Jalan apa yang dilalui oleh orang-orang Muslim India untuk memperoleh perubahan itu? Serta apa ide dan kategori pemikirannya, aspirasi dan frustasi dari Muslim modern di India dan Pakistan itu? Hal-hal yang semacam itu dicoba dijawab oleh penulis dalam buku ini.

Buku Alam Pikiran Islam Modern di India dan Pakistan merupakan studi tentang pemikiran pemimpin-pemimpin Muslim dan Pakistan yang sedang melintasi pergolakan yang sangat hebat- selama kurang lebih satu abad- yaitu sejak permulaan abad kesembilan belas hingga pertengahan abad kedua puluh.

Pembahasan ini dibagi menjadi dua bagian :

Bagian pertama,” Kata Pengantar”, berisi upaya penulisnya memberikan interpretasi mengenai proses perkembangan para pemikir Muslim India dan Pakistan sejak Sir Sayid Khan hingga Abul A’la Maududi .

Adapun bagian kedua berisi biografi dan corak pemikiran para tokoh Muslim India-Pakistan, yakni Sayid Ahmad Khan, Hali, Mohsinul-Mulk, Viqarul-Mulk, Syibli, Sayid Amir Ali, Abul Kalam Azad, Maulana Muhammad Ali, Muhammad Iqbal, Muhammad Muhammad Ali Jinnah, Liaquat Ali Khan, dan Maulana Sayid Abul A’la Maududi.

Lebih jelas lagi  buku inii membahas tentang pemikiran-pemikiran pembaruan yang dilancarkan oleh Sir Sayid Ahmad Khan (1817-1898) hingga Abul A’la Maududi (1903-1983). Pemikiran-pemikiran yang timbul setelah Maududi hingga sekarang, tidak disinggung dalam buku ini.

Penulis tidak mencantumkan pikiran-pikiran para pemikir Muslim Indian dan Pakistan setelah Maududi, bukan karena tidak berpengaruh. Antaralain adalah pikiran-pikiran yang dilancarkan oleh para pemikir pakistan dan usaha mereka untuk menerapkan Islam dalam kehidupan kenegaraan yang mereka bentuk dan reaksi-reaksi terhadapnya. Juga pikiran-pikiran para pemikir Muslim India yang hidup dalam negara sekular.

Sayyid Ahmad Khan adalah seorang Wakil Hakim yang tumbuh dan besar di India. Dia ahli dalam bidang sejarah.. Pemikiran-pemikirannya murni sebagai seorang adat India muslim, tidak terpengaruh sama sekali oleh pemikir Barat karena ia tidak mengerti bahasa Inggris maupun bahasa barat lainnya.

Beliau menulis buku yang berisi kebijaksanaan politik seorang Muslim yang luas pengetahuannya, meski tidak kenal dengan pemikiran-pemikiran politik modern, tetapi merupakan pewaris yang sebenarnya dari tradisi kenegarawanan Mughal. Ia menuliskan mengenai ketimpangan mengenai tidak adanya orang India yang mewakili pandangan India pada tingkat atas badan-badan yang memerintah negeri India. Selain itu, ia menyinggung pula mengenai misi-misi Kristen yang didanai oleh para pejabat.

Pemberontakan (Mutiny) bagi menurut Penulis menyangkut pada duahal pada diri pribadi Sayyid Ahmad Khan, yaitu pribadi dan nasional. Sayyid Ahmad Khan sendiri tidak disakiti, akan tetapi orang-orang terdekat dan paling dicintainya menderita luar biasa pada waktu penumpasan yang dilakukan oleh Inggris maupun kekuatan yang melawan setelah jatuhnya Delhi.

Selanjutnya Hali, ia terlahir di Panipat tahun 1837 dari keluarga terhormat, meskipun miskin. Ia mendapat pendidikan terbatas dan tidak sistematis, tetapi dapat menarik perhatian Ghalib, penyair besar Urdu, kemudian menjadi guru syairnya.

Hali menghasilkan kitab Musaddas yang versi pertamanya diterbitkan tahun 1879. Ia mengirimkan buku tersebut kepada Sayid ahmad yang atas anjurannyalah syair itu ditulis dan memberikan hak ciptanya kepada Perguruan Tinggi Aligarh.

Musaddas  Hali merupakan puisi panjang dan bentuk terakhir dari karangan tersebut terdiri dari 456 stanza (kuplet) yang setiap kupletnya terdiri dari enam baris. Syair tersebut berisi tentang  bangkit dan jatuhnya Umat Muslim, dimulai dengan keadaan negeri Arab sebelum kedatangan Islam, ajaran Nabi Muhammad, perubahan yang dibawa oleh ajaran Islam pada kondisi moral dan material bangasa arab, apa yang telah dicapai oleh umat muslim pada zaman kebeasarannya, gambaran yang terinci tentang kemunduran mereka dewasa ini, dan akhirnya pesan tentang harapan dan berita baik.

Mohsinul Mulk merupakan gelar yang dimiliki oleh sayid Mehdi Ali, yang dilahirkan di Etawah, 9 Desember 1837. Terlahir dari keluarga kuna Sayid Barah yang mengambil peranan penting dalam membentuk kebesaran dinasti Mughal. Ia mendapatkan pendidikan dengan cara tradisional dan ortodoks.

Mohsinul Mulk sukses karena kebijaksanaan, kegiatan dan pendapat-pendapatnya yang umumnya bisa diterima.

Ia bekerja menjadi kepala sekertariat, kemudia memegang kedudukan Sekertaris Perguruan Tinggi Aligarh.  Kemudian ia mendirikan organisasi politik Muslim.

Viqarul Mulk adalah Sekertaris Perguruan Tinggi Aligarh setelah meninggalnya Mohsinul Mulk, mempunyai watak yang dekat dengan Sayid Ahmad Khan.

Viqarul Mulk memiliki nama yang sebenarnya yaitu Mushtaq Husain. Lahir pada tahun 1841 di sebuah desa Distrik Moradabad, Inited Provinces.dsx

Dalam beberapa hal Nawab Viqarul Mulk mempunyai pengaruh yang sehat pada lembaga pendidikan teinggi. Tetapi tidak bisa dikatakan bahwa tindakannya tidak ada yang bisa dikritik.

Empat tokoh yang telah dibahas di depan dalam satu atau lain hal terdapat hubungan denga Aligarh.

Tokoh selanjutnya adalah Syibli. Dilahirkan pada saat meletusnya Mutiny di sebuah desa dekat Azamgarh. Syibli adalah orang Muslim India pertama yang menemukan agama sebagai basis daya tarik politik. Ia adalah pencipta panggailan perang yang menjadi sangat terkenal dalam kehidupan politik berikutnya bagi umat muslim anak benua India.

Syibli mempunyai kepercayaan yang begitu dalam mengenai agama sebagai bantuan untuk tujuan-tujuan duniawi. Sehingga ia menginginkan kawan-kawannya dan irang-orang yang bekerja bersama dengannya hidup dalam jubah agama.

Sayid Amir Ali, seorang pemimpin dan ahli hukum, dilahirkan pada 6 April 1849 di Cuttack India. Merupakan keturunan Arab Syi’ah. Ia orang yang luas pengetahuannya. Keluarganya bekerja di Istana Mughol dan akhirnya di East India Companiy.

Selanjutnya Abul kalam Azad yang memiliki kisah masa kecilnya bahwa ia adalah anak yang penuh dengan misteri. Abul Kalam Azad  cukup terkenal di kalangan nasional dan mulai mnerbitkan surat kabarnya sendiri untuk menanamkan pengaruh yang telah ia mulai dalam satu artikel yang di terbitkan pada usia empat belas tahun, supaya terbilang kepada surat kabar di Barat.

Tulisan-tulisan Abul Kalam mempunyai pengaruh yang langsung pada kehidupan agama umat Muslim India.  Dalam masalalah politik dalam negeri Abul kalam Azad tidak langsung menentang pendapat Viqarul Mulk, bahwa umat Muslim harus meneruskan untuk mempunyai tempat berpijak sendiri.

Maulana Muhammad Ali adalah tokoh selanjutnya. Ia menguasai panggung nasional pada sebagian besar periode 1912 hingga 1937.

Politik bergantung pada Inggris untuk melindungi kepentingan umat muslim yang merupakan tonggak yang dipancangkan oleh Sayid Ahmad dan Mohsinul Mulk.

Maulana Muhammad Ali dilahirkan pada tahun1878. Ia bersekolah di Perguruan Tinggi Aligarh dan kemudia masuk ke Oxford University. Ia menerbitkan  Comrade dari Calcutta  pada 1 januari 1911 dan ini merupakan kemenangan jurnalistik.

Comrade memainkan peranan penting dalam membentuk bisi politik umat muslim India. Untuk menilai pengaruhnya secara radikal mengubah pandangan umat muslim sekitar tahun 1912.

Tokoh selanjutnya adalah Iqbal. Ia dilahirkan pada 1873 di Sialkot di perbatasan Punjab Barat dan Kashmir. Ia merupakan penulis yang handal. Ia menulis banyak syair mengenai berbagai masalah. Dia juga tertarik pada Islam sebagai organisasi social dan politik.

Iqbal adalah produk dari kekuatan-kekuatan yang satu sama lain saling bertentangan, dan seorang muslim sosialis, juga paham-paham yang sangat reaksioner bisa mendapat kan bait-bait puisinya untuk mendukung ideologi-ideologi yang satu sama lain saling bertentangan.

Selanjutnya Muhammad Ali Jinnah yang aktif di Liga Muslim dan ia berjuang untuk Pakistan.

Nawab Zada Liquat Ali Khan dilahirkan pada tahun 1896 di distrik Karnal, Punjab Timur.

Dia pernah terpilih menjadi anggota Dewan Eksekutif Wakil Raja Inggris dan menjadi Menteri Keuangan dalam Pemerintahan India sementara yang mendahului pemisahan Pakistan.

Abul A’la dilahirkan pada tanggal 5 September 1903 di Aurangabad, suatu kota terkenal di Kesultanan Hyderabad (Deccan), sekarang ini Andhra Prades di India.

Setelah selesai dari pendidikan formal ia berbelok ke dunia jurnalistik untuk mencari nafkah hidup

Ia memiliki pandangan mengenai tuhan, tujuan dan strategi kebangkitan islam, revolusi dan juga revormasi.

KOMENTAR

Buku Alam Pikiran Islam Modern di India dan Pakistan sangat menarik untuk dibaca. Pada bagian awalnya, saya perlu membaca buku ini secara berulang-ulang, karena terkadang ada bahasa dengan gaya yang tidak biasa. Sehingga sulit memahami makna yang sebenarnya diinginkan.

Buku ini menyuguhkan bacaan mengenai pemikiran-pemikiran yang berkembang di India dan Pakistan.

Yang menarik adalah materi yang disajikan. Jika kita mencari di mesin pencari GOOGLE mengenai isi buku ini, ataupun tokoh-tokoh yang dibahasanya, maka jangan harap kita menemukan yang berbahasa Indonesia. Materi yang tersedia adalam dalam bahasa asing.

Hal ini tentu menunjukkan bahwa materi yang terkandung di buku ini jarang disentuh oleh mahasiswa-mahasiswa kita. Tentunya menjadi sebuah kebanggaan saya bisa segera memposting isi dari buku ini di blog pribadi saya.

Penampilan buku ini begitu sederhana, karena penerbitannya di tahun 1992 tentu lay-out yang dihasilkan tidak secanggih dengan buku zaman sekarang..

Pemilihan jenis huruf pada bacaan cocok dengan suasana bacaan yang tercipta, karena membuat kita merasa mzca novel biasa.

Namun ada satu tantangan dalam memahami isi buku ini yaitu,  jangan terlewat satu paragraph pun. Karena kita akan tidak mengerti maksud dari paragraf selanjutnya.

Bahasa yang disampaikan, unik. Ketika kita asyik membaca dengan lancar dan paham maksudnya, tiba-tiba ada kalimat yang sama sekali tidak di mengerti. Apa maksudnya dan bagaimana kaitannya.

Ada keterkaitan antar tokoh yang diceritakan dalam buku ini, yaitu perguruan tinggi Aligarh, dan mereka sama-sama berjuang denga tinta dan juga kedudukan yang mereka miliki.

Satu hal yang patut di contoh, dan diingat, bahwa mereka diingat dan ditulis kembali karena meninggalkan tulisan tulisan yang kemudian dipelajari oleh generasi selanjutnya. Ini berarti bahwa tulisanitu yang akan mengabadikan keberadaan kita. Bahkan ada kemungkinan tokoh yang handal dalam pemikiran namun tak dapat menuliskan, hingga ia terlupakan begitu saja.

Terimakasih.

Note :

Foto dokumentasi pribadi, dan Book repport ini saya posting di : hudanuralawiyah.wordpress.com

RESUME : FILSAFAT ILMU SEBUAH PENGANTAR POPULER

Oleh Huda Nuralawiyah

Resume halaman 1-228 (Bagian I-V)

Judul : FILSAFAT ILMU SEBUAH PENGANTAR POPULER

Cetakan ke-22; 384 hlm;

Penulis : JUJUN S. SURIASUMANTRI

Jakarta : Pustaka Sinar Harapan:2010

ISBN : 978-979-416-899-8

Bagian I

KE ARAH PEMIKIRAN FILSAFAT

Da steh’ ich nun, ich armer Tor!

Und bin so klug als wie zuvor.

(Nah disinilah aku, si goblok yang malang!

Tak lebih bijak sebelumnya)

Faust

Ilmu dan Fisafat

Pengetahuan dimulai dengan rasa ingin tahu, kepastian dimulai dengan rasa ragu-ragu dan filsafat dimulai dengan kedua-duanya. Berfilsafat didorong untuk mengetahui apa yang telah kita tahu dan apa yang kita belum tahu. Berfilsafat berarti berendah hati bahwa tidak semuanya akan pernah kita ketahui dalam kesemestaan yang seakan tak terbatas ini.

Berfilsafat tentang ilmu berarti kita berterus terang kepada diri kita sendiri, apakah sebenarnya yang saya ketahui tentang ilmu? Apakah cirri-cirinya yang hakiki yang membedakan ilmu dengan pengetahuan-pengetahuan lainnya yang bukan ilmu?

Karakteristik berfikir filsafat ada 3.

  1.  sifat menyeluruh.
  2. Sifat mendasar
  3. Sifat spekulatif

Filsafat: Peneratas Pengetahuan.

Disini berarti bahwa filsafat adalah langkah awal untuk mengetahui segala pengetahuan. Sekiranya kita sadar bahwa filsafat adalah marinir bukan pionir karena bukan pengetahuan yang bersifat merinci.

Bidang Telaah Filsafat.

Filsafat menelaah segala masalah yang mungkin dapat dipikirkan oleh manusia. Sesuai dengan fungsinya sebagai pionir dia mempermasalahkan hal-hal yang pokok, terjawab masalah yang satu diapun mulai merambah pertanyaan lain.

Cabang Cabang Filsafat

Epistimologi (Filsafat Pengetahuan), Etika (Filsafat Moral), Etestika (Filsafat Seni), Metafisika, Politik (Filsafat Pemerintahan), Filsafat Agama, Filsafat Ilmu, Filsafat Pendidikan, Filsafat Hukum, Filsafat Sejarah Dan Filsafat Matematika.

Filsafat Ilmu

merupakan bagian dari epistimologi yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu.

Kerangka Pengkajian Buku

Pada dasarnya buku ini mencoba membahas aspek ontologis, epistimologis dan aksiologis keilmuan sambil membandingkan dengan beberapa pengetahuan lain. Dalam kaitan-kaitan ini akan dikaji hakikat beberapa saran berpikir ilmiah yakni, bahasa, logika, matematika dan statistika. Setelah itu dibahas beberapa aspek yang berkaitan erat dengan kegiatan keilmuan seperti aspek moral, sosial, pendidikan dan kebudayaan. Akhirnya buku ini ditutup dengan pembahasan mengenai struktur penelitian dan penulisan ilmiah dengan harapan agar dapat membantu mereka yang berkarya dalam bidang keilmuan. 

Bagian II

DASAR-DASAR PENGETAHUAN

Pilatus bertanya kepadanya,”Apakah kebenaran?”Johannes (18:38)

Penalaran adalah berpikir menurut suatu alur kerangka berpikir tertentu. Dengan penalaran inilah manusia mampu mengembangkan pengetahuannya dengan cepat dan mantap.

Penalaran adalah proses berfikir yang membuahkan pengetahuan.

Hakikat Penalaran.

Penalaran mempunyai ciri-ciri: proses berpikir logis dan analitis.

Logika

Didefinisikan sebagai pengkajian untuk berpikir secara sahih. Cara penarikan kesimpulan yang sesuai dengan tujuan studi yang memusatkan diri pada penalaran ilmiah adalah logika induktif dan logika deduktif.

Sumber Pengetahuan

Pada dasarnya terdapat dua cara pokok bagi manusia mendapatkan pengetahuan yang benar yaitu :

  1. Mendasarkan diri pada rasio atau disebut rasionalisme dan
  2. Mendasarkan diri pda pengalaman atau disebut empirisme

Namun masih terdapat cara lain yaitu intusi (pengetahuan yang didapatkan tanpa melalui proses penalaran tertentu) dan wahyu merupakan pengetahuan yang disampaikan oleh tuhan kepada manusia lewat perantara nabi-nabi yang diutusnya). Intuisi bersifat personal dan tidak dapat diramalkan.

Kriteria Kebenaran:

  1. 1.   Teori Koherensi yaitu suatu pernyataan dianggap benar bila pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap benar.

Misalnya bila kita menganggap bahwa, “semua manusia pasti akan mati” adalah suatu pernyataan benar maka pernyataan bahwa, “si polan adalah seorang manusia dan si polan pasti akan mati” adalah benar pula karena kedua pernyataan kedua adalah konsisten dengan pernyataan yang pertama.

  1. 2.   Teori Korespondensi yang ditemukan oleh Bertrand Russell (1872-1970). Suatu pernyataan adalah benar jika materi pengetahuan yang dikandung pernyataan itu berkorespondensi (berhubungan) dengan obyek yang dituju oleh pernyataan tersebut. Misalnya jika seseorang mengatakan bahwa Ibukota Republik Indonesia adalah Jakarta maka pernyataan tersebut adalah benar sebab pernyataan itu dengan obyek yang bersifat faktual yakni Jakarta yang memang menjadi Ibukota Republik Indonesia.
  2. 3.   Teori Pragmatis dicetuskan oleh Charles S. Pierce (1839-1914). Suatu pernyataan adalah benar jika pernyataan itu atau konsekuensi dari pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis dalam kehidupan manusia.

 

 

Bagian III

ONTOLOGI: HAKIKAT APA YANG DIKAJI

Der Herr Gott wurfelt nicht!

(Tuhan tidak melempar dadu!)

Albert Einstein (1879-1955)

Metafisika

Metafisika adalah bidang telaah filsafati yang merupakan tempat brpijak dari setiap pemikiran filsafati termasuk pemikiran ilmiah. Diibaratkan pikiran adalah roket maka metafisika adalah peluncurannya.

Asumsi

Asumsi adalah anggapan yang berdasarkan dari pengetahuan yang telah ada.

Peluang

Peluang adalah kemungkinan-kemungkinan dalam suatu kejadian ataupun probabilitas.

Dalam mengembangkan asumsi harus diperhatikan beberapa hal.  Pertama, asumsi ini harus relevan dengan bidang dan tujuan pengkajian disiplin keilmuan. Kedua, asumsi ini harus disimpulkan dari “ keadaan sebagaimana adanya,” bukan “ bagaimana keadaan seharusnya”.

Batas-Batas Penjelajahan Ilmu

pengalaman manusia dan pengetahuan yang secara empiris telah diuji kebenarannya.

Cabang-Cabang Ilmu. Dua cabang utama ilmu yaitu:

  1. 1.   Filsafat alam yang kemudian menjadi ilmu-ilmu alam (the natural science)
  2. 2.   Filsafat moral yang kmudian menjadi ilmu-ilmu sosial (the social science)

Pengetahuan mencakup humaniora (seni, filsafat, agama, bahasa, dan sejarah) dan matematiaka

 Bagian IV

EPISTIMOLOGI: CARA MENDAPATKAN PENGETAHUAN YANG BENAR

Kau tahu sendiri bagaimana metodeku, Watson. (Arthur Conan Doyle dalam The Crooked Man)

Pengetahuan pada hakekatnya merupakan segenap apa yang kita ketahui tentang suatu obyek tertentu, termasuk kedalamnya adalah ilmu. Pengetahuan merupakan khasanan kekayaan mental yang secara tak langsung memperkaya kehidupan manusia. Tiap jenis pengetahuan pada dasarnya menjawab jenis pertayaan tertentu yang diajukan. Setiap jenis pengetahuan mempunyai cirri-ciri spesifik mengenai apa (ontologi), bagaimana(epistimologi) dan untuk apa (aksiologi) pengetahuan tersebut disusun.

Metode Ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu, jadi ilmu merupakan pengetahuan yang didapatkan melalui metode illmiah. Proses kegiatan ilmiah :

  1. Perumusan Masalah ( dimulai ketika manusia mengamati sesuatu).
  2. Penyusunan kerangka berpikir dalam pengajuan hipotesis yang merupakan argumentasi yang menjelaskan hubungan yang mungkin terdapat  antara berbagai faktor yang saling berkaitan dan membentuk kontelasi permasalahan.
  3. Perumusan hipotesis atau penjelasan sementara. Pada dasarnya disusun secara deduktif dengan mengambil premis-premis dari pengetahuan ilmiah yang sudah diketahui sebelumnya.
  4. Pengujian hipotesis dengan mengkonfrontasikannya dengan dunia yang nyata. Proses ini merupakan pengumpulan fakta yang relevan dengan hipotesis yang diajukan.
  5. Penarikan kesimpulan. Merupakan penilaian apakah hipotesis itu diterima atau ditolak.

Struktur Pengetahuan Ilmiah:

  1. 1.   Teori  merupakan pengetahuan ilmiah yang mencakup penjelasan mengenai suatu faktor tertentu dari sebuah disiplin keilmuan. Sebuah teori biasanya terdiri dari hukum-hukum.
  2. 2.   Hukum merupakan pernyataan yang menyatakan hubungan antara dua variabel atau lebih dalam suatu kaitan sebab akibat.
  3. 3.   Prinsip dapat diartikan sebagai pernyataan yang berlaku secara umum bagi sekelompok gejala-gejala tertentu yang mampu menjelaskan kejadian yang terjadi.
  4. 4.   Postulat yang merupakan asumsi dasar yang kebenarannya kita terima tanpa dituntut pembuktiannya.

 

 

 

 

 Bagian V

SARANA BERFIKIR ILMIAH

Burung beo tidak bisa menyanyi. Bicara, mungkin, Holler.

Tetapi sumpah setengah mati, mereka tidak bisa menyanyi…….

Truman Capote dalam In Cold Blood (New York : Signet, 1965), hlm.27.

Sarana Berfikir Ilmiah

Pada dasarnya merupakan alat yang membantu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuh.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam mempelajari sarana berfikir ilmiah :

  1. Sarana ilmiah bukan merupakan ilmu dalam pengertian bahwa saran ilmiah itu merupakan pengetahuan yang didapatkan berdasarkan metode ilmiah.
  2. Tujuan mempelajari sarana ilmiah adalah untuk memungkinkan kita melakukan penelaahan ilmiah secara baik, sedangkan tujuan mempelajari ilmu dimaksudkan untuk mendapatkan pengetahuan yang memungkinkan kita untuk bisa memecahkan masalah sehari-hari.

Untuk dapat melakukan kegiatan berfikir ilmiah dengan baik maka diperlukan sarana yang berupa bahasa,logika, matematika, dan statistika.

Bahasa

Keunikan manusia bukan pada kemampuan berfikirnya tapi pada kemampuan berbahasanya. Tanpa bahasa, kegiata berfikir secara sistematis dan teratur tidak mungkin dapat dilakukan dan tak mungkin mengembangkan kebudayaan.

Bahasa bercirikan serangkaian bunyi dan merupakan lambang dimana rangkaian bunyi ini membentuk suara tertentu.

Proses komunikasi ilmiah harus bersifat jelas dan objektif.

Kekurangan bahasa pada hakikatnya terletak pada peraan bahasa itu sendiri yang bersifat multifungsi.

Matematika

Matematika adalah bahasa yang melambangkan serangkaian makna dari pernyataan yang ingin kita sampaikan. Matematika memiliki sifat kuantitatif  yang bisa meningkatkan daya prediktif dan kontrol dari ilmu.

Matematika pada garis besarnya merupakan pengetahuan yang disusun secara konsisten berdasarkan logika deduktif.

Aliran dalam filsafat matematika : logistik intuisionis, formalis

Statistika

Statistika memberikan cara untuk dapat menarik kesmpulan yang bersifat umum dengan jalan mengamati hanya sebagian dari populasi yang besangkutan.

Statistika merupakan pengetahuan yang memungkinkan kita untuk menarik kesimpulan secara induktif berdasarka peluang.

MAKALAH: FILSAFAT: KRITISISME (IMMANUEL KANT)

Oleh Huda Nuralawiyah

BAB I

PENDAHULUAN

 

Pendirian aliran rasionalisme dan empirisme sangat bertolak belakang. Rasionalisme berpendirian bahwa rasio merupakan sumber pengenalan atau pengetahuan, sedangkan empirisme berpendirian sebaliknya bahwa pengalaman menjadi sumber tersebut. Tokoh utama Kritisisme adalah Immanuel kant yang melahirkan Kantianisme.

Immanuel Kant (1724-1804 M) berusaha mengadakan penyelesaian atas pertikaian itu dengan filsafatnya yang dinamakan Kritisisme (aliran yang kritis). Untuk itulah, ia menulis tiga bukunya berjudul : Kritik der Reinen Vernunft (kritik atas rasio murni), Kritik der Urteilskraft (kritik daya pertimbangan).

Demikian pendahuluan mengenai makalah ini. Bagaimana kritisime ini memiliki ciri-ciri, definisi, dan pemikirannya, berikut kita bahas lebih lanjut.


BAB II

PEMBAHASAN

  1. Definisi

Kritisisme adalah aliran yang lahir dari pemikiran Immanuel Kant yang terbentuk sebagai ketidakpuasan atas aliran rasionalisme dan empirisme.

  1. Riwayat hidup Immanuel Kant sang  pelopor kritisisme

Immanuel Kant adalah seroang filosof besar yang muncul dalam pentas pemikiran filosofis zaman Aufklarung Jerman menjelang akhir abad 18. Ia lahir di Konigsberg, sebuah kota kecil di Prussia Timur, pada tanggal 22 April 1724. Kant lahir sebagai anak keempat dari suatu keluarga miskin. Orang tua Kant adalah pembuat pelana kuda dan penganut setia gerakan Peitisme. Pada usia 8 tahun Kant memulai pendidikan formalnya di Collegium Fridericianum, sekolah yang berlandaskan semangat Peitisme.

 

  1. Pemikiran Immanuel Kant

Perkembangan pemikiran kant megnalami empat periode;

  1. Periode pertama ialah ketika ia masih dipengaruhi oleh Leibniz Wolf, yaitu samapi tahun 1760. Periode ini sering disebut periode rasionalistik
  2. Periode kedua berlangsung antara tahun 1760 – 1770, yang ditandai dengan semangat skeptisisme. Periode ini sering disebut periode empiristik
  3. Periode ketiga dimulai dari inaugural dissertation-nya pada tahun 1770. Periode ini bisa dikenal sebagai tahap kritik.
  4. Periode keempat berlangsung antara tahun 1790 sampai tahun 1804. Pada periode ini Kant megnalihkan perhatiannya pada masalah religi dan problem-problem sosial. Karya Kant yang terpenting pada periode keempat adalah Religion within the Limits of Pure Reason (1794) dan sebuah kumpulan esei berjudulEternal Peace (1795).

Akar-akar Pemikiran Immanuel Kant

Immanuel Kant adalah filsuf yang hidup pada puncak perkembangan “Pencerahan”, yaitu suatu masa dimana corak pemikiran yang menekankan kedalaman unsur rasionalitas berkembang dengan pesatnya. Pasa masa itu lahir berbagai temuan dan paradigma baru dibidang ilmu, dan terutama paradigma ilmu fisika alam. Heliosentris temuan Nicolaus Copernicus (1473 – 1543) di bidang ilmu astronomi yang membutuhkan paradigma geosentris, mengharuskan manusia mereinterpretasikan pandangan duniannya, tidak hanya pandangan dunia ilmu tetapi juga keagamaan.

Selanjutnya ciri kedua adalah apa yang dikenal dengan deisme, yaitu suatu paham yang kemudian melahirkan apa yang disebut Natural Religion (Agama alam) atau agama akal. Deisme adalah suatu ajaran yang mengakui adanya yang menciptakan alam semesta ini. Akan tetapi setelah dunia diciptakan, Tuhan menyerahkan dunia kepada nasibnya sendiri. Sebab ia telah memasukkan hukum-hukum dunia itu ke dalamnya. Segala sesuatu berjalan sesuai dengan hukum-hukumnya. Manusia dapat menunaikan tugasnya dalam berbakti kepada Tuhan dengan hidup sesuai dengan hukum-hukum akalnya. Maksud paham ini adalah menaklukkan wahyu ilahi beserta degan kesaksian-kesaksiannya, yaitu buku-buku Alkitab, mukjizat, dan lain-lain kepada kritik akal serta menjabarkan agama dari pengetahuan yang alamiah, bebas dari pada segala ajaran Gereja. Singkatnya, yang dipandang sebagai satu-satunya sumber dan patokan kebenaran adalah akal.

Kant berusaha mencari prinsip-prinsip yang ada dalam tingkah laku dan kecenderungan manusia. Inilah yang kemudian menjadi kekhasan pemikiran filsafat Kant, dan terutama metafisikanya yang – dianggap – benar-benar berbeda sama sekali dengan metafisikan pra kant.

Pengaruh Leibniz dan Hume

Leibniz-Wolf dan Hume merupakan wakil dari dua aliran pemikiran filosofis yang kuat melanda Eropa pada masa Pencerahan. Leibniz tampil sebagai tokoh penting dari aliran empirisisme.

Di sini jelas, bahwa epistemologi ‘ala Leibniz bertentangan dengan epistemologi Hume. Leibniz berpendapat bahwa sumber pengetahuan manusia adalah rasionya saja, dan bukan pengalaman. Dari sumber sejati inilah bisa diturunkan kebenaran yang umum dan mutlak. Sedangkan Hume megnajarkan bahwa pengalamanlah sumber pengetahuan itu. Pengetahuan rasional mengenai sesuatu terjadi setelah itu dialami terlebih dahulu.

Epistemologi Kant, Membangun dari Bawah

Filsafat Kant berusaha mengatasi dua aliran tersebut dengan menunjukkan unsur-unsur mana dalam pikiran manusia yang berasal dari pengalaman dan unsur-unsur mana yang terdapat dalam akal. Kant menyebut perdebatan itu antinomy, seakan kedua belah pihak merasa benar sendiri, sehingga tidak sempat memberi peluang untuk munculnya alternatif ketiga yang barangkali lebih menyejukkan dan konstruktif.

Mendapatkan inspirasi dari “Copernican Revolution”, Kant mengubah wajah filsafat secara radikal, dimana ia memberikan filsafatnya, Kant tidak mulai dengan penyeledikan atas benda-benda yang memungkinkan mengetahui benda-benda sebagai objek. Lahirnya pengetahuan karena manusia dengan akalnya aktif mengkonstruksi gejala-gejala yang dapat ia tangkap. Kant mengatakan:

Akal tidak boleh bertindak seperti seroang mahasiswa yang Cuma puas dengan mendengarkan keterangan-keterangan yang telah dipilihkan oleh dosennnya, tapi hendaknya ia bertindak seperti hakim yang bertugas menyelidiki perkara dan memaksa para saksi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ia sendiri telah rumuskan dan persiapkan sebelumnya.

Upaya Kant ini dikenal dengan kritisisme atau filsafat kritis, suatu nama yang diberikannya sendiri. Kritisisme adalah filsafat yang memulai perjalannya dengan terlebih dahulu menyelidiki kemampuan kritik atas rasio murni, lalu kritik atas rasio praktis, dan terakhir adalah kritik atas daya pertimbangan.

1. Kritik atas Rasio Murni

Dalam kritik ini, atara lain kant menjelaskan bahwa ciri pengetahuan adalah bersifat umum, mutlak dan memberi pengertian baru. Untuk itu ia terlebih dulu membedakan adanya tiga macam putusan, yaitu:

a. Putusan analitis apriori; dimana predikat tidak menambah sesuatu yang baru pada subjek, karena sudah termuat di dalamnya (msialnya, setiap benda menempati ruang).

b. Putusan sintesis aposteriori, misalnya pernyataan “meja itu bagus” di sini predikat dihubungkan dengan subjek berdasarkan pengalaman indrawi, karena dinyatakan setelah (=post, bhs latin) mempunyai pengalaman dengan aneka ragam meja yang pernah diketahui.

c. Putusan sintesis apriori; disini dipakai sebagai suatu sumber pengetahuan yang kendati bersifat sintetis, namun bersifat apriori juga. Misalnya, putusan yang berbunyi “segala kejadian mempunyai sebabnya”. Putusan ini berlaku umum dan mutlak, namun putusan ini juga bersifat sintetis dan aposteriori. Sebab di dalam pengertian “sebab”. Maka di sini baik akal maupun pengalaman indrawi dibutuhkan serentak. Ilmu pasti, mekanika dan ilmu pengetahuan alam disusu atas putusan sintetis yang bersifat apriori ini.

Tiga tingkatan pengetahuan manusia, yaitu:

a. Tingkat Pencerapan Indrawi (Sinneswahrnehmung)

Unsur apriori, pada taraf ini, disebut Kant dengan ruang dan waktu. Dengan unsur apriori ini membuat benda-benda objek pencerapan ini menjadi ‘meruang’ dan ‘mewaktu’. Pengertian kant mengenai ruang dan waktu ini berbeda dengan ruang dan waktu dalam pandangan Newton. Kalau Newton menempatkan ruang dan waktu ‘di luar’ manusia, kant megnatakan bahwa keduanya adalah apriori sensibilitas. Maksud Kant, keduanya sudah berakar di dalam struktur subjek. Ruang bukanlah ruang kosong, ke dalamnya suatu benda bisa ditempatkan; ruang bukan merupakan “ruang pada dirinya sendiri” (Raum an sich). Dan waktu bukanlah arus tetap, dimana pengindraan-pengindraan berlangsung, tetapi ia merupakan kndisi formal dari fenomena apapun, dan bersifat apriori.

Yang bisa diamati dan diselidiki hanyalah fenomena-fenomena atau penampakan-penampakannya saja, yang tak lain merupakan sintesis antara unsur-unsur yang datang dari luar sebagai materi dengan bentuk-bentuk apriori ruang dan waktu di dalam struktur pemikiran manusia.

b. Tingkat Akal Budi (Verstand)

Bersamaan dengan pengamatan indrawi, bekerjalah akal budi secara spontan. Tugas akal budi adalah menyusun dan menghubungkan data-data indrawi, sehingga menghasilkan putusan-putusan. Dalam hal ini akal budi bekerja dengan bantuan fantasinya (Einbildungskarft). Pengetahuan akal budi baru dieroleh ketika terjadi sintesis antara pengalaman inderawi tadi dengan bentuk-bentuk apriori yang dinamai Kant dengan ‘kategori’, yakni ide-ide bawaan yang mempunyai fungsi epistemologis dalam diri manusia.

c. Tingkat intelek / Rasio (Versnunft)

Idea ini sifatnya semacam ‘indikasi-indikasi kabur’, petunjuk-petunjuk buat pemikiran (seperti juga kata ‘barat’ dan ‘timur’ merupakan petunjuk-petunjuk; ‘timur’ an sich tidak pernah bisa diamati). Tugas intelek adalah menarik kesimpulan dari pernyataan-pernyataan pada tingkat dibawahnya, yakni akal budi(Verstand) dan tingkat pencerapan indrawi (Senneswahnehmung). Dengan kata lain, intelek dengan idea-idea argumentatif.

Kendati Kant menerima ketiga idea itu, ia berpendapat bahwa mereka tidak bisa diketahui lewat pengalaman. Karena pengalaman itu, menurut kant, hanya terjadi di dalam dunia fenomenal, padahal ketiga Idea itu berada di dunia noumenal (dari noumenan = “yang dipikirkan”, “yang tidak tampak”, bhs. Yunani), dunia gagasan, dunia batiniah. Idea mengenai jiwa, dunia dan Tuhan bukanlah pengertian-pengertian tentang kenyataan indrawi, bukan “benda pada dirinya sendiri” (das Ding an Sich). Ketiganya merupakan postulat atau aksioma-aksioma epistemologis yang berada di luar jangkauan pembuktian teoretis-empiris.

2. Kritik atas Rasio Praktis

Maxime (aturan pokok) adalah pedoman subyektif bagi perbuatan orang perseorangan (individu), sedangkanimperative (perintah) merupakan azas kesadaran obyektif yang mendorong kehendak untuk melakukan perbuatan. Imperatif berlaku umum dan niscaya, meskipun ia dapat berlaku dengan bersyarat (hypothetical)atau dapat juga tanpa syarat (categorical). Imperatif kategorik tidak mempunyai isi tertentu apapun, ia merupakan kelayakan formal (=solen). Menurut kant, perbuatan susila adalah perbuatan yang bersumber paa kewajiban dengan penuh keinsyafan. Keinsyafan terhadap kewajiban merupakan sikap hormat (achtung).Sikap inilah penggerak sesungguhnya perbuatan manusia.

Kant, ada akhirnya ingin menunjukkan bahwa kenyataan adanya kesadaran susila mengandung adanya praanggapan dasar. Praanggapan dasar ini oleh Kant disebut “postulat rasio praktis”, yaitu kebebasan kehendak, immortalitas jiwa dan adanya Tuhan.

Pemikiran etika ini, menjadikan Kant dikenal sebagai pelopor lahirnya apa yang disebut dengan “argumen moral” tentang adanya Tuhan. Sebenarnya, Tuhan dimaksudkan sebagai postulat. Sama dengan pada rasio murni, dengan Tuhan, rasio praktis ‘bekerja’ melahirkan perbuatan susila.

3. Kritik atas Daya Pertimbangan

Kritik atas daya pertimbangan, dimaksudkan oleh Kant adalah mengerti persesuaian kedua kawasan itu. Hal itu terjadi dengan menggunakan konsep finalitas (tujuan). Finalitas bisa bersifat subjektif dan objektif. Kalau finalitas bersifat subjektif, manusia mengarahkan objek pada diri manusia sendiri. Inilah yang terjadi dalam pengalaman estetis (kesenian). Dengan finalitas yang bersifat objektif dimaksudkan keselarasan satu sama lain dari benda-benda alam.

Idealisme Transedental : Sebuah Konsekuensi

Tidak mudah memahami kant, terutama ketika sampai pada teorinya: realisme empirikal (Empirical realism)dan Idealisme transendental (transendental idealism), apalagi jika mencoba mempertemukan bagian-bagian dari teorinya itu. Istilah “transenden” berhadapan dengan istilah ‘empiris’, dimana keduanya sama-sama merupakan term epistemologis, namun sudah tentu mengandung maksud yang berbeda; yang pertama berartiindependent dari pengalaman (dalam arti transenden), sedang yang terakhir disebut berarti imanen dalam pengalaman. Begitu saja “realisme” yang berlawanan dengan “idealisme”, adalah dua istilah ontologis yang masing-masing bermakna: “lepas dari eksistensi subyek” (independet of my existance) dan “bergantung pada eksistensi subyek” (dependent of my existence). Teori Kant ini mengingatkan kita kepada filsuf Berkeley dan Descartes. Berkeley sduah tentu seorang empirisis, tetapi ia sekaligus muncul sebagai seroang idealis. Sementara Descartes bisa disebut seorang realis karena ia percaya bahwa eksistensi obyek itu, secara umum, independen dari kita, tetapi ia juga memahami bahwa kita hanya mengetahui esensinya melalui idea bawaaninnate ideas) secara “clear and distinct”, bukan melalui pengalaman. Inilah yang kemudian membuat Descartes sebagai seorang “realis transendental”. 

BAB III

KESIMPULAN

 

Kritisisme Immanuel Kant sebenarnya telah memadukan dua pendekatan dalam pencarian keberadaan sesuatu yang juga tentang kebenaran substansial dari sesuatu itu. Kant seolah-olah mempertegas bahwa rasio tidak mutlak dapat menemukan kebenaran, karena rasio tidak membuktikan, demikian pula pengalaman, tidak dapat dijadikan melulu tolak ukur, karena tidak semua pengalaman benar-benar nyata, tapi “tidak-real”, yang demikian sukar untuk dinyatakan sebagai kebenaran.

Melalui pemahaman tersebut, rasionalisme dan empirialisme harusnya bergabung agar melahirkan suatu paradigm baru bahwa kebenaran empiris harus rasional sebagaimana kebenaran rasional harus empiris.

DAFTAR PUSTAKA

 

Muslih, Mohammad. Filsafat Ilmu. Jogjakarta: Belukar, 2004.

S.Praja.Juhaya,Aliran-aliran filsafat dan etika.Cet II;Jakarta:Prenada Media 2005.

Akhmadi,Asmoro,Filsafat Umum. Cet V; Jakarta: RajaGrafindo Persada.2003.

 

intuisi

Pengertian intuisi

Intuisi
Intuisi adalah istilah untuk kemampuan memahami sesuatu tanpa melalui penalaran rasional dan intelektualitas. Sepertinya pemahaman itu tiba-tiba saja datangnya dari dunia lain dan diluar kesadaran. Misalnya saja, seseorang tiba-tiba saja terdorong untuk membaca sebuah buku. Ternyata, didalam buku itu ditemukan keterangan yang dicari-carinya selama bertahun-tahun. Atau misalnya, merasa bahwa ia harus pergi ke sebuah tempat, ternyata disana ia menemukan penemuan besar yang mengubah hidupnya. Namun tidak semua intuisi berasal dari kekuatan psi. Sebagian intuisi bisa dijelaskan sebab musababnya.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa orang-orang yang berada dalam jajaran puncak bisnis atau kaum eksekutif memiliki skor lebih baik dalam eksperimen uji indera keenam dibandingkan dengan orang-orang biasa. Penelitian itu sepertinya menegaskan bahwa orang-orang sukses lebih banyak menerapkan kekuatan psi dalam kehidupan keseharian mereka, halmana menunjang kesuksesan mereka. Salah satu bentuk kemampuan psi yang sering muncul adalah kemampuan intuisi. Tidak jarang, intuisi yang menentukan keputusan yang mereka ambil.

Sampai saat ini dipercaya bahwa intuisi yang baik dan tajam adalah syarat agar seseorang dapat sukses dalam bisnis. Oleh karena itu tidak mengherankan jika banyak buku-buku mengenai kiat-kiat sukses selalu memasukkan strategi mempertajam intuisi.

Intuisi dalam Alam Pikiran Barat dan Alam Pikiran Jawa (Sebuah Filsafat Perbandingan)

Pada dasarnya, manusia selalu ingin tahu. Bahkan, Aristoteles mengatakan bahwa sifat ingin tahu itu adalah kodrat manusia. Oleh karena sifat ingin tahu inilah, kemudian di barat muncul banyak aliran filsafat yang mengemukakan teorinya masing-masing mengenai sumber pengetahuan yang benar.

Aliran-aliran itu antara lain idealisme, materialisme, empirisme, dan rasionalisme. Idealisme berpendapat bahwa yang sejati itu ada dalam dunia idea. Sebaliknya, materialism berpendapat bahwa yang sejati itu adalah materi, apa yang tampak. Dunia idea itu tidak ada. Empirisme mendasarkan pengetahuan pada pengalaman inderawi. Pendapat empirisme ini sangat bertentangan dengan rasionalisme. Rasionalisme mengatakan bahwa pengetahuan yang sejati berasal dari ratio, sehingga pengenalan inderawi merupakan suatu bentuk pengenalan yang kabur.

Sebuah teori yang masih terbilang baru dalam sejarah filsafat adalah intuisionalisme. Intusionalisme adalah suatu aliran atau faham yang menganggap bahwa intuisi adalah sumber pengetahuan dan kebenaran. Intuisi termasuk salah satu kegiatan berfikir yang tidak didasarkan pada penalaran. Jadi, intuisi adalah non-analitik dan tidak didasarkan atau suatu pola berfikir tertentu dan sering bercampur aduk dengan perasaan.

Dalam tulisan ini, penulis hendak menguraikan dua pandangan tentang intuisi menurut dua aliran filsafat yang berbeda, yaitu filsafat barat dan filsafat timur, yang dalam hal ini diwakili oleh filsafat jawa.

Intuisi dalam Pemikiran Barat

Dalam Filsafat Barat, perlu diuraikan sedikit tentang bagaimana teori tentang intuisi ini muncul. Untuk itu, perlu dilihat selayang pandang bagaimana perkembangan teori tentang sumber pengetahuan dan kebenaran.

Aliran rasionalisme menemukan bahwa realitas harus dijelaskan berdasarkan kategori-kategori akal. Aristoteles menemukan alat ukur ini dengan memberikan nama Organon. Dengan alat ukur ini mampu dijelaskan segala sesuatunya yang ada. Namun, Organon hanya bersifat sebagai pengajaran atau penjelasan yang bersifat deskriptif saja. Aristoteles tidak mampu bertindak untuk melakukan sesuatu.

Sebagai jawaban atas kelemahan Organon, Francis Bacon (1561-1626) menemukan alat ukur lain, yaitu Novum Organum. Menurutnya, kebenaran sesuatu itu tidak boleh hanya dijelaskan saja tetapi harus dilakukan atau dieksperimentasikan. Di dalamnya harus ada proses menjadi. Dengan ditemukannya alat ukur ini, peradaban manusia berkembang luar biasa. Manusia mencapai hasil di luar batas kemampuan akal. Sesuatu yang semula tidak dipikirkan, menjadi mampu dibuktikan. Eksperimentasi serta metode ilmiah mendominasi peradaban manusia. Pemikiran Francis Bacon ini telah membawa kemajuan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi.

Meskipun efeknya sangat luar biasa, penemuan Bacon juga menemukan batasnya, yaitu ketika berhubungan dengan nilai-nilai, kematian, kenyataan yang paradoks, Tuhan, serta kenyataan yang tidak bisa dieksperimentasi atau dibawa ke laboratorium. Sebagai jawaban atas kekurangan Bacon, maka ditemukanlah alat ukur baru yang disebut dengan Tertium Organum oleh P.D. Ouspensky (1878-1947), yaitu kebenaran yang bersifat intutif yang merangkum keduanya, bahwa kenyataan itu harus rasional tetapi juga harus dieksperimentasi, yang didalamnya akan terjadi proses, perkembangan atau evolusi kesadaran menuju kenyataan yang tinggi.

Henri Bergson (1859-1941), seorang filsuf Perancis, mengatakan bahwa intelek dan intuisi adalah dua jenis pengetahuan yang berbeda. Prinsip-prinsip sains dimasukan dalam kategori intelek dan prinsip-prinsip metafisika merupakan intuisi. Sains dan filsafat dapat disatukan dan akan menghasilkan pengetahuan yang intelektual dan intuitif. Pengetahuan semacam ini dapat menyatukan dua persepsi realitas yang berbeda.

Bergson mengatakan bahwa intuisi itu jangan disamakan dengan perasaan dan emosi secara harafiah. Intuisi harus dilihat sebagai sesuatu yg bergantung pada kemampuan khusus yang didapatkan dari ilmu non-alam. Intuisi itu sepertinya suatu tindakan atau rentetan dari tindakan-tindakan yang berasal dari pengalaman. Intuisi ini hanya bisa didapatkan dengan melepaskan diri dari tuntutan-tuntutan tindakan, yaitu dengan membenamkan diri dengan kesadaran spontan.

Satu hal yang dicapai intuisi dan disebut sebagai objeknya adalah kepribadian diri manusia. Bergson mau mengatakan bahwa kenyataan absolut itu yang dikuak oleh intuisi metafisis adalah waktu yang tidak pernah habis. Manusia dapat menemukan kepribadiannya dengan berjalannya waktu, dan proses untuk sampai pada perubahan sepertinya sulit untuk berhenti. Dengan intuisi, manusia akan mendapatkan bentuk pengetahuan yang menyatakan realitas itu continu dan tak dapat terbagi. Realitas akan selalu berubah karena dalam hidup manusia akan selalu ada kebebasan akan kreativitas.

Pandangan semacam ini sebenarnya ingin mengkritik pandangan para filsuf terdahulu yang segalanya direfleksikan secara rasional. Dengan melihat hal ini, Bergson berusaha melengkapinya dengan metafisika yang selalu menghadirkan fakta konkrit dari gerakan. Maka dengan metafisika menurut Bergson, kenyataan itu berjalan, sedangkan yang selalu diberikan intelek hanyalah penampilan. Realitas itu disadari secara intuitif dan tidak terpotong-potong. Dengan begitu konsep-konsep intelek tidaklah bisa menjawab realitas secara menyeluruh.

Intuisi dalam Pemikiran Jawa

Dalam pemikiran Jawa, konsep intuisi lebih diyakini sebagai bentuk “olah roso” yang dimaknai untuk mengolah pikiran dan perasaan agar lebih peka. Konsep ini pada dasarnya sama dengan kegiatan meditasi untuk melampaui pemikiran rasional analitis. Semakin seseorang mengolah “roso”, semakin ia peka untuk memaknai kejadian-kejadian dalam hidup. Banyak hal yang dialami manusia, namun sulit dijelaskan dengan rasio. Di sinilah peran intuisi dalam kehidupan manusia.

Dr. Abdullah Ciptoprawiro mengatakan intuisi sebagai sesuatu yang mengandung perasaan dan pengetahuan, dibedakannyan dengan perasaan pancaindra, disebutnya dengan rasa sejati atau rasa jati. Tentang cara berfiikiran intutif atau menggalih (memikirkan) ini beliau mengatakan lebih lanjut sebagai sebuah cara yang akan meningkatkan kesadaran aku kepada kesadaran pribadi. Kesadaran aku dianggap tidak kekal-statis tetapi dapat berubah dinamis dengang peningkatan kesadaran.

Dalam pemikiran Jawa, soal intuisi ini tercermin dalam karya-karya sastra, serat ataupun suluk. Misalnya, Serat Jatimurti, karya Soedjonoredjo menjelaskan mengenai Rasasejati, yang tidak sejati. Demikian pula dapat ditemukan juga dari ajaran-ajaran Ki Ageng Suryomentaram tentang istilah rasa sejati yang berbeda dan aku kramadangsa. Sri Pakubuwana IV dalam Serat Wulang Reh menyebutnya dengan Rasa kang satuhu, Rasaning rasa.

Soal intuisi juga tertanam dalam wayang. Jika wayang dianggap berfungsi sebagai tuntunan/etika dan tontonan/estetika, maka konsep etika dan estetika filsafat jawa akan menunjukkan peran intuisi. Etika menjawab persoalan apa yang baik dan apa yang buruk. Pertentangan antara yang baik dan yang buruk, justru harus diatasi dengan peningkatan kesadaran yang akan membawa manusia kepada kesempurnaan. Maka, disini memperlihatkan adanya proses menuju pendewasaan jiwa. Pertentangan dan konflik yang dibangun dalam pergelaran wayang harus menunjukkan hal ini.

Demikian juga dengan estetika yang mempertanyakan tentang apa yang indah dan apa yang tidak indah. Keindahan dalam filsafat jawa akan diukur dengan “realitas tertinggi’. Dalam wayang harus nges, sem, renggep, yang semua itu merupakan pantulan dari keindahan dari “realitas tertinggi”.

Kesimpulan

Persoalan yang dihadapi manusia sangat kompleks. Tidak semua persoalan itu dapat diukur dengan penilaian secara matematik. Ada suatu kebenaran yang datangnya tidak dapat diprediksikan secara matematis, yaitu dengan hitungan secara pasti. Ini menunjukkan adanya alternatif sebuah sumber kebenaran yang dapat dilacak dari potensi-potensi yang ada dari kekuatan manusia sebagai anugerah Tuhan. Kekuatan ini lebih mengarah kepada bagaimana manusia mampu mengoptimalkan kekuatan potensial menjadi kekuatan aktual. Kekuatan aktual yang dapat diandalkan itu adalah intuisi.

Namun bagaimanapun, kebenaran intuisi tetaplah bukan kebenaran yang absolut, melainkan kebenaran yang bersifat tentatif dan relatif. Dalam realitasnya, intuisi memiliki kekuatan sekaligus kelemahan yang secara praktis dapat dilihat dan diamati dalam kehidupan empiris.

 

Filsafat Klasik

Filsafat Klasik

 

  • Zaman Yunani Klasik dimulai dari Socrates tetapi belum sampai pada suatu sistem filosofi. Filsafat klasik baru dibangun oleh Plato dan Aristoteles, berdasarkan ajaran Socrates tentang pengetahuan dan etika serta filosofi alam yang berkembang sebelum Socrates.
  • Socrates(470 SM-399 SM) lahir di Athena dari seorang ayah yang bekerja sebagai pembuat patung dan seorang ibu yang bekerja sebagai bidan.

Socrates berperan sebagai peletak dasar epistimologi. Ia menggunakan metoda dialektika dan menjadikan filsafat sebagai fungsi hidup. Dari metode dialektikanya, ia menemukan dua metode lain, yaitu Induksi dan definisi. Induksi digunakan ketika pemikiran bertolak dari pengetahuan yang khusus lalu menyimpulkan dengan istilah pengertian umum.definisi yaitu pembentukan pengertian yang berlaku universal.

Tujuan filsafat Socrates yaitu mencari kebenaran hakiki yang ia sampaikan dengan cara dialog.

Ciri filsafat Socrates yaitu ia membahas tentang pengertian, etika, alam, dan jiwa. Pengertian dipertanyakan dengan apa dan sebabnya mengapa. Etika merupakan budi yang mengandung pengertian tahu harus menghasilkan keinsafan moral, dan kebaikan merupakan jalan menuju kesenangan, Manusia itu pada dasarnya baik,sehingga manusia memiliki tujuan. Keadaan dan tujuan manusia ialah kebaikan  sifat dan kebaikan budinya. Dari pandangan etik itulah Socrates hidup dengan penuh rasa keagamaan. Menderita kezaliman lebih baik daripada berbuat zalim.

Alam ada sebagai tanda dari kebesaran Tuhan. Jiwa merupakan bagian dari Tuhan dan menyusup ke alam.

 

  • Plato(427 SM-347 SM) dilahirkan di Athena. Ia berperan sebagai peletak dasar Nilai atau lebih dikenal sebagai aksiologi.

 

Karyanya dimasa muda yaitu Apologia, Kriton, Ion, Protagoras, Laches, Politeia, Lysis, Charnides dan Euthyphorn. Ia pun menghasilkan karya di masa peralihan seperti Georgias, Kratylos dan Menon.

Ciri dari filsafat plato ini membahas jiwa, Hidup, negara dan etika.

Jiwa itu adikodrati, sudah sejak ajali. Dan ada di dalam idea. Jiwa memiliki fungsi rasional, kehendak dan keinginan. Rasional berarti memiliki kebijakan, ia memiliki kehendak berupa kegagahan dan memiliki keinginan dengan adanya fungsi pengendalian.

Hidup memiliki tujuan yaitu Eudaimonia yaitu untuk lebih baik.

Negara ada bertujuan untuk keselamatan yang diperintah. Penghuni negara itu terbagi tiga, yaitu tinggi( filosuf ), pembantu (prajurit), rendah(rakyat).

Etika itu menimbulkan baik dan buruk yang ditentukan oleh akal, bukan indra.

Idea dalam pandangan Plato itu ada, abstrak yang berarti yang ada itu gagasannya dulu, sudah ada sebelumnya.Idea bukan hanya pandangan jenis tetapi juga bentuk dari keadaan yang sebenarnya. Kata menurut Plato bukanlah sebuah pengertian tetapi bunyi saja. Dunia dalam pandangan Plato bersifat Immaterial.

 

  • Aristoteles(384 SM-322 SM) dilahirkan de Stageira pada Semenanjung kalkidike di Balkan dari seorang ayah yang bernama Mashon yang bekerja sebagai dokter istana pada raja Macedonia Amyntas II.

Karyanya sangat banya. Dalam bidang akademi ia membahas tentang idea dengan asas empiris sebagai hasil kerja panca indra. Ia mengkritik Plato tentang idea, karena ia mulai realistis.

Menurut Aristoteles Logika berarti meiliki pengertian berpatutan dengan benda tertentu, dan memiliki kategori berupa pengertian umum dan jumlah yang substansi, kuantitas, kualitas.

Menurutnya pertimbangan adalah gabungan dari pengertian dan penalaran. Penyyimpulan merupakan penalaran ditambah penalaran sehingga menghasilkan pertimbangan baru.

Karya yang luarbiasanya adalah filsafat etika, negara, logika juga metafisika. Ia dinobatkan sebagai bapak Logika.

Ia menghasilkan  teori sylogisme, yang berasal dari premis mayor dan premis minor yang kemusian menghasilkan kesimpulan.

Metafisika :

v  ada = dinamis, khule dan energi.

Ada, mutlak terwujud. Ada itu berasal dari tidak ada kemudian menjadi ada.

Potensi menjadi itu ada secara terwujud.

v   Gerak = menjadi, kemudian binasa. Terjadi oleh tuhan.

v   Materi =Potensi, form, aktuality,

 

Manusia :\

Tubuh itu materi tapi jiwa bentuknya;

Tubuh itu potensi tapi jiwa aktualitanya;

Jiwa itu aktif , ada asas hidup.

 

Pengetahuan, indrawi dan rasional. Indrawi karena dalam bentuk dan materi. Rasional yang memimpin pengetahuan.

 

Etika :

Tujuan hidup adalah eudaimonia, dan kebahagiaan adalah berfikir murni.

 

Negara :

Ideal yang bersifat monarki/kerajaan. Manusia itu zoon poloticon dan negara paling jelek adalah tirani.

 

Asas sesuatu:

Kebendaan = material causa;

Form = farmal causa;

Pembuat = active causa

Tujuan = final causa.

KEPRIBADIAN JEAN-PAUL SARTRE MENURUT TEORI PSIKOANALISIS SOSIAL KAREN HORNEY

KEPRIBADIAN JEAN-PAUL SARTRE
MENURUT TEORI PSIKOANALISIS SOSIAL KAREN HORNEY

“L’enfer c’est les autres.”
“Neraka, itulah orang lain.”
—Sandiwara Huis Clos (1944)

 

I. MASA BAHAGIA BERSAMA SANG IBU DAN KAKEK

Jean-Paul Charles Eymard Sartre dilahirkan dalam sebuah keluarga borjuis, 21 Juni 1905. Ayahnya, Jean Baptiste-Sartre, adalah seorang perwira muda angkatan laut yang, sayangnya, telah meninggal dunia sebelum ‘Poulou’, nama kecil J.P. Sartre, berusia satu tahun. Sejak saat itu, Poulou hidup bersama ibunya, Anne-Marie, yang kini menjanda pada usia 24 tahun. Anne-Marie dan putranya itu lalu pindah ke rumah orangtuanya (kakek Poulou) di Paris untuk tinggal bersama ayahnya, Charles Shweitzer, yang tidak lain adalah paman dari seorang teolog, ekseget, dan misionaris protestan terkenal, Albert Schweitzer.

Secara umum dapat dikatakan bahwa masa kecil Sartre pada tahun-tahun pertama hidupnya adalah sangat bahagia. Sartre sangat mengagumi perpustakaan kakeknya. Berbagai kisah kepahlawanan dan petualangan para ksatria dibacanya. Singkatnya, dunianya adalah perpustakaan kakeknya. Di samping itu, Sartre dan ibunya sama-sama diperlakukan sebagai anak di rumah sang kakek. Akibatnya, hubungan Sartre dengan ibunya lebih menyerupai hubungan adik dengan kakak. Figur ibu-kakak ini tak ayal lagi menjadi kebutuhan psikologis yang penting bagi Sarte kecil.

Menjadi pusat perhatian dan dikelilingi oleh keluarga yang sangat menyayanginya, Sartre kecil tumbuh dengan ego yang cepat membesar. Sampai-sampai, ia mendeklarasikan dirinya sendiri, “Aku adalah seorang jenius” (dan, memang, sesungguhnya ia seorang jenius). Kakeknya bahkan sempat merengkuh bocah itu ke dalam pangkuannya dan menyebut Sarte, “Harta karun kecilku!” Berambut pirang panjang dan bergelung-gelung, Sartre pun menyadari pula betapa tampan dirinya. Pendek kata, ia seakan hidup di surga.

Dipadukan dengan teori Karen Horney, Sartre kecil tampaknya mampu mengatasi ‘kecemasan makhluk’ (Angst der Kreatur, creature anxiety). Pengalaman kehilangan ayah dengan segera tergantikan oleh cinta kasih dari sang ibu. Dengan kata lain, corak self-effacement (moving toward others) terpenuhi lewat figur sang ibu (dan keluarga kakeknya). Figur sang ayah diakuinya sendiri tidak ia perlukan. Dengan memperoleh perhatian yang besar dari orang lain, Sartre dapat menaklukkan situasi yang mengancam (threatening situations), sehingga pada masa ini ia hampir tidak merasakan basic anxiety dan basic hostility.

Di sisi lain, perhatian berlebih yang diterima oleh Sartre kecil sekaligus memperkuat corak moving against others, terutama tipe narcissistic expansion. Hal ini tampak dari rasa percaya diri Sartre yang sangat tinggi (”aku tampan”) dan keyakinan tak-tergoyahkan akan talenta dan kemampuannya (“aku seorang jenius”). Akibatnya seperti siklus: ia memang disukai dan dimanja oleh keluarga besarnya—dan ia bersikap manis dan perayu demi mendapatkan perhatian itu kembali.

II. MUNCULNYA BASIC ANXIETY DAN BASIC HOSTILITY

Masa-masa kecil nan bahagia Sartre tidak berlangsung lama. Dalam perjalanan waktu selanjutnya, si Poulou menghadapi setidaknya dua peristiwa penting yang kemudian memunculkan basic anxiety dan basic hostility. Kedua peristiwa tersebut, sejalan dengan pendapat Karen Horney yang menekankan pentingnya masa kanak-kanak, dapat dianggap sebagai suatu faktor pendorong lahirnya filsafat eksistensialisme à la Sartre [terlepas dari penolakan terang-terangan Sartre atas psikoanalisis; ia membantah ada hubungan antara masa kecil dan (pemikiran) masa dewasanya].

2.1. Pengalaman akan Kejelekan Diri

Segalanya bermula ketika Sartre sekeluarga berlibur di pantai. Ia terkena demam. Celakanya, pada zaman itu profesi medis sangat dihormati, melampaui kapasitas yang sebenarnya. Demam yang menimpa Sartre dibiarkan (dianggap demam biasa) sehingga berkembang menjadi komplikasi serius. Alhasil, Sartre menderita leukoma di mata kanannya, yaitu pemutihan di kornea yang membuat penglihatan samar-samar. Mata kanannya lantas mengalami strabismus, seperti juling: kedua mata tidak dapat berfokus pada satu titik. Dengan kata lain, kedua mata Sartre tetap utuh, tetapi mata kanannya juling ke kanan dan tidak bisa melihat dengan benar.

Bencana terjadi ketika sang kakek membawanya ke tukang cukur. Dalam buku autobiografinya, Les Mots, ia menulis, “Saat diambil dari ibunya dia masih menakjubkan, tetapi saat dikembalikan kepadanya ia menjadi seekor kodok.” Ya, tanpa eufemisme ia mengakui rupanya begitu buruk seperti kodok. Itulah saat pertama Sartre menyadari betapa rupanya begitu jelek. Peristiwa ini sangat penting bagi konsep kunci filsafat Sartre kelak: tatapan mata (le regard) dan orang lain, liyan (l’autre). Tatapan liyan-lah (ibu, kakek, teman-teman) yang menjadikannya pusat perhatian, tetapi sekaligus menjatuhkannya. Dari liyan ia menyadari bahwa eksistensinya jelek. Jadi, eksistensi lahir dari tatapan mata liyan.

Ditilik dari perspektif Karen Horney, Sartre mengalami suatu kejatuhan besar bagi narcissistic expansion-nya. Kenyataan bahwa wajahnya seperti kodok menjatuhkan perasaan bangga sebelumnya bahwa ia tampan. Neurotic should (kebutuhan neurotik) berupa kekaguman pribadi yang dibentuk dalam idealized self-image (gambaran-diri ideal) kini tidak mampu lagi terpenuhi dalam actual self (diri aktual). Akibatnya, neurotic pride (“aku tampan”) tercerabut dari dirinya, digantikan oleh self-hate (“aku seperti kodok”).

Untuk ‘mengatasi’ hal itu, ia melakukan eksternalisasi (externalization) atas kejatuhannya sendiri (own fallibility): ia merasa jelek gara-gara tatapan mata liyan. Liyan berperan dalam kejelekan eksistensinya; seakan-akan bersikap hostile (tidak ramah, bermusuhan) terhadap dirinya. Kelak, dalam pengalaman berikutnya Sartre akan memperoleh ‘tamparan’ lebih besar yang menyebabkan munculnya basic anxiety dan basic hostility.

2.2. Pengalaman dengan Ayah Tiri

Bencana besar berikutnya datang. Pada 26 April 1917, setelah menjanda selama 10 tahun, Anne-Marie menikah lagi dengan Joseph Mancy, seorang borjuis. Joseph Mancy adalah direktur perusahaan galangan kapal lokal, Delaunay-Bellville. Kedua pasutri ini lalu bersama Sartre pindah ke La Rochelle, sebuah kota tepi-pantai yang jauh dari Paris.

Peristiwa ini dapat ditafsirkan sebagai ucapan selamat tinggal pada kehangatan ibu yang selama ini ia miliki secara eksklusif. Sartre, yang saat itu sudah berusia 12 tahun, merasa begitu ketakutan. Ia tidak lagi menjadi pusat perhatian; dirampas dari kehangatan kasih sayang baik sang ibu maupun keluarga kakeknya di Paris. Semenjak mereka tinggal di La Rochelle, Anne-Marie bahkan tidak pernah lagi membaca karya tulisan Sartre, padahal menulis adalah sarana ekspresi diri yang disadari Sartre sejak kecil (!). Dengan bersikap pasif dan tidak peduli, ibunya pun berubah menjadi liyan yang buruk di mata Sartre.

Sementara itu, hari-hari di La Rochelle dengan sang ayah baru dilalui Sartre dengan jauh lebih buruk. Joseph Mancy, alumnus École Polytechnique, adalah figur ayah dengan esprit de seriux, berjiwa serius, yang menjemukan Sartre. Setiap sore setelah pulang kerja, Mosieur Mancy akan memanggil anak tirinya itu ke ruang depan yang mewah untuk memberikan pelajaran tambahan geometri dan aljabar. Pendekatan ortodoks ia terapkan: jika Sartre tak bisa menjawab dengan benar soal yang diajukan, hukumannya adalah ditempeleng. Demikianlah, sang ayah tiri tidak hanya menghilangkan kebebasan berekspresi Sartre dan mereduksi Sartre kepada kebisuan (mutisme), melainkan juga mengindoktrinasi Sartre bahwa ia tidak pintar.

Pengalaman dengan ayah tiri ini menghujam dua corak dalam diri Sartre: self-effacement (moving toward others) dan narcissistic expansion (moving against others). Oleh sebab sang ayah tiri merampas Sartre dari ibu dan keluarga kakeknya di Paris, kebutuhan akan cinta dan penerimaan (salah satu should dari self-effacement) tidak lagi ia peroleh. Apalagi, ibunya yang ia harapkan dapat menjadi pelipur lara selama masa-masa suram di La Rochelle, ternyata malah bersikap pasif dan tidak peduli (neglect). Lantas, perasaan tidak dicintai (being unlovable) dan tidak diinginkan (unwanted) itu menimbulkan self-hate. Di samping itu, narcissistic expansion Sartre pun dihancurleburkan oleh indoktrinasi sang ayah bahwa dirinya tidak pintar dalam matematika. Sekali lagi, neurotic pride (“aku jenius”) terancam digantikan oleh self-hate (“aku bodoh”)—walaupun self-hate ini tidak berlangsung lama.

Persis pada saat itulah Sartre membangun basic anxiety, yang tidak lain merupakan perasaan amarah (rage) yang ditekan (repressed) selama masa kanak-kanak karena orangtua tidak mampu memenuhi kebutuhan anak akan rasa aman (the need for security) dan ekspresi diri (the need to express fundamental emotions and thoughts). Pengalaman basic anxiety berupa (1) kejelekan diri, (2) ditelantarkan (neglected), dan (3) ditolak intelektualitasnya (rejected), berpadu menjadi suatu fondasi bagi pemikiran dan sikap hidup eksistensialis Sartre, yang intinya memandang negatif liyan bagi kebebasan individu. Inilah basic hostility: liyan adalah figur yang tidak ramah (hostile) bagi individu. “Neraka adalah orang lain,” demikian satu kalimat dalam sandiwara yang ia tulis, Huis Clos (‘Pintu-pintu Tertutup’).

III. BERSEKOLAH DI LYCÉE

Menurut Karen Horney, corak resignation (moving away from others) seringkali terbentuk setelah seseorang mengalami tuntutan berlebihan (excessive demands) dari lingkungannya tanpa penghargaan (regard) akan individualitas dirinya. Dalam hal ini, tepatlah bila dikatakan bahwa Sartre dituntut terlalu banyak dari sang ayah tiri tanpa pujian secuil pun. Pengalaman-pengalaman tersebut mengubah secara radikal corak hubungan interpersonal Sartre, yang semula self-effacement dan narcissistic expansion menjadi resignation ketika remaja dan dewasa.

3.1. Dengan Teman-teman Sekolah

Di lycée (sejenis sekolah persiapan untuk masuk perguruan tinggi) Sartre ‘si pengkhayal berkacamata’ sering dicemooh oleh teman-teman sekolah karena ia tampil lebih necis dibandingkan semua mereka. Sikap anak-anak itu, anehnya, justru membuat Sartre puas akan kondisi dirinya (self-sufficient). Ia lantas menjadi seorang penyendiri yang tertutup—bukan karena ia merasa minder akibat cemoohan teman-temannya, melainkan karena independensi tak terkalahkan yang menjaga kepalanya tetap tegak. Neurotic should-nya ialah tidak terikat atau secara emosional terlibat dengan siapa pun. Oleh sebab itu, ia tidak merasa perlu untuk ‘melayani’ cemoohan itu. Cukup dengan kejeniusannya, ia akan sanggup mengatasi anak-anak yang ‘tidak ada apa-apanya’ itu.

Corak resignation tampak semakin jelas, bahkan, ketika banyak teman sekolah Sartre tinggal hanya bersama ibu mereka selama Perang Dunia I, sebab ayah mereka harus ikut berperang. Mereka yang ayahnya gugur di medan perang merasa kesepian dan ingin melampiaskan kesedihan pada siapa pun yang mereka anggap lemah. Sartre, tanpa simpati sedikit pun, sama sekali tidak berhasrat menyesuaikan diri dengan ‘gerombolan para dungu’ itu. Ia bersedia bergabung asalkan mereka mengikuti syarat-syarat yang ia tentukan sendiri (!).

3.2. Menolak Tuhan

Keinginan untuk bebas dan tdan tidak diganggu atau terikat oleh orang lain pada akhirnya mencapai suatu titik ekstrem ketika Sartre pada usia 12 tahun secara sadar melepaskan diri dari adanya ‘liyan’ teragung, Tuhan sendiri. Bagi Sartre ‘ABG’, Tuhan adalah figur yang suka menghukum, mahatahu, dan ada di mana-mana, sehingga mampu melongok ke setiap sudut-sudut relung hatinya yang diliputi rasa bersalah. Ini jelas memuakkan. “Aku membutuhkan seorang Pencipta Semesta, namun orang memberikan daku seorang bos nomor wahid.” Sartre menyebut gaya Tuhan ‘sang polisi’ ini sebagai ‘kekurangajaran yang keterlaluan’. Ia bercerita,

“Aku pernah bermain dengan korek api dan menghanguskan sebuah karpet kecil. Aku sedang bermaksud menyembunyikan perbuatanku, tatkala Tuhan tiba-tiba saja melihatnya. Aku merasakan tatapan mata-Nya di dalam benakku terdalam dan juga pada kedua tanganku; aku mengumpet-umpet di dalam kamar mandi sebentar di sini, sebentar di sana, namun brengseknya terus saja ketahuan, suatu sasaran yang hidup. Murkaku lalu timbul: aku jadi marah besar atas kekurangajaran yang kasar ini. Aku mengumpat, aku mengeluarkan sumpah serapah yang pernah kukenal selama ini. Sejak saat itu Tuhan tidak memandangiku lagi.”

Corak resignation membuat Sartre menganggap Tuhan mengganggu kebebasan (freedom) dan kedamaian sempurnanya (perfect serenity). Tuhan adalah liyan yang ikut campur urusan pribadi, mengungkit kesalahan-kesalahannya hingga ia tidak punya tempat untuk melarikan diri. Merasa muak, Sartre pun menolak Tuhan pada usia semuda itu. Kelak, pemikirannya ini akan ia kembangkan dan formulasikan dalam filsafat eksistensialis-ateistiknya: manusia sungguh-sungguh bebas dan, atas nama kebebasan, Tuhan harus tidak ada karena adanya Tuhan menghambat kebebasan manusia!

IV. PEMUDA PENGGILA FILSAFAT DAN WANITA

Sartre berhasil lulus ujian baccalauréat (ujian sekolah nasional) dan sejak tahun 1924 berkuliah di École Normale Supérieure, sebuah perguruan tinggi terkemuka dan sangat bergengsi di Perancis. Pada masa-masa ini Sartre mengembangkan pemikiran melalui diskursus filsafat dengan sesama mahasiswa di cafés di Left Bank, Perancis.

Di samping bergelut dengan buku-buku tebal, bir, dan obrolan filsafat, Sartre ternyata begitu kecanduan dengan wanita. Tampaknya Sartre mengalami satu tahapan vicious circle (‘lingkaran setan’) berikutnya: kebutuhan yang lebih berlebih akan afeksi dan cinta, yang mana tidak ia peroleh sejak ibunya menikah lagi. Dan, begitulah yang terjadi; banyak wanita terperdaya oleh intelektualitasnya. Daya tarik Sartre jauh mengungguli keburukan wajah ‘kodok’-nya itu. Ini menumbuhkan kembali kepercayaan diri Sartre, terutama daya rayunya, yang sejak kecil selalu meyakinkan dirinya, “Aku jenius.”

Salah satu gadis yang terpikat itu adalah Simone Bertrand de Beauvoir, gadis cantik dan brilian berusia 21 tahun. Ia mahasiswi ENS, 3 tahun di bawah Sartre. Berlatar belakang juga borjuis, Simone memperoleh pendidikan kelas atas dari para suster biara yang, ironisnya, justru ia tentang habis-habisan saat itu. Perkenalan Simone dan Sartre sendiri terjadi tahun 1928 ketika Sartre berusia 24 tahun. Sang ‘Castor’ (‘The Beaver’, Berang-berang), begitu julukan Sartre pada Simone, pun mengaku jatuh cinta pada pandangan pertama.

Dalam waktu singkat, Sartre menjalin kisah asmara dengan Simone. Baginya, Simone adalah pengganti ibu-kakak yang selama ini hilang. Corak self-effacement yang sebelumnya diarahkan pada sang ibu kini diambil alih oleh Simone. Dan, dalam banyak hal Simone benar-benar berperan ganda sebagai ‘ibu Sartre’: ia mengatur jam mandi, jadwal berpakaian, dan bahkan jadwal pemakaian salep jerawat Sartre (!). Perlakuan seperti ini memenuhi salah satu neurotic should dalam corak self-effacement, yaitu mitra yang akan mengurus kehidupan.

Akan tetapi, meskipun Sartre merasa menemukan amour nécessaire (cinta yang tidak bisa tidak, cinta yang perlu dan dibutuhkan) dalam diri Simone, ia tidak lantas menjadi sang ‘pengemis cinta’. Sebaliknya, setelah mereka berdua lulus ujian agrégation filsafat di ENS pada tahun 1929—dengan Sartre menduduki peringkat pertama dan Simone peringkat kedua—corak resignation Sartre tetap terasa begitu kental. Hal ini dapat dilihat ketika ia menawarkan suatu ‘pakta percintaan’ pada Simone: mereka sepakat untuk hidup bersama secara bebas, transparan, tanpa menikah, tanpa anak. Dengan prinsip transparansi, keduanya bebas berpacaran dan have sex dengan siapa pun asalkan saling memberitahu apa yang dilakukan (!)—sungguh suatu gebrakan atas moralitas konservatif kaum borjuis. Dengan begitu, wanita dan pria lain yang mereka kencani adalah sekadar amours contingentes; cinta-cinta yang kontingen, ada begitu saja, sewaktu-waktu bisa berubah. Pola seperti ini lagi-lagi merupakan indikator corak resignation, dalam arti ketiadaan komitmen atau ikatan (detachment, independence) dalam suatu hubungan interpersonal. Singkatnya, hanya ada satu komitmen, yaitu “tidak ada komitmen”.

Setelah mereka berdua terpisah karena Sartre harus menjalani masa wajib militer selama delapan belas bulan, pada tahun 1931 Sartre menerima tawaran mengajar filsafat di SMA khusus laki-laki, François Ière di kota pelabuhan Le Havre, sementara Simone mengajar di SMA khusus perempuan di Rouen, dekat Le Havre. Di sinilah Sartre sungguh mengajarkan dan memraktekkan hidup eksistensialis. Ia memperbolehkan murid-muridnya merokok, mengajari mereka seperti teman sendiri, berdiskusi di bar sambil minum bir, dan pergi ke rumah bordil tanpa sembunyi-sembunyi. Dengan semangat resignation ia menekankan kebebasan, ketaktergantungan (independence) diri sendiri; masa bodo dengan aturan moral kaum borjuis. Agaknya pendirian Sartre ini juga dilatarbelakangi kebencian pada gaya hidup borjuis ayah tirinya yang dulu melecehkan narcissistic expansion-nya itu. Meskipun populer di kalangan murid, akhirnya Sartre dipecat.

V. SARTRE DALAM TRIO AMOREUX: MENCINTAI, MENDOMINASI, SEKALIGUS MENGABAIKAN

Sepanjang hidupnya, Sartre terlibat affairs dengan banyak gadis. Selama mengajar di Le Havre, ia diperkenalkan oleh Simone dengan Olga Kosakiewics, salah satu siswi Simone di Rouen. Setelah trio pertama Sartre-Simone-Olga berakhir, giliran Wanda, adik perempuan Olga, masuk ke dalam lingkaran duo Sartre-Simone. Ironisnya, Simone, yang ternyata juga lesbian, terlebih dulu ‘menikmati daging-daging segar’ para siswinya sebelum memberikannya kepada Sartre.

Di samping para perempuan contigentes di atas, kisah trio amoreux yang paling menghebohkan barangkali adalah trio Sartre-Simone-Bianca. Bianca Lamblin, gadis 16 tahun keturunan Yahudi dari Polandia, adalah juga salah satu siswi Simone. Karena kekagumannya akan cara mengajar guru filsafatnya itu, Bianca terlibat dalam hubungan yang lebih intens dengan Simone. Lama-lama, hubungan mereka berdua bukan lagi seperti guru dengan murid. Bianca sendiri mulai berkenalan dengan konsep seks bebas dan menganggap homoseksualitas itu wajar—hal mana yang dipraktekkan guru yang dikaguminya itu. Puncaknya, pada usia 17 tahun ia berhubungan seks dengan Simone.

Pada tahun 1938, Simone ‘menggiring’ Bianca pada Sartre. Ia paham betul perangai Sartre yang selalu tergila-gila pada gadis baru. Demikianlah, Bianca pun juga mengagumi Sartre yang kejeniusannya mengalahkan ‘wajah kodok’-nya itu. Sartre sendiri terpesona dan mengencani Bianca dengan cara-cara yang romantis. Setelah menyatakan cintanya pada gadis belia itu, Sartre mengajak Bianca ke hotel untuk ‘menyempurnakan’ cinta mereka. Bencana. Di ranjang, Bianca merasa Sartre tidak sehangat biasanya. Ia bingung dan takut; ia merasa tengah dikasari. Akan tetapi, usai hubungan itu, ia merasa tetap terikat secara emosional dengan duo Sartre-Simone. Sartre sendiri selalu menyanjung Bianca dalam surat-surat cinta yang ia tuliskan. Maka, Bianca percaya ia tetap menjadi bagian dari trio tersebut.

Pengalaman paling menyakitkan terjadi ketika Hitler menyerbu Perancis, 1939. Terancam oleh identitas Yahudinya, Bianca malah diputus oleh Sartre tanpa alasan sedikit pun. Ketika akhirnya Bianca dapat bertemu Sartre, April 1940, Sartre hanya menjawab, “Saya tenang, karena saya yakin bahwa kamu akan bisa mengatasi kesedihanmu.” Tak disangka, di tengah situasi politik yang mengancam itu, Sartre tetap mengutamakan ‘ketenangan dirinya sendiri’, tanpa menaruh banyak perhatian pada mantan kekasihnya itu (not have to adjust to anyone else’s needs); atau setidaknya, orang-orang yang menderita akibat perang.

Dari pengalaman Bianca di atas, kita dapat melihat kombinasi kepribadian Sartre dalam relasi interpersonal dengan para wanita (dan gadis). Ia mencintai mereka (self-effacement, moving toward others), ia ingin menaklukkan mereka (expansion, moving against others), tetapi secara paradoksal ia sekaligus tidak ingin terikat pada mereka (resignation, moving away from others). Dari para wanita itu, Sartre ingin dicintai dan berhubungan seks (self-effacement). Namun, dalam relasi cinta tersebut ia hanya mau berada di posisi yang dominan. Dengan menulis surat cinta dan kencan romantis, ia mengontrol Bianca agar tetap ‘tunduk’ padanya (expansion). Pada akhirnya, meskipun orang lain terikat pada dirinya, ia sendiri tidak mau memiliki komitmen yang sama (resignation). Sartre sendiri berkilah,

“Kesadaran bebas manusia tidak bisa mengikatkan dirinya pada sebuah janji/sumpah apa pun. Karena janji adalah sesuatu di masa depan, sedangkan kebebasan tidak bisa dipinjamkan kepada masa depan. Itulah sebabnya manusia bebas tidak bisa berjanji/bersumpah.”

Konsekuensi dari ‘pakta percintaan’ Sartre-Simone memang besar (dan keterlaluan?). Orang ketiga di luar lingkaran mereka sungguh-sungguh dianggap liyan yang kontingen; ada begitu saja, bisa pula tidak ada. Olga, Winda, dan Bianca adalah wanita-wanita kontingen yang bisa dipakai dan dibuang begitu saja, setiap saat. Dan, sekali lagi, Sartre menjalankan corak resignation secara konsisten.

VI. SARTRE DALAM DUNIA POLITIK

Sikap hidup Sartre dalam menanggapi dinamika politik dunia dapat memberikan kesan membingungkan karena ambivalensi alias ketidakjelasan sikap yang ia ambil. Misalnya saja, pada tahun 1933-1934, Sartre pernah tinggal di Berlin untuk mempelajari fenomenologi Husserl di French Institute. Pada masa itu, Hitler sedang gencarnya mengumpulkan kekuatan untuk memulai proyek aryanisasi di bidang politik, sosial, dan budaya. Namun, Sartre justru tidak sadar akan adanya bahaya yang mengancam. “Inilah yang saya lakukan di Jerman, dari pagi sampai jam 2 siang: filsafat. Lalu saya makan siang. Jam lima sore sampai malam: kesusasteraan, saya kembali ke pekerjaan saya menulis la Nausée.” Celakanya, Sartre pun masih tidak percaya ketika Hitler sampai menyerang Perancis pada tahun 1939. Sartre seakan hanya berkutat pada dunianya sendiri (moving away from others), pada perfect serenity-nya sendiri. Ia tidak merasa perlu terlibat (detachment) dengan lingkungan sekitarnya; terbebas dari kehendak dan obsesi (free of desires and passions) zamannya.

Selain itu, sejak tahun 1952 Sartre memuja komunisme (barangkali sebagai perwujudan kebenciannya atas kaum borjuis). Ia mendukung habis-habisan rezim diktatorial URSS. Tetapi, baru pada tahun 1956, ketika URSS menyerbu Budapest, Hongaria, Sartre menyadari kesalahannya. Kesalahan yang sama diulanginya ketika ia mendukung Revolusi pimpinan Fidel Castro di Kuba—barulah pada tahun 1971 Sartre menarik kembali dukungannya. Celakanya, ia salah pilih kembali dengan mendukung Mao Zedong di Cina. Padahal, ia pernah menulis, “kepentingan partai atau kepentingan revolusi sering disalahgunakan untuk menjustifikasi apa pun.”

Ambivalensi sikap Sartre agaknya bisa dijelaskan dengan dalih yang sama seperti yang ia pakai dalam hubungan dengan wanita: manusia tidak bisa membuat janji. Sikap hidup yang bercorak resignation sungguh menghambatnya untuk benar-benar terlibat dengan orang lain dan lingkungannya. Baginya, peristiwa politik pun hadir dalam kontingensi; bisa ada, bisa pula tidak ada. Jadi, untuk apa berlelah-lelah menceburkan diri dalam lautan kontingensi, jika itu hanya merusak perfect serenity diri sendiri?

VII. EKSISTENSIALISME À LA SARTRE: PENGEJAWANTAHAN CORAK RESIGNATION

Di ranah filsafat, Sartre mengristalisasi pemikirannya akan eksistensi yang kontingen dan konsekuensinya atas relasi interpesonal melalui tulisan-tulisan. Sepanjang hidup hingga kematiannya, ia menghasilkan banyak karya-karya yang termasyhur: roman La Nausée (Rasa Muak, 1938); disusul naskah sandiwara Les Mouches (Lalat-lalat, 1943) dan Huis Clos (Pintu-pintu Tertutup, 1944); eksposisi L’Être et le Néant (Keberadaan dan Ketiadaan, 1943) dan L’Existentialisme est un humanisme (Eksistensialisme itu Humanisme, 1946); dan otobiografi Les Mots (Kata-kata, 1963).

Bukan pada tempatnya penulis membahas secara mendetail perkembangan pemikiran filsafat (dan politik) Sartre. Poin terpenting ialah penulis ingin menunjukkan bahwa sikap hidup eksistensialis à la Sartre yang cenderung individualis, bebas, mandiri, tidak mau terikat pada liyan (baik orang lain maupun Tuhan), mengganggap liyan adalah “neraka”, dan bertanggung jawab pada diri sendiri (bukan pada aturan moral kaum borjuis), sungguh mencerminkan, dalam terminologi Karen Horney, corak resignation (moving away from others).

Basic anxiety dan basic hostility yang dialami selama masa kecil bukan tidak mungkin menjadi fondasi psikologis utama yang membangun filsafat eksistensialisme Sartre. Sesungguhnyalah, kita dapat menarik benang merah dalam hal psikologi kepribadian Sartre yang terjalin sejak masa kanak-kanak hingga masa dewasa; teristimewa apabila kita berasumsi bahwa pemikiran seorang filsuf pasti dilatarbelakangi pengalaman hidupnya. Sartre bisa saja menolak faktor psikologis ini; tetapi, toh, sejarah menunjukkan bahwa Sartre tidak sendirian—Platon menolak demokrasi karena demokrasi-lah yang membunuh Sokrates, Agustinus menekankan rahmat Tuhan setelah bertobat dari kehidupan immoralnya, Emmanuel Lévinas menuntut kepedulian atas orang lain setelah keluarganya dibantai Nazi, dan Karl Marx membenci kaum kapitalis karena mengisap kaum buruh.

Oleh sebab itu, kita dapat menyimpulkan, dari perspektif Karen Horney, bahwa kepribadian Sartre dan seluruh bangunan filsafatnya akan kontingensi dan kebebasan memiliki corak umum

 

Makalah : FAZLURRAHMAN dan PEMIKIRANNYA

FAZLURRAHMAN

Oleh :

Oleh : Huda Nuralawiyah

PAI-A

08.01.263

Sekolah Tinggi Agama Islam Tasikmalaya


MUQODDIMAH

Pendidikan merupakan bagian penting dari kehidupan yang sekaligus membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Hewan juga “belajar” tetapi lebih ditentukan oleh instinknya, sedangkan manusia belajar berarti merupakan rangkaian kegiatan menuju pendewasaan guna menuju kehidupan yang lebih berarti. Anak-anak menerima pendidikan dari orang tuanya dan manakala anak-anak ini sudah dewasa dan berkeluarga mereka akan mendidik anak-anaknya, begitu juga di sekolah dan perguruan tinggi, para siswa dan mahasiswa diajar oleh guru dan dosen. Dalam pendidikan itu sendiri memiliki landasannya dan diantaranya adalah filsafat.

Filsafat adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan dijabarkan dalam konsep mendasar. Filsafat tidak didalami dengan melakukan eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan masalah secara persis, mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu. Akhir dari proses-proses itu dimasukkan ke dalam sebuah proses dialektika. Untuk studi falsafi, mutlak diperlukan logika berpikir dan logika bahasa.

Logika merupakan sebuah ilmu yang sama-sama dipelajari dalam matematika dan filsafat. Hal itu membuat filasafat menjadi sebuah ilmu yang pada sisi-sisi tertentu berciri eksak di samping nuansa khas filsafat, yaitu spekulasi, keraguan, rasa penasaran dan ketertarikan. Filsafat juga bisa berarti perjalanan menuju sesuatu yang paling dalam, sesuatu yang biasanya tidak tersentuh oleh disiplin ilmu lain dengan sikap skeptis yang mempertanyakan segala hal.

Filsafat Islam merupakan filsafat yang seluruh cendekianya adalah muslim. Ada sejumlah perbedaan besar antara filsafat Islam dengan filsafat lain.

Pertama, meski semula filsuf-filsuf muslim klasik menggali kembali karya filsafat Yunani terutama Aristoteles dan Plotinus, namun kemudian menyesuaikannya dengan ajaran Islam.

Kedua, Islam adalah agama tauhid. Maka, bila dalam filsafat lain masih ‘mencari Tuhan’, dalam filsafat Islam justru Tuhan ‘sudah ditemukan, dalam arti bukan berarti sudah usang dan tidak dbahas lagi, namun filsuf islam lebih memusatkan perhatiannya kepada manusia dan alam, karena sebagaimana kita ketahui, pembahasan Tuhan hanya menjadi sebuah pembahasan yang tak pernah ada finalnya.

Di dalam memahami ajaran agama Islam, setiap muslim amat tergantung pada kemampuan para ulama dalam menggali dan menarik kesimpulah hulum-hukum Islam dari sumbernya Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Dalam perkembangannya pemikiran Islam tidak saja hanya berkisar tentang hukum-hukum Islam, akan tetapi sudah berkembang sampai dengan Teologi, dan Filsafat. Bahkan dewasa ini sudah berkembang sampai dengan pemikiran Liberalis. Salah satu tokoh filsuf Muslim adalah Fazlurrahman. Untuk lebih memahami bagaimana Fazlurrahman dan Pemikirannya, berikut penjelasannya.

FAZLUR RAHMAN : INTELEKTUAL NEO-MODERNIS

Fazlur Rahman Malik yang dalam bahasa Urdu tertulis (فضل الرحمان ملک).

(21 September 1919 – 26 Juli 1988) adalah seorang pemikir Islam. Ayahnya bernama  Maulana Shihab al-Din.  Ia belajar mengenai hukum Islam (fiqh, hadits, Tafsir qur’an, logika, filsafat).[1]

Rahman lahir di HazaraKemaharajaan Britania (kini Pakistan). Ia mempelajari bahasa Arab di Universitas Punjab, dan menempuh mendidikan di Universitas Oxford dimana ia menulis disertasi mengenai Ibnu Sina. Setelah itu, Rahman memulai kariernya sebagai pengajar.[2]

Ia berkarir pertama kali di Universitas Durham dan kemudian di  Universitas McGill sampai tahunl 1961.Pada tahun 1961 ia kembali ke Pakistan untuk menjadi direktur pada Institute of Islamic Research dan menulis di koran-koran pakistan untuk mengkritik pemerintahan pakistan. Belakangan, ia juga diangkat sebagai anggota Advisory Council of Islamic Ideology Pemerintah Pakistan, tahun 1964 .

Lembaga Islam tersebut bertujuan untuk menafsirkan islam dalam term-term rasional dan ilmiah dalam rangka menjawab kebutuhan-kebutuhan masyarakat modern yang progresif. Sedangkan Dewan Penasehat Ideologi Islam bertugas meninjau seluruh hukum baik yang sudah maupun belum ditetapkan, dengan tujuan menyelaraskannya dengan “Al-Qur’an dan Sunnah”. Kedua lembaga ini memiliki hubungan kerja yang erat, karena Dewan Penasehat bisa meminta lembaga riset untuk mengumpulkan bahan-bahan dan mengajukan saran mengenai rancangan undang-undang.[3]

Sekembalinya ke tanah air, Pakistan, pada Agustus 1962, ia diangkat sebagai direktur pada Institute of Islamic Research. Belakangan, ia juga diangkat sebagai anggota

Karena tugas yang diemban oleh kedua lembaga inilah Rahman intens dalam usaha-usaha menafsirkan kembali Islam untuk menjawab tantangan-tantangan masa itu. Tentu saja gagasan-gagasan liberal Rahman, yang merepresentasikan kaum modernis, selalu mendapatkan serangan dari kalangan ulama tradisionalis dan fundamentalis di Pakistan. Ide-idenya di seputar riba dan bunga bank, sunnah dan hadis, zakat, proses turunnya wahyu Al-Qur’an, fatwa mengenai kehalalan binatang yang disembelih secara mekanis, dan lainnya, telah meledakkan kontroversi-kontroversi berskala nasional yang berkepanjangan. Bahkan pernyataan Rahman dalam karya magnum opusnya, Islam, bahwa “Al-Qur’an itu secara keseluruhannya adalah kalam Allah dan—dalam pengertian biasa—juga seluruhnya adalah perkataan Muhammad”, telah menghebohkan media massa selama kurang lebih setahun. Banyak media yang menyudutkannya. Al-Bayyinat, media kaum fundamentalis, misalnya, menetapkan Rahman sebagai munkir al-Quran. Puncak kontroversi ini adalah demonstrasi massa dan aksi mogok total, yang menyatakan protes terhadap buku tersebut. Akhirnya, Rahman pun mengajukan pengunduran dirinya dari jabatan Direktur Lembaga Riset Islam pada 5 September 1968. Jabatan selaku anggota Dewan Penasehat Ideologi Islam juga dilepaskannya pada 1969.

Akhirnya, Rahman memutuskan untuk pergi ke Chicago untuk menjabat sebagai guru besar dalam kajian Islam dalam segala aspeknya pada Departement of Near Eastern Languages and Civilization, University of Chicago. Bagi Rahman, tampaknya tanah airnya belum siap menyediakan lingkungan kebebasan intelektual yang bertanggungjawab.Ia meninggal pada tahun 1988 akibat komplikasi pembedahan jantung. Setelah kematiannya, tulisannya kemudian menjadi lebih populer di lingkungan mahasiswa muslim.[4]

Perkembangan Pemikiran dan Karya-karyanya

Dari selintas perjalanan hidup Fazlur Rahman di atas, Taufik Adnan Amal membagi perkembangan pemikirannya ke dalam tiga babakan utama, yang di dasarkan pada perbedaan karakteristik karya-karyanya: (I) periode awal (dekade 50-an); periode Pakistan (dekade 60-an); dan periode Chicago (dekade 70-an dan seterusnya).[5]

Ada tiga karya besar yang disusun Rahman pada periode awal: Avicenna’s Psychology (1952); Avicenna’s De Anima (1959); dan Prophecy in Islam: Philosophy and Orthodoxy (1958). Dua yang pertama merupakan terjemahan dan suntingan karya Ibn Sina (Avisena). Sementara yang terakhir mengupas perbedaan doktrin kenabian antara yang dianut oleh para filosof dengan yang dianut oleh ortodoksi. Untuk melacak pandangan filosof, Rahman mengambil sampel dua filosof ternama, Al-Farabi (870-950) dan Ibn Sina (980-1037). Secara berturut-turut, dikemukakan pandangan kedua filosof tersebut tentang wahyu kenabian pada tingkat intelektual, proses psikologis wahyu tehnis atau imaninatif, doktrin mukjizat dan konsep dakwah dan syariah. Untuk mewakili pandangan ortodoksi, Rahman menyimak pemikiran Ibn Hazm, Al-Ghazali, Al-Syahrastani, Ibn Taymiyah dan Ibn Khaldun. Hasilnya adalah kesepekatan aliran ortodoks dalam menolak pendekatan intelektualis-murni para filosof terhadap fenomena kenabian. Memang, Kalangan mutakallimun tidak begitu keberatan menerima kesempurnaan intelektual nabi. Tapi mereka lebih menekankan nilai-nilai syariah ketimbang intelektual.

Rahman sampai pada kesimpulan bahwa tidak ada perbedaan mendasar antara posisi filosofis dan ortodoksi. Sebab, perbedaan ada sejauh pada tingkat penekanan saja. Menurut para filosof, nabi menerima wahyu dengan mengidentifikasikan dirinya dengan Intelek Aktif; sementara menurut ortodoksi nabi menerima wahyu dengan mengidentifikasikan dirinya dengan malaikat. Sementara para filosof lebih menekankan kapasitas alami nabi sehingga menjadi “nabi-manusia”, ortodoksi lebih suka meraup karakter ilahiah dari mukjziat wahyu ini. Kelak, pandangan ini cukup mempunyai pengaruh terhadap pandangan Rahman tentang proses “psikologis” nabi menerima wahyu. Seperti halnya teori para filosof dan kaum ortodoks, Rahman berteori bahwa Nabi mengidentifikasikan dirinya dengan hukum moral.[6]

Pada periode kedua (Pakistan), ia menulis buku yang berjudul: Islamic Methodology in History (1965). Penyusunan buku ini bertujuan untuk memperlihatkan: (I) evolusi historis perkembangan empat prinsip dasar (sumber pokok) pemikiran Islam—Al-Qur’an, Sunnah, Ijtihad dan Ijma’; dan (ii) peran aktual prinsip-prinsip ini dalam perkembangan sejarah Islam itu sendiri. Buku kedua yang ditulis Rahman pada periode kedua ini adalah Islam, yang menyuguhkan—meminjam istilah Amin Abdullah—rekontruksi sistemik terhadap perkembangan Islam selama empat belas abad. Buku ini boleh dibilang sebagai advanced introduction tentang Islam.

Pada periode Chicago, Rahman menyusun: The Philosophy of Mulla Sadra (1975), Major Theme of the Qur’an (1980); dan Islam and Modernity:Transformatioan of an intellektual tradition (1982).

Kalau karya-karya Rahman pada periode pertama boleh dikata bersifat kajian historis, pada periode kedua bersifat hitoris sekaligus interpretatif (normatif), maka karya-karya pada periode ketiga ini lebih bersifat normatif murni. Pada periode awal dan kedua, Rahman belum secara terang-terangan mengaku terlibat langsung dalam arus pembaruan pemikiran Islam. Baru pada periode ketiga Rahman mengakui dirinya, setelah mebagi babakan pembaruan dalam dunia Islam, sebagai juru bicara neomodernis.

Temuan historis Rahman mengenai evolusi perkembangan empat prinsip dasar (Al-Qur’an, Sunnah, Ijtihad dan Ijma’), dalam bukunya Islamic Methodology in History (1965), yang dilatari oleh pergumulannya dalam upaya-upaya pembaruan (hukum) Islam di Pakistan, pada gilirannya telah mengantarkannya pada agenda yang lebih penting lagi: perumusan kembali penafsiran Al-Qur’an yang merupakan jantung ijtihadnya.

Dalam kajian historisnya ini, Rahman menemukan adanya hubungan organis antara sunnah ideal Nabi SAW dan aktivitas ijtihad-ijma’. Bagi Rahman, sunnah kaum muslim awal merupakan hasil ijtihad personal, melalui instrumen qiyas, terhadap sunnah ideal nabi SAW yang kemudian menjelma menjadi ijma’ atau sunnah yang hidup. Di sini, secara tegas Rahman menarik garis yang membedakan antara sunnah ideal nabi SAW di satu sisi, dengan sunnah hidup kaum muslim awal atau ijma’ sahabat di sisi lain. Dengan demikian, ijma’ pada asalnya tidaklah statis, melainkan berkembang secara demokratis, kreatif dan berorientasi ke depan.Namun demikian, karena keberhasilan gerakan penulisan hadis secara besar-besaran yang dikampanyekan Al-syafi’I untuk menggantikan proses sunah-ijtihad-ijma’ tersebut, proses ijtihad-ijma’ terjungkirbalikkan menjadi ijma’-ijtihad. Akibatnya, ijma’ yang tadinya berorientasi ke depan menjadi statis dan mundur ke belakang: mengunci rapat kesepakan-kesepakatan muslim masa lampau. Puncak dari proses reifikasi ini adalah tertutupnya pintu ijtihad, sekitar abad ke empat Hijrah atau sepuluh masehi.

Ijtihad yang diinginkan Rahman adalah upaya sistematis, komprehensif dan berjangka panjang. Untuk mencegah ijtihad yang sewenag-wenang dan merealisasikan ijtihad yang bertanggung jawab itulah, Rahman mengajukan metodologi tafsirnya, yang disusun belakangan pada periode Chicago. Dan dalam konteks inilah metodologi tafsir Rahman yang dipandangnya sebagai “the correct prosedure for understanding the Qur’an” atau “ the correct methode of Interpreteting The Qur’an”

Konsepsinya mengenai Al-Qur’an secara sederhana dapat dijabarkan ke dalam nuktah-nuktah sebagai berikut:

1. Al-Qur’an secara keseluruhannya adalah kalam Allah, dan dalam pengertian biasa, juga seluruhnya adalah perkataan Muhammad.

2. Al-Qur’an adalah respon ilahi, melalui ingatan dan pikiran nabi, terhadap situasi moral-sosial arab pada masa nabi, khususnya kepada masalah-masalah masyarakat dagang makkah pada waktu itu.

3. Karenanya, semangat atau elan vital Al-Qur’an adalah semangat moral, darimana ia menekankan monoteisme dan keadilan sosial. Hukum moral adalah abadi, ia adalah hukum Allah. Al-Qur’an terutama sekali adalah sebuah prinsip-prinsip dan seruan-seruan keagamaan serta moral, bukan sebuah dokumen legal. karenanya, keabadian kandungan legal spesifik Al-Qur’an terletak pada prinsip-prinsip moral yang menasarinya, bukan pada ketentuan-ketentuan harfiahnya.

4. Al-Quran merupakan sosok ajaran yang koheren dan kohesif. Kepastian pemahaman tidaklah terletak pada arti dari ayat-ayat individual Al-Qur’an, tetapi terdapat pada Al-Qur,an secara keseluruhan, yakni suatu satu set prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang koheren di mana keseluruhan ajarannya bertumpu.

5. Al-Qur’an adalah dokumen untuk manusia, bukan risalah mengenai Tuhan. Perhatian utama Al-Qur’an adalah perilaku manusia.Karenanya ia lebih berorientasi pada aksi moral ketimbang spekulasi intelektual.

6. Tetapi, di atas segalanya, dalam kenyataannya, Al-Qur’an itu laksana puncak gunung es yang terapung: sembilan sepersepuluh darinya terendam di bawah permukaan air sejarah dan hanya sepersepuluh darinya yang tampak ke permukaan. Tidak satupun dari orang-orang yang telah serius berupaya memahami al-Qur’an dapat menolak kenyataan bahwa sebagian besar Al-Qur’an mensyaratkan pengetahuan mengenai situasi-situasi kesejarahan yang baginya pernyataan-pernyataan Al-Qur’an memberikan solusi-solusi, komentar-komentar dan respon.

Sampai pada titik ini, Rahman menandaskan bahwa tujuan ideal-moral Al-Qur’an yang merupakan elan vitalnya itu telah terkubur dalam endapan geologis sebagai akibat dari proses reifikasi yang begitu panjang. Hal ini merupakan harga yang harus dibayar (cost) dari perluasan wilayah islam yang terlalu cepat, tanpa diimbangi infrastruktur tingkat pemahaman keagamaan yang memadai. Karena itu, metodologi yang diharapkan adalah metodologi yang, tentu saja, bisa menembus endapan sejarah tersebut sampai lapisan terdalam.

Dengan demikian, dapat pahami bahwa tujuan metodologi tafsir bagi Rahman adalah untuk menangkap kembali pesan moral universal Al-Qur’an yang obyektif itu, dengan cara membiarkan Al-Qur’an berbicara sendiri, tanpa ada paksaan dari luar dirinya, untuk kemudian diterapkan pada realitas kekinian. Misalnya, dalam masalah hukum, bagi Rahman, tujuan tafsirnya adalah untuk menangkap resiones logis yang berada di balik pernyataan formal Qur’an. Untuk inilah Rahman sering menyebut-nyebut kasus ijtihad Umar bin Khaththab yang dinilainya sebagai preseden baik (uswah) untuk mengeneralisasikan prinsip-prinsip dan nilai-niali umum yang berada di bawah permukaan Sunah dan bahkan teks Al-Qur’an.

Dikutip dari sebuah essai karya Mohammed Ihsan, Rahman mengkritik kecendrungan menafsir dan memperlakukan ayat-ayat al-Quran secara kerat-keratan dan tidak menentu yang hinga kini masih berlanjut. Dengan perubahan sosial dan adanya ide-ide baru dari Barat, setengah pemikir-pemikir Islam cenderung mencar-cari dan menggunakan ayat-ayat alquran yang dapat menjustifikasikan posisi mereka.[7]

Metodologi hasil pemikiran Fazlurrahman terlihat betapa perhatiannya terhadap Islam dan umatnya. Rahman ingin penafsiaran Islam selalu relevan bagi pemeluknya hingga mereka dapat hidup dibawah bimbingannya.

 

 

 

KHOTIMAH

Metodologi hasil pemikiran Fazlurrahman terlihat betapa perhatiannya terhadap Islam dan umatnya. Rahman ingin penafsiaran Islam selalu relevan bagi pemeluknya hingga mereka dapat hidup dibawah bimbingannya.

Pemikirannya yang utuh dan membumi karena bagian teologisnya tidak terpisah dari bagian hukum dan etikanya, ini adalah orisinilitas seorang cendikia yang menyumbangkan permikiran hebat bagi pemikir-pemikir Islam.

 

DAFTAR PUSTAKA

Taufik Adnan Amal, Islam dan Tantangan Modernitas: Studi Atas Pemikiran Hukum Fazlur Rahman, (Bandung: Mizan, 1996).

Taufik Adnan Amal, “Fazlur Rahman dan Usaha-usaha Neomodernisme Islam Dewasa Ini”, dalam Fazlur Rahman, Metode dan Alternatif. Bandung: Mizan, 1996

Mohamed Imran. Mohamed Taib.  Fazlurrahman (1919-1998) Perintis Tafsir Kontekstual. Yayasan Mendaki. Singapore. 2007. Pdf.

Research Notes. The concept of Islamic Tradition in fazlurrahman’s Thought* The American Journal of Islamic Social sciences 9:2

http://en.wikipedia.org/wiki/Fazlur_Rahman_Malik. 31 Maret 2011, 16:11

http://id.wikipedia.org/wiki/Fazlur_Rahman. 31 Maret 2011, 16:11

 

 

 

 


[1] his studies of Islamic law (fiqhhadithQur’anic tafsir, logic, philosophy and other subjects).

http://en.wikipedia.org/wiki/Fazlur_Rahman_Malik

[3]Taufik Adnan Amal, Islam dan Tantangan Modernitas: Studi Atas Pemikiran Hukum Fazlur Rahman, (Bandung: Mizan, 1996), h.43

[4] Since Rahman’s death his writings have continued to be popular among scholars of Islam and the Near East. His contributions to the University of Chicago are still evident in its excellent programs in these areas. In his memory, the Center for Middle Eastern Studies at the University of Chicago named its common area after him, due to his many years of service at the Center and at the University of Chicago at large. http://en.wikipedia.org/wiki/Fazlur_Rahman_Malik

[5]Taufik Adnan Amal, “Fazlur Rahman dan Usaha-usaha Neomodernisme Islam Dewasa Ini”, dalam Fazlur Rahman, Metode dan Alternatif…, h. 13-14.

[6]Ibid. h. 112

[7]Mohamed Imran. Mohamed Taib.  Fazlurrahman (1919-1998) Perintis Tafsir Kontekstual. Singapore. h.3…pdf.

Makalah : Mengapa Manusia lebih sempurna dari makhluk lain?

Oleh : Huda Nuralawiyah

PAI-A

08.01.263

Sekolah Tinggi Agama Islam Tasikmalaya

Bab I

Pendahuluan

  1. A.   Latar Belakang

Manusia adalah makhluk Allah yang paling sempurna, berbagai ayat dalam al-Qur’an menjelaskan tentang kesempurnaan penciptaan manusia kesempurnaan penciptaan manusia itu kemudian semakin “disempurnakan” oleh Allah dengan mengangkat manusia sebagai khalifah di muka bumi yang mengatur alam dan ekosistem ilahiyah yang rahmatan lil alamin, menaburkan potensi keselarasan, kemanfaatan, musyawarah dan kasih sayang ke penjuru alam serta memberdayakan seluruh ciptaanNya agar bermakna.

Keberadaan manusia  dengan predikat paling sempurna itu tidak selamanya  membawa manusia menjalani kehidupannya dengan kesenangan dan kebahagiaan.

Kesedihan dan kesengsaraan membuntuti perjalanan hidup manusia. Karena manusia dikaruniai kemampuan dengan derajat paling tinggi, maka kesenangan-kebahagiaan dan kesedihan-kesengsaraan itu berada di tangan manusia sendiri.

Mengingat keadaan seperti itulah, maka manusia  memerlukan upaya  untuk menjaga agar dirinya tetap bahagia dan tidak terjerumus ke dalam lembah kehinaan. Potensi-potensi yang ada pada diri manusia itulah yang akan mengantarkan manusia menuju ke arah ahsani taqwim (potensi terbaik) dan tidak terjerumus ke dalam asfala safilin (kehinaan, kerendahan).

Pada dasarnya fitrah manusia adalah baik, agar fitrah manusia itu teruji, maka dalam diri manusia dilengkapi dengan keresahan-keresahan dan godaan-godaan yang berlawanan dengan fitrah manusia.

Manusia juga dilengkapi dengan potensi untuk memperoleh  kesenangan, ambisi, kemenangan yang dapat membuat fitrah manusia itu  dalam kegelapan.

Oleh karena ituu, lantas bagaimana alquran menjelaskan tentang kesempurnaan penciptaan manusia ini?

Maka, makalah ini berusaha untuk mengulas bagaimana Alquran  membahas bahwa manusia adalah makhluq yang paling sempurna dibanding makhluq lainnya.

  1. B.           Perumusan Masalah

Didalam pembuatan makalah ini ada permasalah yang akan ditinjau, yaitu, apa yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya sehingga dianggap sempurna dalam Alquran?

C.Tujuan Penulisan Makalah

            Adapun tujuan penulisan makalah yang ini yaitu mengetahui apa yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya sehingga dianggap sempurna dalam Alquran

  1. D.           Metode Penulisan Makalah

Metode atau cara yang digunakan dalam penulisan makalah adalah melakukan studi kepustakaan dan mencari sumber dari Internet. Juga sumber-sumber lain yang dapat menjadikan referensi makalah yang kami buat ini.

  1. E.           Sistematika Penulisan Makalah

            Dalam Sistematika penulisan makalah ini terdiri dari :Kata Pengantar, Daftar Isi , Bab I Pendahuluan terdiri dari : Latar Belakang, Perumusan Masalah, Tujuan Penulisan Makalah, Metode Penulisan  Makalah, Sistematika Penulisan. Bab II Pembahasan terdiri dari 1. QS. Al Isro: 70, 2. Qs Al-muminuun:115-116.Bab III Penutup, daftar pustaka.

 Bab II

Pembahasan

 

Alloh menjelaskan bahwa manusia adalah makhluq yang lebih mulia disbanding makhluq lainnya, yaitu dalam QS. Al Isro: 70, Qs Al-muminuun:115-116.

Berikut penjelasannya.

  1. 1.    QS. Al Isro: 70

* ô‰s)s9ur $oYøB§x. ûÓÍ_t/ tPyŠ#uä öNßg»oYù=uHxqur ’Îû ÎhŽy9ø9$# ̍óst7ø9$#ur Nßg»oYø%y—u‘ur šÆÏiB ÏM»t7ÍhŠ©Ü9$# óOßg»uZù=žÒsùur 4’n?tã 9ŽÏVŸ2 ô`£JÏiB $oYø)n=yz WxŠÅÒøÿs? ÇÐÉÈ

70. dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan[1], Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.

[1] Maksudnya: Allah memudahkan bagi anak Adam pengangkutan-pengangkutan di daratan dan di lautan untuk memperoleh penghidupan.

Ayat ini menjelaskan bahwa manusia adalah makhluq yang unik yang memiliki kehormatan dalam kedudukannya sebagai manusia baik ia taat beragama ataupun tidak.

Dengan bersumpah sambil mengukuhkan  pernyataan-Nya dengan kata qad, ayat ini menyatakan bahwa dan Kami, yakni alloh bersumpah bahwa sesungguhnya telah Kami muliakan anak cucu Adam dengan berntuk tubuh yang bagus, kemampuan berbicara dan berfikir, seerta berpengetahuan dan Kami beri juga mereka kebebasan memilah dan memilih.

Dan Kami angkut mereka di daratab dab di lautan dengan aneka alat transportasi yang Kami ciptakan dan tundukkan bagi mereka, atau yang Kami ilhami mereka pembuatannya, agar mereka dapat menjelajahi bumi dan angkasa yang kesemuanya kami ciptakan untuk mereka. dan kami juga beri mereka rizki dari yang baik-baik sesuai kebutuhan mereka, dan dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.

Kami lebihkan mereka dari hewan, dengan akal dan daya cipta, sehingga menjadi makkhluq bertanggungjawab. Kami lebihkan yang taat dari mereka atas malaikat karena ketaatan manusia melalui perjuangan melawan syetan dan nafsu, sedang ketaatan malaikat atanpa tantangan.

Ayat ini tidak menjelaskan berntuk kehormatan, kemulian dan keistimewaan yang dianugrahkan Alloh kepada  anak cucu Adam,as. Itu agaknya untuk mengisyaratkan bahwa kehormatan tersebut banyak dan ia tidak khusus untuk satu ras atau generasi tertentu, tidak juga berdasar agama atau keturunan, tetapi dianugrahkan untuk seluruh anak cucu Adam.

Ayat ini merupakan salah satu dasar menyangkut pandangan Islam tentang hak-hak asasi manusia. Manusia, siapapun, harus dihormati hak-haknya tanpa perbedaan. Semua memiliki hak hidup, hak berbicara dan mengeluarkan pendapat.

Akan tetapi, manusia pada hakekatnya sama saja dengan mahluk hidup lainnya, yaitu memiliki hasrat dan tujuan. Ia berjuang untuk meraih tujuannya dengan didukung oleh pengetahuan dan kesadaran. Perbedaan diantara keduanya terletak pada dimensi pengetahuan, kesadaran dan keunggulan yang dimiliki manusia dibanding dengan mahluk lain.

Manusia sebagai salah satu mahluk yang hidup di muka bumi merupakan mahluk yang memiliki karakter paling unik. Manusia secara fisik tidak begitu berbeda dengan binatang, sehingga para pemikir menyamakan dengan binatang. Letak perbedaan yang paling utama antara manusia dengan makhluk lainnya adalah dalam kemampuannya melahirkan kebudayaan. Kebudayaan hanya manusia saja yang memlikinya, sedangkan binatang hanya memiliki kebiasaan-kebiasaan yang bersifat instinctif.

Dibanding dengan makhluk lainnya, manusia mempunyai kelebihan.kelebihan itu membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Kelebihan manusia adalah kemampuan untuk bergerak dalam ruang yang bagaimanapun, baik di darat, di laut, maupun di udara. Sedangkan binatang hanya mampu bergerak di ruang yang terbatas. Walaupun ada binatang yang bergerak di darat dan di laut, namun tetap saja mempunyai keterbatasan dan tidak bisa meampaui manusia. Mengenai kelebihan manusia atau makhluk lain dijelaskan dalam surat Al-Isra ayat 70.

Diantara karakteristik manusia adalah :

1.Aspek Kreasi

2.Aspek Ilmu

3.Aspek Kehendak

4.Pengarahan Akhlak

2. Qs Al-muminuun:115-116.

óOçFö7Å¡yssùr& $yJ¯Rr& öNä3»oYø)n=yz $ZWt7tã öNä3¯Rr&ur $uZøŠs9Î) Ÿw tbqãèy_öè? ÇÊÊÎÈ   ’n?»yètGsù ª!$# à7Î=yJø9$# ‘,ysø9$# ( Iw tm»s9Î) žwÎ) uqèd >u‘ ĸöyèø9$# ÉOƒÌx6ø9$# ÇÊÊÏÈ

 

115. Maka Apakah kamu mengira, bahwa Sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami?

116. Maka Maha Tinggi Allah, raja yang sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (yang mempunyai) ‘Arsy yang mulia.

Dalam ayat  ini, manusia diingatkan tentang kelemahan mereka dengan menyatakan : Jika demikian kenyataan yang akan kamu hadapi, maka apakah kamu durhaka dan melecehkan tuntunan Kami dan kaum beriman karena kamu mengira, bahwa Sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), /sia-sia tanpa hikmah dan kamu menyatakan dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami, yakni dibangkitkan hidup kembali setelah kematian kamu guna mempertanggungjawabkan semua amal kamu? Tidak, sungguh kamu keliru jika mengira demikian.

Maka Maha Tinggi Alloh, Raja penguasa Tunggal Yang Haw, yang tidak disentuh oleh kebatilan, kekurangangan, dan kepunahan tidak ada tuhan penguasa dan pengendali alam raya lagi yang berhak disembah lagi selain dia, tuhan Pemilik dan Pengendali Arsyi yang mulia.

Kata ‘abatsan/sia-sia/main-main, yakni perbuatan yang tidak bermanfaat.

Pernyataan ayat di atas menunjukkan keniscayaan adanya hari pembalasan. Karena dalam kehidupan dunia ini, terbukti ada manusia yang baik dan berlaku adil, dan adapula sebaliknya. Seandainya Alloh tidak member balasan yang setimpal, maka tentu hal  itu mengakibatkan sia-sianya kebaikan yang berbuat baik. Demikian juga harapan mereka yang belum terbalas kekejaman para penganiaya.

Jadi, manusia adalah makhluk sempurna dibandingkan dengan makhluk-makhluk lainnya ciptaan Allah Swt. Menurut Muhaimin dan Abdul Mujib, Allah Swt menciptakan manusia dengan membawa jiwa imanitas dan humanitas yang tumbuh sebelum manusia lahir di dunia. Pangkal insaniah manusia terletak pada jiwa imanitasnya, sedangkan jiwa insaniah tumbuh sebagai pancaran dari jiwa imanitasnya, jiwa inilah yang menandakan substansi kemanusiaan manusia yang berbeda denga substansi makhluk-makhluk lainnya. 

Bab III

Penutup

 

Alloh melebihkan manusia dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Ia ciptakan.

Alloh lebihkan manusia dari hewan, dengan akal dan daya cipta, sehingga menjadi makkhluq bertanggungjawab. Alloh lebihkan yang taat dari manusia atas malaikat karena ketaatan manusia melalui perjuangan melawan syetan dan nafsu, sedang ketaatan malaikat atanpa tantangan.

Alloh juga melebihkan dalam penciptaan manusia yang memiliki tujuan, tidak hanya main-main saja.

 

Daftar Pustaka

 

Shihab, M Quraish. Tafsir Al-Mishbah Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Quran Vol 10. Jakarta:Lentera Hati,2002.

Departemen Agama RI. Alquran dan Tafsirnya, Jilid 7 juz 19-20-21.Jakarta,2009.

AN  Syadeli, Muchsin. Penelitian Baru-2009.(soft file)

www.psq.or.id

http://www.ajenkkartika.blogspot.com


Makalah : Tafsir Tarbawi. Pandangan Alquran tentang”Tujuan Hidup Manusia”.

Oleh : Huda Nuralawiyah

PAI-A

08.01.263

Sekolah Tinggi Agama Islam Tasikmalaya

Bab I

Pendahuluan

Setiap manusia haruslah mengetahui siapa dirinya, kenapa dia dilahirkan, dan apa tujuan dan tugas-tugas hidupnya, berapa lama dia bisa hidup di dunia ini, dan kemana dia pergi setelah meninggalkan dunia ini?

Kalau manusia tidak bisa menjawab dengan benar, maka hidupnya seperti manusia yang hidup di hutan-huta yang menutup auratnya dengan daun daunan. Mereka tidak berilmu.

Mereka tidak tahu tujuan hidupnya. Mereka menjalankan hidup seperti binatang saja yaitu kawin, beranak, dan kalau sudah dewasa anak di kawinkan lagi demikian seturusnya dan terakhir meninggal dunia.

Orang orang yang tinggal di kota pun banyak yang tidak mengetahui tujuan hidupnya. Ada yang mengatakan untuk mencari hidup yang bahagia, berkeluarga serta membesarkan dan mendidik anak-anak.

Mencari hidup yang bahagia juga bermacam macam;
ada yang bertapa, berzikir berjam jam di kamar yang gelap,ada yang hidup sederhana, ada yang mencari uang untuk memenuhi keinginannya, dll.

Apakah tujuan hidup mencari bahagia menuntut ALLAH? Jawabannya adalah tidak.

Pendapat ulama/usztad pun berbeda-beda.

Ada sebahagian ulama mengatakan untuk mencari ALLAH atau mendekati diri kepada ALLAH dengan berzikir (memuji-muji ALLAH) dalam kamar, dan bertapa.

Ada yang mengatakan untuk beribadah kepada ALLAH dengan menjalankan shalat, puasa,naik haji dan berzakat. Kalau rukun islam ini sudah dikerjakan,sudah merasa berislam yang benar. Mana yang benar cara-cara demikian?

Untuk mendapatkan jawaban yang benar mari kita lihat Al quran yang di buat oleh ALLAH. Yang mana ALLAH juga menciptakan manusia, sudah tentu ALLAH lah yang Maha Tahu akan ciptaannya bukan?
Dalam AL Quran ALLAH telah dijelaskan dengan detail dan sempurna. Berikut akan kita bahas pada bab selanjutnya. 

Bab II

Pembahasan

Dalam silabus yang kami terima, tujuan hidup manusia dijelaskan dalam  :

  1. 1.            QS. Adzdzariyat :56

$tBur àMø)n=yz £`Ågø:$# }§RM}$#ur žwÎ) Èbr߉ç7÷èu‹Ï9 ÇÎÏÈ  

56. dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

Beribadah (worship) kepada ALLAH diartikan menyembah(shalat) kepada ALLAH, berpuasa, naik haji, berbuat kebaikan-kebaikan dll.Kalau sudah menjalankan rukun islam ini(ritual), maka mereka sudah merasa beragama dengan benar.

Sesungguhnya bukanlah demikian menurut ALLAH. Penjelasan seperti diatas itu belumlah sempurna, sehingga hasilnya pun juga tidak sempurna. Seperti kita lihat masarakat islam sekarang ini yang masih terbelakang.

Beribadah kepada ALLAH bukanlah menyembah ALLAH saja, bukan menjalankan rukun islam yang lima saja, dan berbuat kebajikan saja, tetapi maknanya jauh dari itu.

Kalau diartikan seperti diatas ini,maka kita lihat hasilnya adalah masarakat yang tidak produktif alias miskin.Sangat menyedihkan bukan? Beribadah kepada ALLAH SWT artinya mengabdi atau bekerja untuk ALLAH dengan sungguh-sungguh.

ALLAH adalah Raja di Raja di bumi dan dilangit ini. Sebagai hamba2 atau pekerja2 (kariawan2) ALLAH,maka manusia seharusnya patuh dan taat mengikuti semua peraturan-peraturan ALLAH bagaimana cara hidup dan bagaimana cara berkerja di dunia ini.

Semua peraturan-peraturan ALLAH itu tertulis dalam kitab-kitab sucinya; Taurat,injil dan AL Quran. Al Quran adalah buku pedoman hidup manusia yang terakir, dan sempurna.

Kita sudahtahu apa tujuan hidup kita yaitu mengabdi atau bekerja untuk ALLAH.

Menurut Prof Muchsin An Syadeli, Asbabun Nuzul surat Adz-Dzâriyât ayat 56 tersebut di atas berkaitan dengan kewajiban manusia sebagai hamba Allah untuk selalu beribadah kepada-Nya sesuai dengan kemampuannya.

Jadi, diciptakannya manusia di dunia ini adalah sebagai hamba Allah yang bertugas untuk senantiasa beribadah kepada-Nya.

Sebagai hamba Allah, manusia diwajibkan beribadah kepada penciptanya, dalam arti selalu tunduk dan taat perintah-Nya guna mengesakan dan mengenal-Nya sesuai dengan petunjuk yang telah diberikannya.

Syekh Muhammad Abduh menginterpretasikan kata liya’budûn     dalam surat Adz-Dzâriyât ayat 56 di atas sebagai rasa ketaatan dengan       penuh kemerdekaan, dan setiap ungkapan yang menggambarkan makna     secara sempurna. Selanjutnya Abduh menegaskan bahwa ibadah pada hakikatnya adalah sikap tunduk semata-mata untuk mengagungkan Dzat      yang disembahnya, tanpa mengetahui dari mana sumbernya dan       kepercayaan terhadap kekuasaan yang terdapat di dalamnya tidak dapat dijangkau oleh pemahaman dan hakikatnya. Pengertian di atas       menunjukkan bahwa ibadah bukan berarti seseorang yang sangat rindu       ingin mengagungkan dan mematuhi kekasihnya, sehingga kemauan          dirinya menyatu dengan kehendaknya.[1]

Sedangkan Abul A’la Al-Maududi menyatakati bahwa ibadah dari akar        kata ‘aabd yang artinya pelayan dan budak. Jadi, hakikat ibadah adalah penghambaan dan perbudakan, sedangkan dalam arti terminologinya adalah usaha mengikuti hukum-hukum dan aturan-aturan Allah dalam menjalankan kehidupan yang sesuai dengan perintah-perintah-Nya dari   mulai akil baligh sampai meninggal dunia. Indikasi ibadah adalah  kesetiaan, kepatuhan, dan penghormatan, serta penghargaan kepada Allah Swt yang dilakukan tanpa adanya batasan waktu serta bentuk khas tertentu.[2]

Ibadah mempunyai dua pengertian, yaitu pengertian khusus dan pengertian umum. Dalam pengertian khusus, ibadah adalah melaksanakan peraturan-peraturan yang mengatur hubungan antara hamba dan Tuhannya yang tatacaranya telah diatur secara terperinci di  dalam AI-Qur’an dan As-Sunnah, sedangkan ibadah dalam arti umum adalah aktivitas yang titik tolaknya ikhlas dan ditujukan untuk mencapai  ridla Allah berupa amal shaleh.[3]

            Dalam prakteknya, ibadah dapat digolongkan ke dalam ibadah person, ibadah  antarperson, dan ibadah social. Ibadah person maksudnya adalah pelaksanaan suatu aktivitas yang tidak memerlukan keterlibatan orang lain, melainkan semata-mata bergantung pada  kesediaan pihak yang bersangkutan sebagai hamba Allah yang otonomi. Beberapa hal yang masuk dalam kategori ibadah person ini adalah amaliah keagamaan yang bersifat ritual seperti shalat, puasa, dan  sebagainya.

Sedangkan ibadah antarperson maksudnya adalah amaliah yang pelaksanaannya bergantung pada prakarsa pihak yang bersangkutan selaku hamba Allah secara otonomi, tetapi dalam prakarsa pihak lain  sebagai hamba Allah yang juga otonomi. lbadah kategori ini harus  mengikuti aturan subjektif yang berdimensi person juga aturan objektif   yang berdimensi sosial, misalnya pernikahan yang hanya terdapat prakarsa bebas dari pihak laki-laki secara mutlak, tetapi tanpa prakarsa  yang sama dari pihak mempelai wanita tidaklah dapat dilaksanakan.

Adapun ibadah sosial maksudnya adalah kegiatan interaktif antar masing-masing individu dengan pihak lain yang dibangun dengan kesadaran diri sebagai hamba Allah. Bentuk ibadah sosial ini diantaranya adalah hubungan ekonomi, politik, sosial, budaya, keamanan, dan sebagainya, baik berlevel regional, nasional maupun internasional.[4]

Jadi, tujuan hidup manusia di dunia. ini adalah untuk beribadah  kepada Allah Swt dalam berbagai aspeknya. Ibadah dalam artian menghambakan dirinya kepada peraturan-peraturan yang dibuat oleh Allah Swt untuk kepentingan manusia agar mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

  1. 2.            QS.Albaqoroh:200-201

#sŒÎ*sù OçGøŠŸÒs% öNà6s3Å¡»oY¨B (#rãà2øŒ$$sù ©!$# ö/ä.̍ø.ɋx. öNà2uä!$t/#uä ÷rr& £‰x©r& #\ò2ό 3 šÆÏJsù Ĩ$¨Y9$# `tB ãAqà)tƒ !$oY­/u‘ $oYÏ?#uä ’Îû $u‹÷R‘‰9$# $tBur ¼ã&s! †Îû ÍotÅzFy$# ô`ÏB 9,»n=yz ÇËÉÉÈ   Oßg÷YÏBur `¨B ãAqà)tƒ !$oY­/u‘ $oYÏ?#uä ’Îû $u‹÷R‘‰9$# ZpuZ|¡ym ’Îûur ÍotÅzFy$# ZpuZ|¡ym $oYÏ%ur z>#x‹tã ͑$¨Z9$# ÇËÉÊÈ

200. apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, Maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu[126], atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang bendoa: “Ya Tuhan Kami, berilah Kami (kebaikan) di dunia”, dan Tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat.

201. dan di antara mereka ada orang yang bendoa: “Ya Tuhan Kami, berilah Kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah Kami dari siksa neraka”[127].

[126] Adalah menjadi kebiasaan orang-orang Arab Jahiliyah setelah menunaikan haji lalu Bermegah-megahan tentang kebesaran nenek moyangnya. setelah ayat ini diturunkan Maka memegah-megahkan nenek moyangnya itu diganti dengan dzikir kepada Allah.

[127] Inilah doa yang sebaik-baiknya bagi seorang Muslim.

Apabila kamu telah menyelesaikan secara tuntas rukun-rukun ibadah haji kamu, maka berdzikirlah kepada Alloh yang telah member tuntunan dan kemampuan kepada kamu sehingga dapat melaksanakannya dengan baik.

Hidup manusia sedapat mungkin selalu berada dalam lingkungan Illahi, ia di tuntut  untuk selalu mengingat alloh. Itulah antara lain makna thawaf yakni berkeliling Kabah sebanyak tujuh kali. Hal ini perlu diingatkan , karena boleh jadi ada yang menduga bahwa dengan tuntunan yang lalu, bolehlah, sejenak melupakan Alloh. Tidak! Karena tuntunan ayat beikutnya(200) adalah apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, Maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, dengan berbagai cara yang telah diajarkannya.

Dalam ayat 101, yang mereka mohonkan bukan segala kesenangan dunia, tetapi yang bersifat hasanah, yaitu yang baik, bahkan bukan hanya dunia tapi juga akhirat.

Jadi salah satu tujuan hidup manusia adalah untuk mendapatkan kebahagian dunia dan akhirat dengan melalui ridha Alloh.

  1. 3.            QS. Albaqoroh : 207

šÆÏBur Ĩ$¨Y9$# `tB “̍ô±o„ çm|¡øÿtR uä!$tóÏGö/$# ÉV$|ÊósD «!$# 3 ª!$#ur 8$râäu‘ ϊ$t6Ïèø9$$Î/ ÇËÉÐÈ

207. dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.

Secara redaksionalpun, maksud dari ayat ini pun jelas, bahwa manusia patut menghambakan dirinya kepada Alloh, untuk mencari keridhaan-Nya.

  1. 4.            QS. Albaqoroh:209

bÎ*sù OçFù=s9y— .`ÏiB ω÷èt/ $tB ãNà6ø?uä!%y` àM»oYÉit6ø9$# (#þqßJn=÷æ$$sù ¨br& ©!$# ͕tã íOŠÅ6ym ÇËÉÒÈ

209. tetapi jika kamu menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran, Maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Ayat ini dengan jelas, bagai mana alloh telah menunjukkan bahwa barang siapa yang berusaha bangkit dengan bertaubat dari ketergelinciiaran, maka ia akan mendapat rahmat Alloh, seperti Nabi Adam yang pernah mengalami hal ini.

 Bab III

Penutup

Jadi, tujuan hidup kita yaitu mengabdi atau bekerja untuk ALLAH guna mendapatkan kebahagian dunia dan akhirat dengan melalui ridha-Nya.

Demikianlah ALLAH memberitahukan, apa tujuan hidup manusia di bumi ini menurut ALLAH yang menciptakan manusia, sebagaimana yang telah dikemukakan dalam ayat-ayat dalam Pembahasan.

Mudah-mudahan kita sebagai pekerja-pekerja atau hamba-hamba ALLAH yang baik,yang taat, maka marilah kita perbaharui niat dan tujuan hidup kita semoga kita semua mendapat kasih sayang , kepercaaan dan cinta ALLAH. Semoga hidup yang sekali ini akan sukses dan diberkahi oleh ALLAH.

Kalau kita cinta dan takut kepada ALLAH mari kita rajin-rajin belajar dan bekerja untuk mensejahterakan keluarga,masarakat dan umat islam pada umumnya agar umat2 lain dapat mencontoh cara hidup yang benar dari ALLAH.

Semoga penjelasan yang singkat ini dapat menggugah hati-hati pemuda-pemuda islam yang ingin melihat umat Islam berjaya kembali dalam segala aspek penghidupan.

Daftar Pustaka

 

Shihab, M Quraish. Tafsir Al-Mishbah Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Quran Vol 10. Jakarta:Lentera Hati,2002.

Departemen Agama RI. Alquran dan Tafsirnya, Jilid 7 juz 19-20-21.Jakarta,2009.

AN  Syadeli, Muchsin. Penelitian Baru-2009.


[1] Yusuf al-Qordlowy, Ibadah Fil Islam, Cet. I (Bangil : Pustaka Abdul Muis, 1981), hal. 35-38.

[2] Abul A’la Al-Maududi, Fundamentals of Islam, Terjemahan Achsin Muhammad, Cet. I (Bandung: Pustaka, 1984), hal. 107.

[3]Muslim Ibrahim, Pendidikan Agama Islam untuk Mahasiswa Cet. I (Yogyakarta: Erlangga, 1990), hal. 60.

[4] Masdar F. Mas’udi, Agama Keadilan, Risalah Zakat (Pajak) dalam Islam, Cet. I (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1991) hal. 132-135.

Makalah : Pandangan Alquran tentang kesempurnaan penciptaan manusia

Oleh : Huda Nuralawiyah

PAI-A

08.01.263

Sekolah Tinggi Agama Islam Tasikmalaya

Bab I

Pendahuluan

  1. A.     Latar Belakang

Dalam pandangan Islam, manusia selalu dikaitkan dengan kisah tersendiri. Di dalamnya manusia tidak hanya digambarkan sebagai hewan tingkat tinggi yang berkuku pipih, berjalan dengan dua kaki dan pandai berbicara, lebih dari itu menurut al-Qur’an manusia lebih luhur darn gaib dari apa yang didefinisikan oleh kata-kata tersebut.

Dalam al-Qur’an manusia disebut sebagai makhluk yang amat terpuji dan disebut pula sebagai makhluk yang amat tercela. Hal itu ditegaskan dalam berbagai ayat, bahkan ada pula yang ditegaskan dalam satu ayat. Akan tetapi itu tidak berarti manusia dipuji dan dicela dalam waktu yang bersamaan, melainkan berarti bahwa dengan fitrah yang telah dipersiapkan baginya manusia dapat menjadi makhluk yang sempurna dan dapat pula menjadi makhluk yang serba kurang.

Manusia berkali-kali diangkat derajatnya, berulangkali pula direndahkan. Mereka dinobatkan jauh mengungguli alam sorga, bumi dan bahkan para malaikat, tetapi pada saat yang sama, mereka bisa tak lebih berarti dibandingkan dengan setan terkutuk dan binatang jahanam sekalipun.

Manusia dihargai sebagai makhluk yang mampu menaklukkan alam, namun bisa juga merosot menjadi yang rendah dari segala yang rendah. Oleh karena itu makhluk manusia sendirilah yang harus menetapkan sikap dan menentukan nasib akhir mereka sendiri.

Keberadaan manusia semakin sempurna ketika Allah mengangkatnya sebagai khalifah di muka bumi ini. Manusia dibebani amanat untuk memakmurkan bumi ini ketika amanat itu ditolak oleh makhluk-makhluk Tuhan yang lain. Manusia menerima amanat itu karena fitrahnya yang sanggup menerima beban amanat dan memikulnya, fitrah inilah yang menjadi tanda keistimewaan dan kelebihan manusia dibandingkan makhluk-makhluk yang lain. Manusia juga dilengkapi dengan potensi untuk memperoleh  kesenangan, ambisi, kemenangan yang dapat membuat fitrah manusia itu  dalam kegelapan.

Oleh karena ituu, lantas bagaimana alquran menjelaskan tentang kesempurnaan penciptaan manusia ini?

Oleh karena itu, makalah ini berusaha untuk mengulas bagaimana Alquran  membahas bahwa manusia adalah makhluq yang lebih unggul dibanding makhluk lainnya.

  1. B.                 Perumusan Masalah

Didalam pembuatan makalah ini ada permasalah yang akan ditinjau, yaitu, mengapa manusia dianggap sebagai makhluk yang paling sempurna dibandingkan makhluk lain?

C.Tujuan Penulisan Makalah

Adapun tujuan penulisan makalah yang ini yaitu mengetahui sebab manusia dianggap sebagai makhluk yang paling sempurna dibandingkan makhluk lain

  1. D.     Metode Penulisan Makalah

Metode atau cara yang digunakan dalam penulisan makalah adalah melakukan studi kepustakaan dan mencari sumber dari Internet. Juga sumber-sumber lain yang dapat menjadikan referensi makalah yang kami buat ini.

  1. E.     Sistematika Penulisan Makalah

Dalam Sistematika penulisan makalah ini terdiri dari :Kata Pengantar, Daftar Isi , Bab I Pendahuluan terdiri dari : Latar Belakang, Perumusan Masalah, Tujuan Penulisan Makalah, Metode Penulisan  Makalah, Sistematika Penulisan. Bab II Pembahasan terdiri dari 1. QS. Al Isro: 70, 2. Qs Al-muminuun:115-116.Bab III Penutup, dan Daftar pustaka.

Bab II

Pembahasan

Manusia adalah makhluk Allah yang paling mulia selama mereka memanfaatkan secara optimal tiga keistimewaan/ kelebihan yang mereka miliki yakni, Spiritual, Emotional dan Intellectual dalam diri mereka sesuai misi dan visi penciptaan mereka. Namun, apabila terjadi penyimpangan misi dan visi hidup, mereka akan menjadi makhluk yang paling hina, bahkan lebih hina dari binatang dan Iblis bilamana mereka kehilangan kontrol atas ketiga keistimewaan yang mereka miliki. Alloh menjelaskan bahwa manusia adalah makhluq yang lebih mulia disbanding makhluq lainnya, yaitu dalam QS. Al Isro: 70, Qs Al-muminuun:115-116.

Berikut penjelasannya lebih rinci;

  1. 1.      QS. Al Isro ayat 70

* ô‰s)s9ur $oYøB§x. ûÓÍ_t/ tPyŠ#uä öNßg»oYù=uHxqur ’Îû ÎhŽy9ø9$# ̍óst7ø9$#ur Nßg»oYø%y—u‘ur šÆÏiB ÏM»t7ÍhŠ©Ü9$# óOßg»uZù=žÒsùur 4’n?tã 9ŽÏVŸ2 ô`£JÏiB $oYø)n=yz WxŠÅÒøÿs? ÇÐÉÈ

70. dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan[1], Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.

 

[1] Maksudnya: Allah memudahkan bagi anak Adam pengangkutan-pengangkutan di daratan dan di lautan untuk memperoleh penghidupan.

Ayat ini menjelaskan bahwa manusia adalah makhluq yang unik yang memiliki kehormatan dalam kedudukannya sebagai manusia baik ia taat beragama ataupun tidak.

Dengan bersumpah sambil mengukuhkan  pernyataan-Nya dengan kata qad, ayat ini menyatakan bahwa dan Kami, yakni alloh bersumpah bahwa sesungguhnya telah Kami muliakan anak cucu Adam dengan berntuk tubuh yang bagus, kemampuan berbicara dan berfikir, seerta berpengetahuan dan Kami beri juga mereka kebebasan memilah dan memilih.

Dan Kami angkut mereka di daratab dab di lautan dengan aneka alat transportasi yang Kami ciptakan dan tundukkan bagi mereka, atau yang Kami ilhami mereka pembuatannya, agar mereka dapat menjelajahi bumi dan angkasa yang kesemuanya kami ciptakan untuk mereka. dan kami juga beri mereka rizki dari yang baik-baik sesuai kebutuhan mereka, dan dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.

Kami lebihkan mereka dari hewan, dengan akal dan daya cipta, sehingga menjadi makkhluq bertanggungjawab. Kami lebihkan yang taat dari mereka atas malaikat karena ketaatan manusia melalui perjuangan melawan syetan dan nafsu, sedang ketaatan malaikat atanpa tantangan.

Ayat ini tidak menjelaskan berntuk kehormatan, kemulian dan keistimewaan yang dianugrahkan Alloh kepada  anak cucu Adam,as. Itu agaknya untuk mengisyaratkan bahwa kehormatan tersebut banyak dan ia tidak khusus untuk satu ras atau generasi tertentu, tidak juga berdasar agama atau keturunan, tetapi dianugrahkan untuk seluruh anak cucu Adam.

Akan tetapi, manusia pada hakekatnya sama saja dengan mahluk hidup lainnya, yaitu memiliki hasrat dan tujuan. Ia berjuang untuk meraih tujuannya dengan didukung oleh pengetahuan dan kesadaran. Perbedaan diantara keduanya terletak pada dimensi pengetahuan, kesadaran dan keunggulan yang dimiliki manusia dibanding dengan mahluk lain.

Al Ghazaly juga mengemukakan pembuktian dengan kenyataan faktual dan kesederhanaan langsung, yang kelihatannya tidak berbeda dengan argumen-argumen yang dibuat oleh Ibnu Sina (wafat 1037) untuk tujuan yang sama, melalui pembuktian dengan kenyataan faktual. Al Ghazaly memperlihatkan bahwa; diantara makhluk-makhluk hidup terdapat perbedaan-perbedaan yang menunjukkan tingkat kemampuan masing-masing.

Keistimewaan makhluk hidup dari benda mati adalah sifat geraknya. Benda mati mempunyai gerak monoton dan didasari oleh prinsip alam. Sedangkan tumbuhan makhluk hidup yang paling rendah tingkatannya, selain mempunyai gerak yang monoton, juga mempunyai kemampuan bergerak secara bervariasi. Prinsip tersebut disebut jiwa vegetatif. Jenis hewan mempunyai prinsip yang lebih tinggi dari pada tumbuh-tumbuhan, yang menyebabkan hewan, selain kemampuan bisa bergerak bervariasi juga mempunyai rasa.

Prinsip ini disebut jiwa sensitif. Dalam kenyataan manusia juga mempunyai kelebihan dari hewan. Manusia selain mempunyai kelebihan dari hewan. Manusia juga mempunyai semua yang dimiliki jenis-jenis makhluk tersebut, disamping mampu berpikir dan serta mempunyai pilihan untuk berbuat dan untuk tidak berbuat. Ini berarti manusia mempunyai prinsip yang memungkinkan berpikir dan memilih. Prinsip ini disebut an nafs al insaniyyat. Prinsip inilah yang betul-betul membeda manusia dari segala makhluk lainnya.
Kelebihan-kelebihan tersebut tidak diberikan Allah kepada makhluk lain selain manusia dan telah pula menyebabkan mereka memperoleh kemualiaan-Nya.Allah menjelaskannya:

Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (Q.S. Al-Isra’ (17):70)

Namun demikian, kemuliaan manusia erat kaitannya dengan komitmen mereka menjaga kelebihan-kelebihan tersebut dengan cara menggunakannya secara optimal dan seimbang sesuai dengan sistem yang telah dirancang Tuhan Pencipta mereka.

Penyimpangan misi dan visi hidup akan menyebabkan derajat manusia jatuh di mata Tuhan Pencipta dan di dunia, pola hidup mereka lebih buruk dari pada binatang dan Iblis. Allah menjelaskan dalam firman-Nya

ô‰s)s9ur $tRù&u‘sŒ zO¨YygyfÏ9 #ZŽÏWŸ2 šÆÏiB Çd`Ågø:$# ħRM}$#ur ( öNçlm; Ò>qè=è% žw šcqßgs)øÿtƒ $pkÍ5 öNçlm;ur ×ûãüôãr& žw tbrçŽÅÇö7ム$pkÍ5 öNçlm;ur ×b#sŒ#uä žw tbqãèuKó¡o„ !$pkÍ5 4 y7Í´¯»s9’ré& ÉO»yè÷RF{$%x. ö@t/ öNèd ‘@|Êr& 4 y7Í´¯»s9’ré& ãNèd šcqè=Ïÿ»tóø9$# ÇÊÐÒÈ

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergukan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Meraka itulah orang-orang yang lalai.” (Q.S. Al-A’raf : 179).

2. Qs Al-muminuun:115-116.

óOçFö7Å¡yssùr& $yJ¯Rr& öNä3»oYø)n=yz $ZWt7tã öNä3¯Rr&ur $uZøŠs9Î) Ÿw tbqãèy_öè? ÇÊÊÎÈ   ’n?»yètGsù ª!$# à7Î=yJø9$# ‘,ysø9$# ( Iw tm»s9Î) žwÎ) uqèd >u‘ ĸöyèø9$# ÉOƒÌx6ø9$# ÇÊÊÏÈ

 

115. Maka Apakah kamu mengira, bahwa Sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami?

116. Maka Maha Tinggi Allah, raja yang sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (yang mempunyai) ‘Arsy yang mulia.

Ayat  ini, menjelaskan tentang manusia diingatkan tentang kelemahan mereka dengan menyatakan : Jika demikian kenyataan yang akan kamu hadapi, maka apakah kamu durhaka dan melecehkan tuntunan Kami dan kaum beriman karena kamu mengira, bahwa Sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), /sia-sia tanpa hikmah dan kamu menyatakan dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami, yakni dibangkitkan hidup kembali setelah kematian kamu guna mempertanggungjawabkan semua amal kamu? Tidak, sungguh kamu keliru jika mengira demikian.

Maka Maha Tinggi Alloh, Raja penguasa Tunggal Yang Haw, yang tidak disentuh oleh kebatilan, kekurangangan, dan kepunahan tidak ada tuhan penguasa dan pengendali alam raya lagi yang berhak disembah lagi selain dia, tuhan Pemilik dan Pengendali Arsyi yang mulia.

Kata ‘abatsan/sia-sia/main-main, yakni perbuatan yang tidak bermanfaat.

Pernyataan ayat di atas menunjukkan keniscayaan adanya hari pembalasan. Karena dalam kehidupan dunia ini, terbukti ada manusia yang baik dan berlaku adil, dan adapula sebaliknya. Seandainya Alloh tidak member balasan yang setimpal, maka tentu hal  itu mengakibatkan sia-sianya kebaikan yang berbuat baik. Demikian juga harapan mereka yang belum terbalas kekejaman para penganiaya.

Jadi, manusia adalah makhluk sempurna dibandingkan dengan makhluk-makhluk lainnya ciptaan Allah Swt. Menurut Muhaimin dan Abdul Mujib, Allah Swt menciptakan manusia dengan membawa jiwa imanitas dan humanitas yang tumbuh sebelum manusia lahir di dunia. Pangkal insaniah manusia terletak pada jiwa imanitasnya, sedangkan jiwa insaniah tumbuh sebagai pancaran dari jiwa imanitasnya, jiwa inilah yang menandakan substansi kemanusiaan manusia yang berbeda denga substansi makhluk-makhluk lainnya.

 

Penutup

Kesempurnaan manusia diterangkan dengan jelas dalam QS. Al Isro: 70, Qs Al-muminuun:115-116. Alloh melebihkan manusia dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Ia ciptakan.

Alloh lebihkan manusia dari hewan, dengan akal dan daya cipta, sehingga menjadi makkhluq bertanggungjawab. Alloh lebihkan yang taat dari manusia atas malaikat karena ketaatan manusia melalui perjuangan melawan syetan dan nafsu, sedang ketaatan malaikat atanpa tantangan. Alloh juga melebihkan dalam penciptaan manusia yang memiliki tujuan, tidak hanya main-main saja. Dengan bukti dalam QS almminun ayat 115-116, yang telah dijelaskan sebelumnya.

 Daftar Pustaka 

Departemen Agama RI. Alquran dan Tafsirnya, Jilid 7 juz 19-20-21.Jakarta,2009.

Shihab, M Quraish. Tafsir Al-Mishbah Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Quran Vol 10. Jakarta:Lentera Hati,2002.

AN  Syadeli, Muchsin. Penelitian Baru-2009