Makalah : Modernisasi dalam pandangan Islam

Makalah : Modernisasi dalam pandangan Islam

Oleh Huda Nuralawiyah/PAI-A.NIM.08.01.263

Bab I

Pendahuluan

1.1   Latar Belakang

      Dalam perbincangan tentang modernisasi telah menyita Perhatian dan  konsentrasi para sarjana baik Muslim maupun non-Muslim dibuktikan dengan telah lahirnya beragam karya dan pemikiran dibidang ini menunjukkan modernisasi telah mendapat tempat yang cukup proporsional dalam kajian global atau dunia yang luas ini, bahkan ditambah lagi dengan intensnya upaya-upaya pembaharuan tersebut dilakukan secara serentak dan kompak baik dunia Islam sendiri maupun di luar dunia Islam, merupakan suatu kemajuan dan arus deras yang tidak dapat dihentikan demi menciptakan perbaikan dalam segala bidang kemanusiaanya. Sebagaimana gerakan modernis Islam yang berusaha mejembatani jurang pemisah antara orang-orang Islam tradisional dengan para pembaharu yang sekuler. Modernisasi Islam seperti tanggapan Muslim modern terhadap Barat pada abad ke-20 mempunyai sikap yang ambivalen terhadap Barat, yaitu tertari sekaligus menolak. Eropa dikagumi karena kekuatan, teknologi, ideal politiknya tentang kebebasan, keadilan dan persamaan, tetapi sering juga ditolak karena tujuan dan kebijaksanaan imperialisnya.

      Untuk itulah dalam tulisan yang singkat ini akan mencoba melacak tradisi modernisasi dalam dunia Islam maupaun medernisasi dalam pandangan Islam. dan juga bagaimana hubungan Islam dengan negara modern, yang jelas sangat berkaitan dengan kemajuan dicapai Barat dalam segala bidangnya sebagai indikasi sederhana bahwa “genderang” modernisasi yang “ditabuh” di dunia Islam tidak dapat dipisahkan dari mata rantai dan tranmisi terhadap prestasi kemajuan yang diukir oleh dunia Barat.Baik modernisasi yang dilakukan hari ini sebagai  langkah negara barat yang ingin menguasai negara dan meyebarkan ideologinya.

1.2   Perumusan Masalah

      Didalam pembuatan makalah ini ada permasalah yang akan ditinjau dan dijadikan bahan penerangan dalam makalah ini, terdari dari :

1        Apa pengertian modernisasi dan filsafat Islam ?

2        Bagaimana munculnya modernisasi dalam Islam?

3        Bagaimana pandangan Islam terhadap modernisasi ?

4        Bagaimana hubungan Islam terhadap negara modern ?

1.3   Tujuan Penulisan Makalah

      Adapun tujuan penulisan makalah yang kami tulis, dalam pembuatan makalah yang berjudul Medernisasi dalam Pandangan Islam sesuai dengan perumusan masalah di atas adalah :

1        Untuk menjelaskan dan mengetahui tentang pengertian modernisasi dan filsafat Islam

2        Untuk mengetahui bagaimana munculnya modernisasi dalam Islam

3        Untuk mengetahui pandangan Islam terhadap medernisasi

4        Untuk megetahui islam dengan negara modern

1.4   Metode Penulisan Makalah

      Metode atau cara yang digunakan dalam penulisan makalah yang berjudul Modernisasi dalam Pandangan Islam dalam pembuatan makalah ini dalam mencari referensi atau sumbernya  yang kami buat adalah melakukan studi kepustakaan dan mencari sumber dari Internet. Juga sumber-sumber lain yang dapat menjadikan referensi makalah yang kami buat ini.

1.5   Sistematika Penulisan Makalah

      Dalam Sistematika penulisan makalah yang berjudul Medernisasi dalam Pandangan Islam terdiri dari :

Kata Pengantar

Daftar Isi

Bab I Pendahuluan terdiri dari :

            Latar Belakang

            Perumusan Masalah

            Tujuan Penulisan Makalah

            Metode Penulisan  Makalah

            Sistematika Penulisan.

Bab II Pembahasan terdiri dari :

            Pengertian Modernisasi

Munculnya Modernisasi dalam Islam

Modernisasi Dalam Pandangan Islam

            Islam dan Negara Modern

Bab III Kesimpulan

Daftar  Pustaka

 Bab IIPembahasan

2.1   Pengertian  Modernisasi dan Filsafat Islam

      Kata modern yang dikenal dalam bahasa Indonesia jelas bukan istilah original atau asli melainkan “diekspor” atau di amabil dari bahasa asing (modernization), berarti “terbaru” atau “mutakhir” menunjuk kepada prilaku waktu yang tertentu (baru). Akan tetapi, dalam pengertian yang luas modernisasi selalu saja dikaitkan dengan perubahan dalam semua aspek kawasan pemikiran dan aktifitas manusia sebagaimana kesimpulan Rusli Karim, dalam menganalisis pendapat para ahli tentang modernisaisi.

      Dalam masyarakat Barat kata modernisasi mengandung arti pikiran, aliran, gerakan dan usaha untuk mengubah paham-paham, adat-istiadat, isntitusi-institusi lama dan sebagainya agar semua itu dapat disesuaikan dengan pendapat- pendapat dan keadaan-keadaan baru yang ditimbulkan ilmu pengetahuan modern. Secara teoritis di kalangan sarjana Muslim mengartikan modernisasi lebih cenderung kepada suatu cara pandang meminjam defenisi Harun Nasution, modernisasi adalah mencakup pikiran, aliran, gerakan dan usaha untuk merubah faham-faham, adat istiadat, institusi-institusi lama dan sebagainnya untuk disesuaikan dengan suasana baru yang ditimbulkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

      Dalam perspektif posmodernis yang berasal dari tradisi filsafat, bahwa modernisasi bisa disebut sebagai  semangat (elan) yang diandaikan ada pada menyemangati masyarakat intelektual dan semangat yang dimaksud adalah semangat untuk progress, semangat untuk meraih kemajuan, dan untuk humanisasi manusia yang dilandasi oleh semangat keyakinan yang sangat optimistik dari kaum modernis akan kekuatan rasio manusia. Sedangkan Fazlur Rahman, sarjana asalPakistan mendefenisikan modernisasi dengan “usaha-usaha untuk melakukan hormonisasi antara agama dan pengaruh modernisasi dan westernisasi yang berlangsung di dunia Islam”. Mukti Ali, tepat disebut sebagai orang yang mewakili sarjanaIndonesia mengartikan modernisasi sebagai “upaya menafsirkan Islam melalui pendekatan rasional untuk mensesuaikannya dengan perkembangan zaman dengan melakukan adaptasi dengan perubahan-perubahan yang terjadi di dunia modern yang sedang berlangsung”.

Filsafat Islam adalah hasil pemikiran filsuf tentang ajaran ketuhanan, kenabian, manusia, dan alam yang disinari ajaran Islam dalam suatu aturan pemikiran yang logis dan sistematis. Sedangkan menurut Ahmad Fu¡¦ad al-Ahwani filsafat Islam ialah pembahasan tentang alam dan manusia yang disanari ajaran Islam.

Sejarah singkat timbulnya Filsafat Islam. Cara pemikiran Filsafat secara teknis muncul pada masa permulaan jayanya Dinasti Abbasiyah. Di bawah pemerintahan Harun al ¡Vrasyid, dimulailah penterjemahan buku-buku bahasa Yunani kedalam bahasa Arab. Orang-orang banyak dikirim ke kerajaan Romawi di Eropa untuk membeli manuskrip. Awalnya yang dipentingkan adalah pengetahuan tentang kedokteran, tetapi kemudian juga pengetahuan-pengatahuan lain termasuk filsafat.

Penterjemahan ini sebagian besar dari karangan Aristoteles, Plato, serta karangan mengenai Neoplatonisme, karangan Galen, serta karangan mengenai ilmu kedokteran lainya, yang juga mengenai ilmu pengetahuan Yunani lainnya yang dapat dibaca alim ulama Islam. Tak lama kemudian timbulah para filosof-filofof dan ahli ilmu pengetahuan terutama kedokteran di kalam umat Islam.

Tujuan mempelajari filsafat Islam ialah mencintai kebenaran dan kebijaksanaan.

Sedangkan manfaat mempelajarinya ialah :

1. Dapat menolong dan menididk, menbangun diri sendiri untuk berfikir lebih mendalam dan menyadari bahwa ia mahluk Tuhan

2. Dapat memberikan kebiasaan dan kepandaian untuk melihat dan memecahkan persoalan .

2.2   Munculnya Modernisasi dalam Islam

      Pemikiran pembaharuan atau modernisasi dalam Islam timbul terutama sebagai  hasil kontak yang terjadi antara dunia Islam dan Barat. Dengan adanya kontak itu, umat Islam abad XIX sadar bahwa mereka telah mengalami kemunduran diperbandingan dengan Barat. Sebelum periode modern, kontak sebenarnya sudah ada, terlebih antara Kerajaan Usmani yang mempunyai daerah kekuasaan di daratan Eropa dengan beberapa negara Barat. Diketika negara-negara itu mulai memasuki masa kemunduran. Sebagai  akibat dari perubahan itu, Kerajaan Usmani, yang biasa menang dalam peperangan, akhirnya mengalami kekalahan-kekalahan di tangan Barat. Hal ini membuat pembesar-pembesar Usmani menyelidiki rahasia kekuataan Eropa yang baru muncul itu. Menurut pemikiran, rahasinya terletak dalam kekuatan militer modern yang dimiliki Eropa. Oleh karena itu usaha pembaharuan dipusatkan dalam lapangan militer kerajaan Usmani. Bantuan ahli-ahli Eropa diminta dan pada permulaan abad ke delapan belas Mesehi datanglah ke Istambul ahli-ahli seperti De Rochefort dari Perancis, Macarthy dari Irlandia, Ramsay dari Scotlandia dan Comte de Benneval dari Perancis. Yang akhir ini masuk Islam dengan memakai nama Humbaraci Pasya.

      Pembaharuan yang yang diusahakan pemuka-pemuka Usmani abad kedelapan belas tidak ada artinya. Usaha dilanjutkan di abad kesembilan belas dan inilah kemudian yang membawa kepada perubahan besar di Turki. Seoarang terpelajar Islam memberikan gambaran pada abad kesembilan belas, Ia mengatakan betapa terbelakangnya umat Islam ketika itu. Kontak dengan kebudayaan Barat yang lebih tinggi ini ditambah dengan cepatnya kekuatan Mesir dapat dipatahkan oleh Napoleon, membuka mata pemuka-pemuka Islam Mesir untuk mengadakan pembaharuan. Dimana usaha pembaharuan dimulai oleh Muhammad Ali Pasya (1765-1848 M) seorang perwira Turki.

2.3   Modernisasi Dalam Pandangan Islam

      Tanggapan kaum muslim terhadap kemajuan yang diberikan oleh negara barat yang seriang disebut modern itu berbeda-beda. Karena tidak bisa di pungkiri lagi kemajuan Barat dalam segala bidangnya sebagai indikasi sederhana bahwa “genderang” modernisasi yang “ditabuh” di dunia Islam tidak dapat dipisahkan dari mata rantai dan tranmisi terhadap prestasi kemajuan yang diukir oleh dunia Barat. Baik modernisasi yang dilakukan hari ini sebagai  langkah negara barat yang ingin menguasai negara dan meyebarkan ideologinya. Sebagaimana contoh dalam pendidikan barat modern dianggap sebagai  sesuatu yang asing, berlebihan dan mengancam kepercayaan agama. Kaum Muslim tidak perlu jauh-jauh dalam menemukan orang-orang Eropa yang mempunyai pendapat yang memperkuat rasa takut  mereka. seorang penulis Inggris yaitu William Wilson Hunter berkata: “Agama-agama di Asia yang begitu agung akan berubah bagaikan batang kayu yang kering jika berhubungan dengan kenyataan dinginnya ilmu-ilmu pengetahuan Barat”.

      Kesimpulan seorang pakar mengenai reaksi Muslim di anak benuaIndiapada Umumnya benar untuk banyak kegiatan dari dunia Islam. Reaksi Muslim terhadap pendidikan Inggris sama sekali tidak sama reaksi terhadap medernitas bermacam-macam mulai dari memusuhi secara membabi-buta sehingga mengalahkan diri sendiri sampai bekerja sama sewajarnya dengan kebijakan pendidikan Inggris. Bagi banyak orang kenyataan akan keungulan Eropa harus diakui dan dihadapi dan pelajaran-pelajaran harus diperhatikan demi kelangsungan hidup. Seperti contoh para pengusaha Muslim zaman kerajaan Utsmaniyah, Mesir dan Iran berpaling ke Barat mengembangkan program-program moderenisasi politik, ekonomi dan militer yang berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi Eropa.  Meraka berusaha menyaingi kekuatan Barat, mengembangkan militer dan birokrasi yang modern dan piawai dan mencari ilmu pengetahuan yang menyangkut persenjataan modern. Guru-guru Eropa didatangkan, misi-misi pendidikan dikirim ke Eropa, dimana kaum Muslim belajar bahasa, ilmu pengetahuan dan politik. Biro-biro penerjemah dan penerbit didirikan untuk menerjemahkan dan menerbitkan karya-karya Barat. Generasi elite intelektual pun lahir-modern, terpelajar dan terbaratkan, keadaan inilah yang mengakibatkan perubahan tersebut, dan kelompok kecil kaum elite-lah yang melaksanakan hal ini serta merupakan pewaris utama perubahan. Hasilnya adalah sederetan reformasi militer, administrasi, pendidikan ekoniomi, hukum dan sosial, yang sangat dipengaruhi dan ilhami oleh Barat untuk “MEMODERNKAN” masyarakat Islam. Basis Islam tradisional dan legitimasi masyarakat kaum Muslim perlahan-lahan berubah sejalan dengan makin disekularkannya ideology, hukum dan lembaga-lembaga negara yang berutang kepada model-model yang didatangkan dari Barat.

      Modernisasi melalui model-model Barat yang diaprikasikan oleh penguasa Muslim terutama motivasinya adalah keinginan untuk memperkuat dan memusatkan kekuasaan mereka, bukan untuk berbagi. Akibat utama modernisasi adalah timbulnya kaum elite baru dan perpecahan umat Islam, yang tampak dalam sistem-sistem pendidikan dan hukum. Koeksistensi sekolah agama tradisional dan sekolah secular modern, masing-masing dengan kurikulum, guru dan pendukungnya sendiri menghasilkan dua kelas dengan pandangan dunia yang berlainan; minoritas elite modern yang terbaratkan dan mayoritas yang lebih tradisional yang berpegang pada agama Islam. Proses ini juga mengikis dasar-dasar tradisional kekuasaan dan wewenang para pemimpin agama, karena kelas-kelas baru yang terdiri dari kaum elite modern yang terlatih menduduki posisi-posisi penting dalam pemerintahan, pendidikan dan hukum yang selama ini selalu berada di tangan para ulama.

      Di kalangan orientalis sendiri (Gibb dan Smith),menilai reaksi modernisasi yang dilakukan di dunia Islam lebih cenderung bersifat “Apologetis” terhadap Islam dari berbagai tantangan yang datang dari kaum kolonial dan misioneris. Kristen dengan menunjukkan keunggulan Islam atas peradaban barat, dan juga modernisasi dipandang sebagai “Romantisisme” atas kegemilangan peradaban Islam yang memaksa Barat untuk belajar di dunia Islam. Akan tetapi, sesudah itu Barat bangun dan maju, bahkan dapat mengalahkan dan mengusai dunia Islam sehingga menarik perhatian ulama dan pemikiran Islam untuk mengadopsi kemajuan Barat tersebut termasuk modernisasinya.

      Sehingga dengan demikian jelas dari perspektif histories harus diakui bahwa istilah modernisasi ini untuk pertama kali diperkenal bukan oleh sarjana Muslim didunia Islam melainkan oleh sarjana Barat dalam konteks gejala keagamaan atau lebih tepat disebut sebagai suatu aliran yang muncul dari tubuh agama Kristen dengan munculnya gerakan “pembacaan baru” terhadap doktrin kegamaan supaya terkesan lebih sesuai dengan kondisi yang sedang dihadapi,10 dan sangat dimungkin kalau para modernis awal di kalangan dunia Islam sangat terinspirasi dari gejolak modernisasi keagamaan yang dihembuskan oleh Martin Luther abad 16 -11. Dari data historis inilah nampaknya di kalangan sarjana Muslim tidak sepakat kolektif atau meminjam istilah Yusril “acapkali digunakan secara tidak seimbang dan jauh dari sikap netral”, kalau modernisasi itu dikaitkan apalagi dikatakan sesaui dengan ajaran Islam karena alasan sejarah bahwa lahirnya modernisasi pada awalnya bukan berasal dari “rahim” ajaran Islam melainkan muncul dan perkembangan keagamaan dikalangan Kristen,sehingga tidak mengherankan kalau umpamanya kalangan fundamentalis, seperti Maryam Jameelah menganggap modernisasi adalah usaha “Membaratkan” dan “Mensekulerkan” dengan menuduh tokoh modernis, seperti Afghani (1838-1897), Abduh (1849-1905) hingga Thaha Husayn sebagai agen Barat. Demikian juga sebaliknya di kalangan tokoh-tokoh yang menyebut dirinya sebagai modernis menuduh kalangan yang menolak modernisasi sebagai “orang-orang yang dangkal dan superficial dan anti intelektual, bahkan menurut kesimpulan ‘Ali Syariati “kemacetan pemikiran yang diakibatkan kalangan fundamental menghasilkan Islam dekaden”, sehingga dapat dikatakan konotasi modernisasi sangat tergantung kepada siapa yang menggunakan dan dalam konteks apa digunakan modernisasi tersebut. Penetrasi dan Perkembangan Modernisasi di Dunia Islam Dapat dipastikan bahwa penetrasi dan perkembangan modernisasi di dunia Islam terjadi setelah adanya koneksasi dengan Barat dalam rentang waktu yang sangat panjang. Setidaknya menurut Harun Nasution ada empat tahapan, di antaranya Koneksasi Islam dengan Barat

1        Koneksi yaitu permulaan abad ke-VII meluasnya wilayah Islam mencakup Yordania, Palestina, Suria, Irak dan Mesir yang ketika itu berada dibawah kekuasaan Kerajaan Bizantium yang berpusat di Barat.

2        Keneksasi Kedua, yaitu saat berkembangnya pemikiran rasional-ilmiah di kalangan sarjana Muslim yang menghasilkan filsafat dan sains Islam zaman klasik (650-1250 M).

3        Koneksasi Ketiga, yaitu saat terjadi transformasi intelektual Islam dengan Barat yang berakibat pemikiran rasional-ilmiah Islam dibawa ke Barat.

4        Keneksasi Keempat, yaitu saat terjadinya penetrasi dan penjajahan di dunia Islam yang bukan hanya melibatkan kekuasaan politik-meliter, tetapi juga pemikiran baru tentang sains dan teknologi modern.

5        Koneksasi keempat inilah diduga kuat mengilhami lahirnya modernisasi di dunia Islam dengan dikenalnya seperangkat gagasan Barat pada permulaan abad ke-XIX yang dalam sejarah Islam disebut sebagai permulaan priode modern. Koneksasi ini juga membawa fenomena baru bagi dunia Islam seperti diperkenalkannya rasionalisme, nasionalisme, demokrasi dan sebagainya yang semuanya menimbulkan “Goncangan Hebat” bagi para pemimpin dunia Islam, bahkan diantara sebahagiannya ada yang tertarik dengan gagasan yang “hembuskan” Barat tersebut yang secara pelan-pelan mulai mempelajarinya dan pada akhirnya berubaha untuk mewujudkannya dalam realitas kehidupan umat Islam.

      Demikian juga asal usul modernisasi didunia Islam menurut Hani Srous sebagaimana yang dikutip Yusril menyebutkan kerangka teori kebudayaan Arnold Toynbee, yaitu tentang “Teori Zealot” yang merupakan sikap yang bertitik tolak dari keyakinan bahwa salah satu cara terbaik untuk menghadapi tantangan dari luas adalah memperkuat kekuasaan yang sudah dimiliki untuk melawan tantangan ini, dan “Teori Herodian” ialah sebaliknya cara terbaik untuk melawan tantang yang datang dari luar, ialah dengan menguasai rahasia kekuatan lawan dan menggunakannya untuk menghadapi meraka.

Masih dalam perspektif Srous bahwa sangat besar kemungkinan kalau modernisasi yang ada didunia Islam adalah proses harmonisasi dari kedua teori diatas untuk mengalahkan Barat, yaitu mengalahkannya dengan menggunakan rahasia yang digunakannya seperti rasionalisme, sains, teknologi dan sistem organisasi harus dikuasasi oleh umat Islam.

Sedangkan Robert N. Bellah, masih dalam Yusril menambahkan bahwa modernisasi sendiri sebenarnya merupakan bagian dari watak doktrin Islam itu sendiri, karena menurutnya doktrin Islam itu sendiri adalah “modern” yang berwajah inklusif menuju kearah yang progresif, makanya gagasan modernisasi dalam bidang politik, seperti demokrasi sebenarnya telah lama ada dalam Islam, bahkan dipraktekkan dalam tradisi awal Islam. Memang semangat itu terlalu modern sehingga generasi pasca sahabat tidak mampu melaksanakannya.Demikian juga Nurcholish Madjid, menilai bahwa modernisasi juga sudah lama “bertahta” dalam tradisi Islam tepatnya dalam diri sekte Mu‘tazilah yang disebut-sebut pelopor modernisasi, atau juga sangat dimungkin ide modernisasi yang muncul didunia Islam bersumber dari pemikiran cemerlang Mu‘tazilah untuk menyebut contoh Afghani dan Abduh sangat terobsesi dengan rasionalismenya Mu‘tazilah yang serius dalam menelaah filsafat Yunani. Bahkan lebih jauh lagi pemikiran kedua tokoh modernis Islam tersebut ditransformasikan keseluruh dunia Islam termasuk diIndonesia, baik melalui kontak langsung atau karya-karya tokoh tersebut yang menjalar secara cepat.

2.4   Islam dan Negara Modern

      Pada pertengahan abad ke-20, sebagian besar dunia Islam telah mencapai kemerdekaan politik. Pengaruh dan daya pikat Barat yang terus-menerus merupakan bukti lebih sekularnya jalan yang dipilih oleh kebanyakan pemerintah dan kaum elite modern. Bahkan negara-negara di mana Islam mempunyai peran penting dalam gerakan-gerakan nasionalis, generasi baru yang berkuasa cenderung berorentasi lebih sekular. Jika seseorang memandang dunia Islam, maka ada tiga arah atau metode dalam hubungan antara agama dan negara yaitu: Islam, Sekular, Muslim. Seperti halnyaSaudi Arabiamemproklamasikan diri sebagai  negara Islam. Monarki Istana Saud mendasarkan legitimasinya pada Islam. Istana Saud telah membangun hubungan yang erat dengan ulama, yang terus-menerus menikmati posisi istimewa sebagai  penasihat pemerintah dan pejabat dalam sistem hukum dan pendidikan. Pemerintah Saud menggunakan Islam untuk melegitimasi politik dalam negeri maupun luar negeri.

      Turki satu-satunya peninggalan kerajaan Utsmaniyah yang ada yang merupakan contoh memilih negara secular yang membatasi agama hanya untuk kehidupan pribadi. Turki, di bawah kepemimpinan Kemal Ataturk (sebagai presiden, 1923-1938), melakukan proses Turkifikasi dan Westernisasi yang komprehensif, dan juga sekularisasi yang mengubah bahasa dan sejarah serta agama dan politik. Buku-buku berbahasa Inggris menggantikan yang berbahasa arab dan sejarah ditulis ulang, dengan menekan komponen-komponen Arabnya dan mengagungkan peninggalan Turkinya. Ataturk secara otokratis mengawasi sederetan pembaharu atau modern yang mencampakan sultan, menghapuskan kekhalifahan, menjatuhkan Islam, menutup pondok-pondok, melarang penggunaan jubah dan menggantikan lembaga-lembaga tradisional (hukum, pendidikan dan pemerintahan) dengan yang modern, suatu pilihan yang diilhami oleh Barat.

      Secara ideologis, kecenderungan umum, yang mengikuti model-model Barat, adalah membantu berkembangnnya bentuk-bentuk secular identitas dan solidaritas nasional dan membatasi agama dalam kehidupan pribadi dan bukannya kehidupan umum. Walaupun demikian, trend secular ini mulai berubah hampir tidak terasa pada tahun 60-an dan perubahan itu menjadi lebih jelas pada tahun 70-an dan 80-an. Sebagai  contoh Sudan, Mesir, Libya dan Iran yang menunjukkan bahwa penggunaan dan perwujudan Islam sangat bervariasi. Perbedaa-perbedaan dalam lingkungan sosial politik, kepemimpinan dan keadaan ekonomi menentukan bagaimana Islam diartikan dan diterapkan. Islam juga terbukti sebagai  tantangan dan ancaman sumber kesetabilan dan ketidakstabilan, legtimasi dan pemberontakan, dipergunakan oleh pemerintah-pemerintah pro-Barat maupun anti-Barat. Penguasa Militer dan juga bekas militer seperti Muammar Qaddafi dari Libya, Gaafar Muhammad Nimeiri dari Sudan, Anwar Sadat dari Mesir dan Zulkifri Ali Bhutto serta jenderal Zia Ul-haq dari Pakistan menggunakan Islam untuk memperkuat legitimasi mereka, mendapatkan dukungan yang luas dan membenarkan kebijaksanaan pemerintah. Kontrasnya, Habib Bourguiba dariTunisia dan SyahIran mengikuti jalan lebih modern dan sekular.

      Walaupun demikian, sebagian besar negara di dunia Islam mengambil posisi tengah. Mereka adalah negara-negara Muslim dalam arti bahwa mayoritas penduduk dan peninggalannya adalah Muslim, namun mereka mengikuti jalan pembangunan sekular. Sebagian besar melihat ke Barat untuk mencari basis bagi sistem pemerintahan konstitusional, hukum dan pendidikan modern, sementara itu mereka juga memasukan peraturan Islam ke dalam undang-undang, yang menuntut agar kepala negara adalah orang yang beragama Islam dan hukum Islam harus diakui sebagai  sumber hukum (walaupun hal ini dijalankan dalam kenyataan). Pemerintahan-pemerintahan ini berusaha mengontrol agama dengan cara membangun lembaga-lembaga keagamaan dalam birokrasi negara, dalam kementerian hukum, pendidikan dan urusan keagamaan. Dengan beberapa pengecualian, pada umumnya trend, harapan dan tujuan pemerintahan-pemerintahan kaum elite modern yang berpendidikan Barat adalah untuk menciptakan negara modern dengan paradigma Barat sebagai  modelnya.

Bab III

Kesimpulan

 

Dengan demikian modernisasi adalah upaya pembaharuan cara pandang termasuk keagamaan dengan inti pemikiran untuk berusaha merelevankan penafsiran dengan kondisi yang ada dan sedang berlangsung supaya benar-benar mampu menyahuti keberadaan zaman yang setiap saatnya mengalir untuk mencapai prestasi gemilang dalam membangun peradaban dianggap sebagaimana para modernis merupakan pengejentahan doktrin Islam itu sendiri, dan dapat dikatakan inilah yang memuluskan jalan modernisasi terjadi di dunia Islam. Oleh karena itu tidaklah berdasar anggapan bahwa umat Islam mundur, karena agama Islam merupakan penghamabat bagi kemajuan umat Islam lambat dalam geraknya mencapai perubahan dan kemajuan, bukan karena agama Islam, tetapi karena umat Islam masih terikat pada tradisi nenek moyang. Dalam tiap masyarakat tradisi memang merupakan penghambat besar bagi tiap usaha-usaha medernisasi, apalagi kalau tradisi itu dianggap mempunyai sifat sakral.

Daftar Pustaka

Esposito, L John. 1996. Ancaman Islam Mitos Atau Realitas?.    Bandung : Mizan

Abidin, Zainal. Cetakan ke 4 2006. Filsafat Manusia ( Memahami Manusia             Melalui Filsafat).Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Nasution, Harun. 2002. Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya.Jakarta : Penerbit UniversitasIndonesia (UI-Press).

Mustofa, A. 2004. Filsafat Islam.Bandung : CV Pustaka Setia.

Sharif, M. 1979. Alam Pikiran Islam.Bandung : CV Diponogoro

Nuruddin, Isa, Muhammad. 1995. Islam dan Filsafat Perental.      Bandung : Mizan

About these ads

One thought on “Makalah : Modernisasi dalam pandangan Islam

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s