Makalah : Tafsir Tarbawi. Pandangan Alquran tentang”Tujuan Hidup Manusia”.

Oleh : Huda Nuralawiyah

PAI-A

08.01.263

Sekolah Tinggi Agama Islam Tasikmalaya

Bab I

Pendahuluan

Setiap manusia haruslah mengetahui siapa dirinya, kenapa dia dilahirkan, dan apa tujuan dan tugas-tugas hidupnya, berapa lama dia bisa hidup di dunia ini, dan kemana dia pergi setelah meninggalkan dunia ini?

Kalau manusia tidak bisa menjawab dengan benar, maka hidupnya seperti manusia yang hidup di hutan-huta yang menutup auratnya dengan daun daunan. Mereka tidak berilmu.

Mereka tidak tahu tujuan hidupnya. Mereka menjalankan hidup seperti binatang saja yaitu kawin, beranak, dan kalau sudah dewasa anak di kawinkan lagi demikian seturusnya dan terakhir meninggal dunia.

Orang orang yang tinggal di kota pun banyak yang tidak mengetahui tujuan hidupnya. Ada yang mengatakan untuk mencari hidup yang bahagia, berkeluarga serta membesarkan dan mendidik anak-anak.

Mencari hidup yang bahagia juga bermacam macam;
ada yang bertapa, berzikir berjam jam di kamar yang gelap,ada yang hidup sederhana, ada yang mencari uang untuk memenuhi keinginannya, dll.

Apakah tujuan hidup mencari bahagia menuntut ALLAH? Jawabannya adalah tidak.

Pendapat ulama/usztad pun berbeda-beda.

Ada sebahagian ulama mengatakan untuk mencari ALLAH atau mendekati diri kepada ALLAH dengan berzikir (memuji-muji ALLAH) dalam kamar, dan bertapa.

Ada yang mengatakan untuk beribadah kepada ALLAH dengan menjalankan shalat, puasa,naik haji dan berzakat. Kalau rukun islam ini sudah dikerjakan,sudah merasa berislam yang benar. Mana yang benar cara-cara demikian?

Untuk mendapatkan jawaban yang benar mari kita lihat Al quran yang di buat oleh ALLAH. Yang mana ALLAH juga menciptakan manusia, sudah tentu ALLAH lah yang Maha Tahu akan ciptaannya bukan?
Dalam AL Quran ALLAH telah dijelaskan dengan detail dan sempurna. Berikut akan kita bahas pada bab selanjutnya. 

Bab II

Pembahasan

Dalam silabus yang kami terima, tujuan hidup manusia dijelaskan dalam  :

  1. 1.            QS. Adzdzariyat :56

$tBur àMø)n=yz £`Ågø:$# }§RM}$#ur žwÎ) Èbr߉ç7÷èu‹Ï9 ÇÎÏÈ  

56. dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

Beribadah (worship) kepada ALLAH diartikan menyembah(shalat) kepada ALLAH, berpuasa, naik haji, berbuat kebaikan-kebaikan dll.Kalau sudah menjalankan rukun islam ini(ritual), maka mereka sudah merasa beragama dengan benar.

Sesungguhnya bukanlah demikian menurut ALLAH. Penjelasan seperti diatas itu belumlah sempurna, sehingga hasilnya pun juga tidak sempurna. Seperti kita lihat masarakat islam sekarang ini yang masih terbelakang.

Beribadah kepada ALLAH bukanlah menyembah ALLAH saja, bukan menjalankan rukun islam yang lima saja, dan berbuat kebajikan saja, tetapi maknanya jauh dari itu.

Kalau diartikan seperti diatas ini,maka kita lihat hasilnya adalah masarakat yang tidak produktif alias miskin.Sangat menyedihkan bukan? Beribadah kepada ALLAH SWT artinya mengabdi atau bekerja untuk ALLAH dengan sungguh-sungguh.

ALLAH adalah Raja di Raja di bumi dan dilangit ini. Sebagai hamba2 atau pekerja2 (kariawan2) ALLAH,maka manusia seharusnya patuh dan taat mengikuti semua peraturan-peraturan ALLAH bagaimana cara hidup dan bagaimana cara berkerja di dunia ini.

Semua peraturan-peraturan ALLAH itu tertulis dalam kitab-kitab sucinya; Taurat,injil dan AL Quran. Al Quran adalah buku pedoman hidup manusia yang terakir, dan sempurna.

Kita sudahtahu apa tujuan hidup kita yaitu mengabdi atau bekerja untuk ALLAH.

Menurut Prof Muchsin An Syadeli, Asbabun Nuzul surat Adz-Dzâriyât ayat 56 tersebut di atas berkaitan dengan kewajiban manusia sebagai hamba Allah untuk selalu beribadah kepada-Nya sesuai dengan kemampuannya.

Jadi, diciptakannya manusia di dunia ini adalah sebagai hamba Allah yang bertugas untuk senantiasa beribadah kepada-Nya.

Sebagai hamba Allah, manusia diwajibkan beribadah kepada penciptanya, dalam arti selalu tunduk dan taat perintah-Nya guna mengesakan dan mengenal-Nya sesuai dengan petunjuk yang telah diberikannya.

Syekh Muhammad Abduh menginterpretasikan kata liya’budûn     dalam surat Adz-Dzâriyât ayat 56 di atas sebagai rasa ketaatan dengan       penuh kemerdekaan, dan setiap ungkapan yang menggambarkan makna     secara sempurna. Selanjutnya Abduh menegaskan bahwa ibadah pada hakikatnya adalah sikap tunduk semata-mata untuk mengagungkan Dzat      yang disembahnya, tanpa mengetahui dari mana sumbernya dan       kepercayaan terhadap kekuasaan yang terdapat di dalamnya tidak dapat dijangkau oleh pemahaman dan hakikatnya. Pengertian di atas       menunjukkan bahwa ibadah bukan berarti seseorang yang sangat rindu       ingin mengagungkan dan mematuhi kekasihnya, sehingga kemauan          dirinya menyatu dengan kehendaknya.[1]

Sedangkan Abul A’la Al-Maududi menyatakati bahwa ibadah dari akar        kata ‘aabd yang artinya pelayan dan budak. Jadi, hakikat ibadah adalah penghambaan dan perbudakan, sedangkan dalam arti terminologinya adalah usaha mengikuti hukum-hukum dan aturan-aturan Allah dalam menjalankan kehidupan yang sesuai dengan perintah-perintah-Nya dari   mulai akil baligh sampai meninggal dunia. Indikasi ibadah adalah  kesetiaan, kepatuhan, dan penghormatan, serta penghargaan kepada Allah Swt yang dilakukan tanpa adanya batasan waktu serta bentuk khas tertentu.[2]

Ibadah mempunyai dua pengertian, yaitu pengertian khusus dan pengertian umum. Dalam pengertian khusus, ibadah adalah melaksanakan peraturan-peraturan yang mengatur hubungan antara hamba dan Tuhannya yang tatacaranya telah diatur secara terperinci di  dalam AI-Qur’an dan As-Sunnah, sedangkan ibadah dalam arti umum adalah aktivitas yang titik tolaknya ikhlas dan ditujukan untuk mencapai  ridla Allah berupa amal shaleh.[3]

            Dalam prakteknya, ibadah dapat digolongkan ke dalam ibadah person, ibadah  antarperson, dan ibadah social. Ibadah person maksudnya adalah pelaksanaan suatu aktivitas yang tidak memerlukan keterlibatan orang lain, melainkan semata-mata bergantung pada  kesediaan pihak yang bersangkutan sebagai hamba Allah yang otonomi. Beberapa hal yang masuk dalam kategori ibadah person ini adalah amaliah keagamaan yang bersifat ritual seperti shalat, puasa, dan  sebagainya.

Sedangkan ibadah antarperson maksudnya adalah amaliah yang pelaksanaannya bergantung pada prakarsa pihak yang bersangkutan selaku hamba Allah secara otonomi, tetapi dalam prakarsa pihak lain  sebagai hamba Allah yang juga otonomi. lbadah kategori ini harus  mengikuti aturan subjektif yang berdimensi person juga aturan objektif   yang berdimensi sosial, misalnya pernikahan yang hanya terdapat prakarsa bebas dari pihak laki-laki secara mutlak, tetapi tanpa prakarsa  yang sama dari pihak mempelai wanita tidaklah dapat dilaksanakan.

Adapun ibadah sosial maksudnya adalah kegiatan interaktif antar masing-masing individu dengan pihak lain yang dibangun dengan kesadaran diri sebagai hamba Allah. Bentuk ibadah sosial ini diantaranya adalah hubungan ekonomi, politik, sosial, budaya, keamanan, dan sebagainya, baik berlevel regional, nasional maupun internasional.[4]

Jadi, tujuan hidup manusia di dunia. ini adalah untuk beribadah  kepada Allah Swt dalam berbagai aspeknya. Ibadah dalam artian menghambakan dirinya kepada peraturan-peraturan yang dibuat oleh Allah Swt untuk kepentingan manusia agar mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

  1. 2.            QS.Albaqoroh:200-201

#sŒÎ*sù OçGøŠŸÒs% öNà6s3Å¡»oY¨B (#rãà2øŒ$$sù ©!$# ö/ä.̍ø.ɋx. öNà2uä!$t/#uä ÷rr& £‰x©r& #\ò2ό 3 šÆÏJsù Ĩ$¨Y9$# `tB ãAqà)tƒ !$oY­/u‘ $oYÏ?#uä ’Îû $u‹÷R‘‰9$# $tBur ¼ã&s! †Îû ÍotÅzFy$# ô`ÏB 9,»n=yz ÇËÉÉÈ   Oßg÷YÏBur `¨B ãAqà)tƒ !$oY­/u‘ $oYÏ?#uä ’Îû $u‹÷R‘‰9$# ZpuZ|¡ym ’Îûur ÍotÅzFy$# ZpuZ|¡ym $oYÏ%ur z>#x‹tã ͑$¨Z9$# ÇËÉÊÈ

200. apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, Maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu[126], atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang bendoa: “Ya Tuhan Kami, berilah Kami (kebaikan) di dunia”, dan Tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat.

201. dan di antara mereka ada orang yang bendoa: “Ya Tuhan Kami, berilah Kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah Kami dari siksa neraka”[127].

[126] Adalah menjadi kebiasaan orang-orang Arab Jahiliyah setelah menunaikan haji lalu Bermegah-megahan tentang kebesaran nenek moyangnya. setelah ayat ini diturunkan Maka memegah-megahkan nenek moyangnya itu diganti dengan dzikir kepada Allah.

[127] Inilah doa yang sebaik-baiknya bagi seorang Muslim.

Apabila kamu telah menyelesaikan secara tuntas rukun-rukun ibadah haji kamu, maka berdzikirlah kepada Alloh yang telah member tuntunan dan kemampuan kepada kamu sehingga dapat melaksanakannya dengan baik.

Hidup manusia sedapat mungkin selalu berada dalam lingkungan Illahi, ia di tuntut  untuk selalu mengingat alloh. Itulah antara lain makna thawaf yakni berkeliling Kabah sebanyak tujuh kali. Hal ini perlu diingatkan , karena boleh jadi ada yang menduga bahwa dengan tuntunan yang lalu, bolehlah, sejenak melupakan Alloh. Tidak! Karena tuntunan ayat beikutnya(200) adalah apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, Maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, dengan berbagai cara yang telah diajarkannya.

Dalam ayat 101, yang mereka mohonkan bukan segala kesenangan dunia, tetapi yang bersifat hasanah, yaitu yang baik, bahkan bukan hanya dunia tapi juga akhirat.

Jadi salah satu tujuan hidup manusia adalah untuk mendapatkan kebahagian dunia dan akhirat dengan melalui ridha Alloh.

  1. 3.            QS. Albaqoroh : 207

šÆÏBur Ĩ$¨Y9$# `tB “̍ô±o„ çm|¡øÿtR uä!$tóÏGö/$# ÉV$|ÊósD «!$# 3 ª!$#ur 8$râäu‘ ϊ$t6Ïèø9$$Î/ ÇËÉÐÈ

207. dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.

Secara redaksionalpun, maksud dari ayat ini pun jelas, bahwa manusia patut menghambakan dirinya kepada Alloh, untuk mencari keridhaan-Nya.

  1. 4.            QS. Albaqoroh:209

bÎ*sù OçFù=s9y— .`ÏiB ω÷èt/ $tB ãNà6ø?uä!%y` àM»oYÉit6ø9$# (#þqßJn=÷æ$$sù ¨br& ©!$# ͕tã íOŠÅ6ym ÇËÉÒÈ

209. tetapi jika kamu menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran, Maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Ayat ini dengan jelas, bagai mana alloh telah menunjukkan bahwa barang siapa yang berusaha bangkit dengan bertaubat dari ketergelinciiaran, maka ia akan mendapat rahmat Alloh, seperti Nabi Adam yang pernah mengalami hal ini.

 Bab III

Penutup

Jadi, tujuan hidup kita yaitu mengabdi atau bekerja untuk ALLAH guna mendapatkan kebahagian dunia dan akhirat dengan melalui ridha-Nya.

Demikianlah ALLAH memberitahukan, apa tujuan hidup manusia di bumi ini menurut ALLAH yang menciptakan manusia, sebagaimana yang telah dikemukakan dalam ayat-ayat dalam Pembahasan.

Mudah-mudahan kita sebagai pekerja-pekerja atau hamba-hamba ALLAH yang baik,yang taat, maka marilah kita perbaharui niat dan tujuan hidup kita semoga kita semua mendapat kasih sayang , kepercaaan dan cinta ALLAH. Semoga hidup yang sekali ini akan sukses dan diberkahi oleh ALLAH.

Kalau kita cinta dan takut kepada ALLAH mari kita rajin-rajin belajar dan bekerja untuk mensejahterakan keluarga,masarakat dan umat islam pada umumnya agar umat2 lain dapat mencontoh cara hidup yang benar dari ALLAH.

Semoga penjelasan yang singkat ini dapat menggugah hati-hati pemuda-pemuda islam yang ingin melihat umat Islam berjaya kembali dalam segala aspek penghidupan.

Daftar Pustaka

 

Shihab, M Quraish. Tafsir Al-Mishbah Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Quran Vol 10. Jakarta:Lentera Hati,2002.

Departemen Agama RI. Alquran dan Tafsirnya, Jilid 7 juz 19-20-21.Jakarta,2009.

AN  Syadeli, Muchsin. Penelitian Baru-2009.


[1] Yusuf al-Qordlowy, Ibadah Fil Islam, Cet. I (Bangil : Pustaka Abdul Muis, 1981), hal. 35-38.

[2] Abul A’la Al-Maududi, Fundamentals of Islam, Terjemahan Achsin Muhammad, Cet. I (Bandung: Pustaka, 1984), hal. 107.

[3]Muslim Ibrahim, Pendidikan Agama Islam untuk Mahasiswa Cet. I (Yogyakarta: Erlangga, 1990), hal. 60.

[4] Masdar F. Mas’udi, Agama Keadilan, Risalah Zakat (Pajak) dalam Islam, Cet. I (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1991) hal. 132-135.

About these ads

2 gagasan untuk “Makalah : Tafsir Tarbawi. Pandangan Alquran tentang”Tujuan Hidup Manusia”.

  1. qomar mengatakan:

    thank bro

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s