Makalah : Tafsir Ayat Pendidikan. QS Asysyuro ayat 214

ABSTRAKSI

Manusia diciptakan alloh sebagai makhluq belajar. Belajar untuk lebih baik, dan bertahan hidup. Tentu saja untuk belajar diperllukan seorang pengajar. Oleh karena itu, jadilah 2 kewajiban manusia sebagai fitrahnya yaitu belajar dan mengajar, sehingga kedua pilihan itu harus dijalani, apakah menjadi pelajar atau pengajar?

Lantas, ketika kewajiban untuk mengajar akan kita penuhi, siapa saja yang akan menjadi objeknya?karena Alloh berfirman bahwa Alloh tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali mereka merubah nasibnya sendiri.Oleh sebab itu tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui siapa yang menjadi objek pendidikan kita menurut Alquran.

Metode yang digunakan untuk pembahasan makalah ini adalah metode tathbiq terhadap Alquran surat 26:214.

Alquran Surat 26:214 menyatakan agar kita memperingatkan keepada kerabat-kerabat terdekat.

 Jadi objek pendidikan yang dinyatakan dalam Alquran Surat 26:214 adalah keluarga terdekat.

Oleh : Huda Nuralawiyah

PAI-A

08.01.263

Sekolah Tinggi Agama Islam Tasikmalaya

Bab I

Pendahuluan

Alquran Surat Asy-syu’ara:214:

ö‘É‹Rr&ur y7s?uŽÏ±t㠚úüÎ/tø%F{$# ÇËÊÍÈ

Terjemah:

214.” dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat,”

Mufrodat:

7s?uŽÏ±tã=kerabat-kerabat/keluarga.

Kata ‘asyirah(keluarga) terbentuk dari kata ‘asyara-ya’syiru-‘asyirah.

Kata ini terambil dari kata ‘asyarah yang berarti bilangan sepuluh. Penyebutan keluarga dalam bahasa arab dengan ‘asyirah ini memiliki relevansi. Disebut ‘asyirah ar-rajuli(keluarga seorang) karena dengan keluarga itu ia memperbanyak diri. Maksudnya, keluarga baginya memiliki kkedudukan bilangan yang sempurna, yaitu ‘asyarah atau sepuluh. Jadi, kata ‘asyarah digunakan untuk menyebut sekelompok kerabat yang dengannya seseorang memperbanyak diri. Dai kata ini diambil kata ‘asyir yang berarti suami atau istri, serta setiap kerabat baik dekat atau jauh. Dari kata itu pula diambil kata mu’asyaroh yang berarti pergaulan dalam rumah tangga, sebagimana dalam firman Allah ,”Dan bergaullah dengan mereka menurut cara yang patut…”(QS. Annisa :19). Maksud kata ‘asyarah di dalam surah ini adalah keluarga.

Dalam Tafsir Almishbach di sebutkan bahwa kata ‘asyarah berarti anggota suku yang terdekat . ia terambil dari kata ‘asyara yang berarti saling bergaul, karena anggota suku yang terdekat atau keluarga adalah orang-orang yang sehari-hari saling bergaul.

Dalam kamus bahasa indonesia di sebutkan ;ke·ra·bat n 1 yg dekat (pertalian keluarga); sedarah sedaging: masih — dng engkau; 2 keluarga; sanak saudara: kaum –; 3 keturunan dr induk yg sama yg dihasilkan dr gamet yg berbeda;

Bab II

Pembahasan

Setelah memerintahkan Nabi Muhammad saw. menghindari kemusyrikan, yang tujuan utamanya adalah semua yang berpotensi disentuh oleh kemusyrikan, kini ayat 214 berpesan lagi kepada beliau bahwa : Hindarilah segala yang daoat mengundang murka Alloh, dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat tanpa pilih kasih.

Pada ayat-ayat yang lalu diterangkan hiburan Alloh kepada nabi Muhammad yang telah dikecewakan oleh dikap kaumnya dalam menanggapi dakwah yang disampaikannya dengan mengatakan memang demikian sikap orang-orang musyrik itu terhadap dakwah yang disampaikan kepada mereka. pada ayat ini diterangkan bahwa Rosullulloh diperintahkan untuk menyampaikan dakwah kepada kerabat-kerabatnya yang terdekat.

Alloh memerintahkan Nabi muhammada agar menyampaikan agama kepada kerabatnya, dan menyampaikan janji dan ancaman Alloh terhadap orang-orang yang mengingkari dan menyekutukan-Nya.

Diriwayatkan oleh al-bukhari, muslim, dan perawi lainnya dari Abu Hurairah bahwa ia berkata,”Tatkala ayat ini turun, rasullullah lalu memanggil orang-orang quraish untuk berkumpul di Bukit Safa. Diantara mereka ada yang datang sendiri, dan ada yang mengirimkan wakilnya. Setelah berkumpul lalu Rasullullah berkhutbah,”Wahai kaum  Quraisy, selamatkanlah dirimu dari api neraka. Sesungguhnya aku tidak mempunyai kesanggupan member manfaat kepadamu. Wahai sekalian Bani Ka’ab bin Lu’ai, selamatkanlah dirimu dari api api neraka, maka sesunnguuhnya aku tidak mempunyai kesanngupan member mudarat dan tidak pula member manfaat kepadamu. Hai Bani Qusai selamatkanlah dirimu dari api neraka. Sesungguhnya aku tidak mempunya kesanggupan member mudarat dan tidak pula member manfaat kepadamu. Ahi Baini Abdul manaf, selamatkanlah dirimu dari api neraka. Sesungguhnya aku tidak mempunyai kesanggupan  untuk member mudarat dan tidak pula member manfaat kepadamu, ketahuilah aku hanya dapat menghubungi karibku di dunia ini saja’.

Ayat ini diturunkan pada awal kedatangan Islam ketika Nabi Muhammad mulai melaksanakan dakwahnya. Beliau mula-mula diperintahkan alloh agar menyeru keluarganya yang terdekat. Setelah itu secarab berangsur-angsur menyeru masyarakat sekitarnya, dan akhirnya kepada seluruh manusia.

Fitrah beragama merupakan potensi yang mempunyai kecendrungan untuk berkembang. Namun fitrah ini dipengaruhi oleh factor ekternal da internal.

Lingkungan keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi anak, oleh karena itu peranan keluarga(orang tua) dalam pengembangan kesadaran beragama anak sangatlah dominan. QS attahrim:6, menunjukkan bahwa orangtua mempunyai kesajiban untuk memberikan pendidikan agama kepada anak dalam upaya menyelamatkan mereka dari siksa api neraka.

“hai orang-orang yang beriman jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”

Mengenai pentingnya peranan orang tua dalam pendidikan agama bagi anak, Nabi Muhammad Saw. bersabda “Setiap anak yang dilahirkan dalam keadaan fitrah(suci), maka kedua orang tuanyalah anak itu menjadi yahudi, nashroni, atau majusi.

Di sini jelas, perintah menjadikan keluarga terdekat terlebih dahulu dalam arti sebagai objek pendidikan yang utama. Baru kemudian kerabat jauh dan akhirnya seluruh manusia.

 Bab III

Kesimpulan

Alquran Surat Asy-syu’ara:214 berisi perintah menjadikan keluarga terlebih dahulu dalam arti sebagai objek pendidikan yang utama. Baru kemudian kerabat jauh dan akhirnya seluruh manusia seperti yang dijelaskan dalam hadits tadi.

  Daftar pustaka 

Shihab, M Quraish. Tafsir Al-Mishbah Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Quran Vol 10. Jakarta:Lentera Hati,2002.

Yusuf,Syamsu. Psikologi Belajar Agama Perspektif Agama Islam. Bandung : Pustaka Banii Quraisyi,2005.

Departemen Agama RI. Alquran dan Tafsirnya, Jilid 7 juz 19-20-21.Jakarta,2009.

http://pusatbahasa.diknas.go.id

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s