MAKALAH KOMPETENSI DASAR KONSELOR

MAKALAH  KOMPETENSI DASAR KONSELOR 

Disusun Oleh,

KELOMPOK  7 PAI-A SMT VI

HUDA NURALAWIYAH (0801263) DESI KUSMIATI(0801010) MIFTAH ZAENUDIN ERES FASOHAH NAWAWI RUHIYAT    

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) TASIKMALAYA 2011

BAB I

PENDAHULUAN

 

Ukuran keberhasilan pembangunan suatu bangsa tidak hanya diukur dari tinggi pendapatan perkapita, tetapi yang lebih mendasar lagi adalah menyangkut kualitas manusianya. Hal ini tercermin dari makin tingginya tingkat pendapatan penduduk, makin tingginya tingkat kesehatan, makin tingginya tingkatnya pendapatan penduduk, serta semakin meratanya distribusi hasil pembangunan.

Pendidikan seharusnya diarahkan untuk membangun manusia seutuhnya, baik jasmani maupun rohani, dan mental maupun spiritual; memiliki kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual; memiliki kecakapan serta bertaqwa kepada Allah SWT dan berakhlak mulia. Inilah yang menjadi indikator dari kualitas sumber daya insani yang dibangun melalui pendidikan dalam rangka membangun bangsa Indonesia sebagai bangsa yang mandiri dan berdaya saing tinggi.

Dalam rangaka penyelenggaraan pendidikan tidak selamanya berjalan mulus, sehingga diperlukanlah seorang pembimbing ataupun konsultan untuk terus menjaga kestabilan hasil belajar. Memang, kaitannya tidak selamanya menyangkut pelajaran, banyak kaitan dengan kehidupannya, baik itu secara sosial maupun ekonomi.

Begitu pentingnya kehadiran seorang konsultan atau konselor bagi seorang peserta didik, maka dirasa perlu untk membahas bagaimana kompetensi seorang konselor, siapa yang berhak untuk menjadi konselor. Oleh karena itu, marilah kita bahas di bab selajutnya.

BAB II

PEMBAHASAN

Kompetensi merupakan hasil konstruksi kemampuan (compose skill) sehingga seseorang mampu; (1) melaksanakan pekerjaan sesuai peran, posisi atau profesi, (2) mentransfer ke tugas dan situasi baru, serta (3) melanjutkan studi dan mencapai kedewasaan diri.[1]

Keberadaan konselor dalam sistem pendidikan nasional dinyatakan sebagai salah satu kualifikasi pendidik, sejajar dengan kualifikasi guru, dosen, pamong belajar, tutor, widyaiswara, fasilitator, dan instruktur.[2]

Standar kualifikasi akademik dan kompetensi konselor diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 27 tahun 2008 tanggal 11 Juni 2008 . berikut ini adalah lampiran dalam permendiknas tersebut :

Konteks tugas konselor berada dalam kawasan pelayanan yang bertujuan mengembangkan potensi dan memandirikan konseli dalam pengambilan keputusan dan pilihan untuk mewujudkan kehidupan yang produktif, sejahtera, dan peduli kemaslahatan umum. Pelayanan dimaksud adalah pelayanan bimbingan dan konseling. Konselor adalah pengampu pelayanan ahli bimbingan dan konseling, terutama dalam jalur pendidikan formal dan nonformal.

Ekspektasi kinerja konselor dalam menyelenggarakan pelayanan ahli bimbingan dan konseling senantiasa digerakkan oleh motif altruistik, sikap empatik, menghormati keragaman, serta mengutamakan kepentingan konseli, dengan selalu mencermati dampak jangka panjang dari pelayanan yang diberikan.

Sosok utuh kompetensi konselor mencakup kompetensi akademik dan profesional sebagai satu keutuhan. Kompetensi akademik merupakan landasan ilmiah dari kiat pelaksanaan pelayanan profesional bimbingan dan konseling. Kompetensi akademik merupakan landasan bagi pengembangan kompetensi profesional, yang meliputi: (1) memahami secara mendalam konseli yang dilayani, (2) menguasai landasan dan kerangka teoretik bimbingan dan konseling, (3) menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling yang memandirikan, dan (4) mengembangkan pribadi dan profesionalitas konselor secara berkelanjutan.

Unjuk kerja konselor sangat dipengaruhi oleh kualitas penguasaan ke empat komptensi tersebut yang dilandasi oleh sikap, nilai, dan kecenderungan pribadi yang mendukung. Kompetensi akademik dan profesional konselor secara terintegrasi membangun keutuhan kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional.

Pembentukan kompetensi akademik konselor ini merupakan proses pendidikan formal jenjang strata satu (S-1) bidang Bimbingan dan Konseling, yang bermuara pada penganugerahan ijazah akademik Sarjana Pendidikan (S.Pd) bidang Bimbingan dan Konseling. Sedangkan kompetensi profesional merupakan penguasaan kiat penyelenggaraan bimbingan dan konseling yang memandirikan, yang ditumbuhkan serta diasah melalui latihan menerapkan kompetensi akademik yang telah diperoleh dalam konteks otentik Pendidikan Profesi Konselor yang berorientasi pada pengalaman dan kemampuan praktik lapangan, dan tamatannya memperoleh sertifikat profesi bimbingan dan konseling dengan gelar profesi Konselor, disingkat Kons.

Kualifikasi Akademik Konselor

Konselor adalah tenaga pendidik profesional yang telah menyelesaikan pendidikan akademik strata satu (S-1) program studi Bimbingan dan Konseling dan program Pendidikan Profesi Konselor dari perguruan tinggi penyelenggara program pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi. Sedangkan bagi individu yang menerima pelayanan profesi bimbingan dan konseling disebut konseli, dan pelayanan bimbingan dan konseling pada jalur pendidikan formal dan nonformal diselenggarakan oleh konselor.

Kualifikasi akademik konselor dalam satuan pendidikan pada jalur pendidikan formal dan nonformal adalah:

1. Sarjana pendidikan (S-1) dalam bidang Bimbingan dan Konseling.

2. Berpendidikan profesi konselor.

Kompetensi Konselor

Rumusan Standar Kompetensi Konselor telah dikembangkan dan dirumuskan atas dasar kerangka pikir yang menegaskan konteks tugas dan ekspektasi kinerja konselor. Namun bila ditata ke dalam empat kompetensi pendidik sebagaimana tertuang dalam PP 19/2005, maka rumusan kompetensi akademik dan profesional konselor dapat dipetakan dan dirumuskan ke dalam kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional sebagai berikut.

KOMPETENSI INTI KOMPETENSI
A. KOMPETENSI PEDAGOGIK
1. Menguasai teori dan praksis pendidikan 1.1 Menguasai ilmu pendidikan dan landasan keilmuannya

1.2 Mengimplementasikan prinsip-prinsip pendidikan dan proses pembelajaran

1.3 Menguasai landasan budaya dalam praksis pendidikan2. Mengaplikasikan perkembangan fisiologis dan psikologis serta perilaku konseli2.1 Mengaplikasikan kaidah-kaidah perilaku manusia, perkembangan fisik dan psikologis individu terhadap sasaran pelayanan bimbingan dan konseling dalam upaya pendidikan

2.2 Mengaplikasikan kaidah-kaidah kepribadian, individualitas dan perbedaan konseli terhadap sasaran pelayanan bimbingan dan konseling dalam upaya pendidikan

2.3 Mengaplikasikan kaidah-kaidah belajar terhadap sasaran pelayanan bimbingan dan konseling dalam upaya pendidikan

2.4 Mengaplikasikan kaidah-kaidah keberbakatan terhadap sasaran pelayanan bimbingan dan konseling dalam upaya pendidikan

2.5. Mengaplikasikan kaidah-kaidah kesehatan mental terhadap sasaran pelayanan bimbingan dan konseling dalam upaya pendidikan3. Menguasai esensi pelayanan bimbingan dan konseling dalam jalur, jenis, dan jenjang satuan pendidikan3.1 Menguasai esensi bimbingan dan konseling pada satuan jalur pendidikan formal, nonformal dan informalB. KOMPETENSI KEPRIBADIAN 4. Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa4.1 Menampilkan kepribadian yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa

4.2 Konsisten dalam menjalankan kehidupan beragama dan toleran terhadap pemeluk agama lain

4.3 Berakhlak mulia dan berbudi pekerti luhur5. Menghargai dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, individualitas dan kebebasan memilih5.1 Mengaplikasikan pandangan positif dan dinamis tentang manusia sebagai makhluk spiritual, bermoral, sosial, individual, dan berpotensi

5.2 Menghargai dan mengembangkan potensi positif individu pada umumnya dan konseli pada khususnya

5.3 Peduli terhadap kemaslahatan manusia pada umumnya dan konseli pada khususnya

5.4 Menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia sesuai dengan hak asasinya.

5.5 Toleran terhadap permasalahan konseli

5.6 Bersikap demokratis.6. Menunjukkan integritasdan stabilitas kepribadian yang kuat6.1 Menampilkan kepribadian dan perilaku yang terpuji (seperti berwibawa, jujur, sabar, ramah, dan konsisten )

6.2 Menampilkan emosi yang stabil.

6.3 Peka, bersikap empati, serta menghormati keragaman dan perubahan

6.4 Menampilkan toleransi tinggi terhadap konseli yang menghadapi stres dan frustasi7. Menampilkan kinerja berkualitas tinggi7.1 Menampilkan tindakan yang cerdas, kreatif, inovatif, dan produktif

7.2 Bersemangat, berdisiplin, dan mandiri

7.3 Berpenampilan menarik dan menyenangkan

7.4 Berkomunikasi secara efektifC. KOMPETENSI SOSIAL 8. Mengimplementasikan kolaborasi intern di tempat bekerja8.1 Memahami dasar, tujuan, organisasi, dan peran pihak-pihak lain (guru, wali kelas, pimpinan sekolah/madrasah, komite sekolah/madrasah) di tempat bekerja

8.2 Mengkomunikasikan dasar, tujuan, dan kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling kepada pihak-pihak lain di tempat bekerja

8.3 Bekerja sama dengan pihak-pihak terkait di dalam tempat bekerja (seperti guru, orang tua, tenaga administrasi)9. Berperan dalam organisasi dan kegiatan profesi bimbingan dan konseling9.1 Memahami dasar, tujuan, dan AD/ART organisasi profesi bimbingan dan konseling untuk pengembangan diri dan profesi

9.2 Menaati Kode Etik profesi bimbingan dan konseling

9.3 Aktif dalam organisasi profesi bimbingan dan konseling untuk pengembangan diri dan profesi10. Mengimplementasikan kolaborasi antarprofesi10.1 Mengkomunikasikan aspek-aspek profesional bimbingan dan konseling kepada organisasi profesi lain

10.2 Memahami peran organisasi profesi lain dan memanfaatkannya untuk suksesnya pelayanan bimbingan dan konseling

10.3 Bekerja dalam tim bersama tenaga paraprofesional dan profesional profesi lain.

10.4 Melaksanakan referal kepada ahli profesi lain sesuai dengan keperluanD. KOMPETENSI PROFESIONAL 11. Menguasai konsep dan praksis asesmen untuk memahami kondisi, kebutuhan, dan masalah konseli11.1 Menguasai hakikat asesmen

11.2 Memilih teknik asesmen, sesuai dengan kebutuhan pelayanan bimbingan dan konseling

11.3 Menyusun dan mengembangkan instrumen asesmen untuk keperluan bimbingan dan konseling

11.4 Mengadministrasikan asesmen untuk mengungkapkan masalah-masalah konseli.

11.5 Memilih dan mengadministrasikan teknik asesmen pengungkapan kemampuan dasar dan kecenderungan pribadi konseli.

11.6 Memilih dan mengadministrasikan instrumen untuk mengungkapkan kondisi aktual konseli berkaitan dengan lingkungan

11.7 Mengakses data dokumentasi tentang konseli dalam pelayanan bimbingan dan konseling

11.8 Menggunakan hasil asesmen dalam pelayanan bimbingan dan konseling dengan tepat

11.9 Menampilkan tanggung jawab profesional dalam praktik asesmen12. Menguasai kerangka teoretik dan praksis bimbingan dan konseling12.1 Mengaplikasikan hakikat pelayanan bimbingan dan konseling.

12.2 Mengaplikasikan arah profesi bimbingan dan konseling.

12.3 Mengaplikasikan dasar-dasar pelayanan bimbingan dan konseling.

12.4 Mengaplikasikan pelayanan bimbingan dan konseling sesuai kondisi dan tuntutan wilayah kerja.

12.5 Mengaplikasikan pendekatan /model/jenis pelayanan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling.

12.6 Mengaplikasikan dalam praktik format pelayanan bimbingan dan konseling.13. Merancang program Bimbingan dan Konseling13.1 Menganalisis kebutuhan konseli

13.2 Menyusun program bimbingan dan konseling yang berkelanjutan berdasar kebutuhan peserta didik secara komprehensif dengan pendekatan perkembangan

13.3 Menyusun rencana pelaksanaan program bimbingan dan konseling

13.4 Merencanakan sarana dan biaya penyelenggaraan program bimbingan dan konseling

14. Mengimplementasikan program Bimbingan dan Konseling yang komprehensif

14.1 Melaksanakan program bimbingan dan

konseling.

14.2 Melaksanakan pendekatan kolaboratif dalam pelayanan bimbingan dan konseling.

14.3 Memfasilitasi perkembangan akademik, karier, personal, dan sosial konseli

14.4 Mengelola sarana dan biaya program bimbingan dan konseling15. Menilai proses dan hasil kegiatan Bimbingan dan Konseling.15.1 Melakukan evaluasi hasil, proses, dan program bimbingan dan konseling

15.2 Melakukan penyesuaian proses pelayanan bimbingan dan konseling.

15.3Menginformasikan hasil pelaksanaan evaluasi pelayanan bimbingan dan konseling kepada pihak terkait

15.4 Menggunakan hasil pelaksanaan evaluasi untuk merevisi dan mengembangkan program bimbingan dan konseling16. Memiliki kesadaran dan komitmen terhadap etika profesional16.1 Memahami dan mengelola kekuatan dan keterbatasan pribadi dan profesional.

16.2 Menyelenggarakan pelayanan sesuai dengan kewenangan dan kode etik profesional konselor

16.3 Mempertahankan objektivitas dan menjaga agar tidak larut dengan masalah konseli.

16.4 Melaksanakan referal sesuai dengan keperluan

16.5 Peduli terhadap identitas profesional dan pengembangan profesi

16.6 Mendahulukan kepentingan konseli daripada kepentingan pribadi konselor

16.7 Menjaga kerahasiaan konseli17. Menguasai konsep dan praksis penelitian dalam bimbingan dan konseling17.1 Memahami berbagai jenis dan metode penelitian

17.2 Mampu merancang penelitian bimbingan dan konseling

17.3 Melaksaanakan penelitian bimbingan dan konseling

17.4 Memanfaatkan hasil penelitian dalam bimbingan dan konseling dengan mengakses jurnal pendidikan dan bimbingan dan konseling

BAB III

PENUTUP

Konselor adalah tenaga pendidik profesional yang telah menyelesaikan pendidikan akademik strata satu (S-1) program studi Bimbingan dan Konseling dan program Pendidikan Profesi Konselor dari perguruan tinggi penyelenggara program pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi.

Seorang konselor harus memenuhi 4 kopetensi dasar inti, yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional.

Kompetensi-kompetensi ini harus terpenuhi oleh seorang konselor, agar program-program konseling di sekolah ataupun institusi bisa berjalan dengan sangat baik.

 

Daftar Pustaka

Ahmadi, Abu & Supriono, Widodo. 2004. Psikologi Belajar. Jakarta: PT RINEKA CIPTA.

Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. (2007) Penataan Pendidikan Profesional Konselor dan Layanan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal. Jakarta: Depdiknas.

Prayitno dan Amti, Erman. (2004) Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineka Cipta.

Umar dan Sartono. 2001. Bimbingan dan Penyuluhan untuk fakultas Tarbiyah Komponen MKDK.  Bandung: Pustaka Setia.

Harris, 1995 dalam Ansyar, 2005. <http://ceboel.blogspot.com/2008/03/kompetensi-dasar-konselor-dan.html>

UU No. 20 Tahun 2003  Tentang SISDIKNAS


[2] UU No. 20 Tahun 2003 Pasal 1 Ayat 6

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s